x

Ketika pemenang mendekati titik tertinggi mendapatkan cahaya baru.

Iklan

Agus Sutisna

Penulis Indonesiana | Dosen | Pegiat Sosial
Bergabung Sejak: 6 September 2023

Selasa, 30 Januari 2024 18:21 WIB

Jangan Beri Kesempatan Golongan Ambisius Berkuasa

Dalam sejarah kontemporer kepemimpinan politik, frasa “meminta kekuasaan” dalam hadits Nabi dicirikan oleh ambisi berlebihan untuk menjadi penguasa, meminta rakyat untuk memilihnya menjadi pemimpin bahkan dilakukan dengan watak Machiavellian, menghalalkan segala cara.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Tinggal dalam hitungan pekan, bangsa ini akan membuat kesepakatan tentang siapa yang akan diberikan mandat untuk memimpin selama lima tahun ke depan. Agar tidak jatuh dua-tiga kali pada lubang yang sama layaknya keledai bodoh, para ahli dan bijak sudah banyak memberi saran pencerahan bagaimana dan apa saja faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan pilihan.

Dalam pendekatan kepemimpinan profetik, model kepemimpinan yang disematkan kepada Nabi Muhammad SAW, dikenal 4 (empat) karakter unggul yang harus dimiliki para pemimpin. Selayaknya empat hal itu pula yang menjadi pertimbangan rakyat untuk memberi mandat kepemimpinan, yakni Siddiq, Amanah, Tablig, dan Fathonah.

 Siddiq dan Amanah

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Siddiq artinya benar. Amanah artinya terpercaya, tidak khianat. Dalam konteks kepemimpinan kontemporer, Siddiq dan Amanah mewakili aspek kualitas kepatutan/kepantasan. Seorang pemimpin haruslah figur yang shidiq, benar. Benar sejak dalam pikiran, benar dalam perkataan, dan benar dalam perbuatan.

Selain Shidiq para pemimpin juga haruslah merupakan figur-figur yang Amanah, terpercaya. Bukan figur yang potensial atau (malah) sudah terbukti pernah berkhianat. Mengkhianati mandat yang diberikan rakyat kepadanya, mengkhianati negara yang harus diurusnya, serta mengingkari janji-janji yang diucapkannya saat mereka meminta dukungan.

Dalam terma populer, Shidiq dan Amanah berangkali dapat disetarakan dengan integritas. Kesatuan karakter yang utuh, yang menunjukan konsistensi antara pikiran, ucapan dan perbuatan berbasis hukum positif dan etika yang benar. Sekaligus dapat dipercaya, tidak mudah mengkhianati kepercayaan rakyat, serta tidak gampang melupakan janji-janji dalam memimpin dan dalam perilaku kepemimpinannya.

Tabligh dan Fathonah

Selain siddiq dan amanah, kepemimpinan profetik juga dicirikan oleh Tabligh dan Fathonah. Tabligh artinya kemampuan. Yakni kemampuan menyampaikan risalah wahyu kepada umat manusia. Tabligh ini adalah salah satu aspek kualitas yang dimiliki para Nabi dan Rasul. Tanpa kemampuan tabligh mustahil para Nabi dan Rasul mampu menyampaikan risalah wahyu dan membangun umatnya.

Seorang pemimpin haruslah figur yang memiliki kemampuan komunikasi yang unggul sekaligus aspiratif, Tabligh. Ia harus cakap mengomunikasikan gagasan, menjelaskan pikiran dan menguraikan program-programnya sebagai pemimpin. Sekaligus memiliki empatitas yang tinggi serta kemampuan membaca dan merespon asprasi rakyat dengan tepat.

Sedangkan Fathonah artinya cerdas. Komplek kualitas yang tidak hanya diukur oleh seberapa tinggi jenjang sekolah yang dicapainya, seberapa panjang berpengalaman mengimplementasikan kapasitas ilmu dan kecerdasannya. Tetapi juga kemampuan menggunakan nalar sehat dalam menghadapi setiap urusan sekaligus kemampuan mengendalikan emosinya sebagai manusia. 

Dalam terma populer dan kekinian, Tabligh dan Fathonah ini barangkali bisa disetarakan dengan azas Profesionalitas. Suatu kesatuan yang utuh, yang menunjukkan kapasitas keilmuan, keahlian dan pengalaman. Saekaligus kecakapan komunikasi dan empatitas yang tinggi dalam membaca, memahami dan merespon dengan positif setiap apsirasi rakyat dalam menjalankan kepemimpinannya.

Syahwat Kuasa

Di samping empat kriteria profetik tersebut di atas, ada satu hal yang tidak kalah penting bagi para pemilih untuk ditimbang dengan jernih. Yakni indikasi atau kecenderungan syahwat kekuasaan dari para kandidat pemimpin.

Pesan kuncinya: jangan memberikan mandat kekuasaan kepada siapapun yang meminta, dan jangan memberikan kesempatan kepada golongan ambisius berkuasa. Pesan ini disandarkan kepada hadits Nabi ketika beliau memberi nasihat kepada salah seorang sahabat, Abdurrahman bin Samurah:

Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kekuasaan, karena sesungguhnya jika engkau diberi kekuasaan tanpa memintanya, engkau akan ditolong untuk menjalankannya. Namun, jika engkau diberi kekuasaan karena memintanya, engkau akan dibebani dalam menjalankan kekuasaan tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam sejarah kontemporer kepemimpinan politik, frasa “meminta kekuasaan” itu dicirikan oleh ambisi berlebihan untuk menjadi penguasa, meminta rakyat untuk memilihnya menjadi pemimpin dengan watak Machiavellian, menghalalkan segala cara.

Watak Machiavellian itu kini mengejewantah secara vulgar di salah satu kubu Paslon Presiden-Wakil Presiden. Mereka bergerombol dalam barisan politik, dipersatukan oleh ambisi dan kepentingan yang sama: menghegemoni kekuasaan dengan cara-cara yang sejak awal sudah menabrak banyak rambu pembatas etik.

Mengelaborasi hadits ini, Al Muhallab dalam kitab Fathul Bari (Ibnu Hajar) menjelaskan, bahwa “Meminta kepemimpinan di sini tidak dibolehkan ketika seseorang tidak punya kapabilitas di dalamnya. Termasuk pula tidak dibolehkan jika saat masuk dalam kekuasaan, ia malah terjerumus dalam larangan-larangan agama. Namun siapa saja yang berusaha tawadhu’ (rendah hati), maka Allah akan meninggikan derajatnya.”

Wallahu a'lam bishawab

Ikuti tulisan menarik Agus Sutisna lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler