x

Seni Mural karya seniman dari Amazon Brazil

Iklan

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Selasa, 16 April 2024 06:45 WIB

Seniman Pribumi sebagai Orang Asing Dimana Saja adalah Jantung Venice Biennale

Kolumnis Julia Halperin menyebut seniman pribumi merupakan inti dari Orang Asing di Mana Saja, initi pameran utama Venice Biennale. Sedang kurator asal Brasil, Adriano Pedrosa, direktur artistik Biennale tahun ini, bahwa seniman pribumi "sering kali diperlakukan sebagai orang asing di negerinya sendiri."

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sebelum pengunjung memasuki galeri mana pun di Venice Biennale 2024, yang dibuka pada 20 April, para seniman pribumi akan mengumumkan kehadiran mereka. Sekelompok pelukis dari Amazon Brasil, MAHKU (Movimento dos Artistas Huni Kuin), akan menutupi fasad ruang pameran utama dengan mural yang rumit.

Lalu Inuuteq Storch, seniman Greenland dan Inuk pertama yang mewakili Denmark di festival seni internasional ini, akan memasang tanda bertuliskan Kalaallit Nunaat atau Greenland di atas pintu masuk paviliun.  Sebagaimana diketahui, Greenland telah menjadi negara yang memiliki pemerintahan sendiri di dalam Kerajaan Denmark sejak 1979. 

Paviliun Brasil di dekatnya telah berganti nama menjadi Paviliun Hãhãwpuá. Salah satu dari banyak istilah yang digunakan oleh penduduk asli untuk menggambarkan wilayah yang, setelah penjajahan, menjadi Brasil.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

"Ada aspek yang sangat politis dari kehadiran masyarakat adat di ruang artistik seperti Venice Biennale," ujar Denilson Baniwa, salah satu kurator Paviliun Hãhãwpuá.

"Tujuan kami adalah untuk menulis ulang sejarah dan menambahkan babak baru dalam sejarah seni."

Selain Paviliun Amerika Serikat, yang menampilkan karya seni Jeffrey Gibson, Venice Biennale menawarkan berbagai macam karya yang dihasilkan oleh seniman Pribumi, Suku Asli, dan Penduduk Asli di seluruh dunia. 

Kolumnis Julia Halperin dalam nytimes.com, menyebut seniman pribumi merupakan inti dari Orang Asing di Mana Saja, pameran utama Venice Biennale. Seperti yang dikatakan oleh kurator asal Brasil, Adriano Pedrosa, direktur artistik Biennale tahun ini, bahwa seniman pribumi "sering kali diperlakukan sebagai orang asing di negerinya sendiri."

Galeri pertama di Arsenale, bekas kompleks galangan kapal di Venesia, akan menjadi tuan rumah instalasi monumental dari Mataaho Collective, sebuah kelompok yang terdiri dari empat wanita Maori yang dikenal karena membuat patung serat berskala besar. Deretan 331 seniman ini juga mencakup seniman asli Amerika, Kay WalkingStick dan Emmi Whitehorse; seniman Yanomani dari Brasil, Joseca Mokahesi dan André Taniki; seniman asli Australia, Marlene Gilson dan Naminapu Maymuru-White; serta seniman Maori, Sandy Adsett dan Selwyn Wilson, yang dianggap sebagai salah satu pendiri Maori Modernism, yang meninggal pada tahun 2002.

Paviliun Australia

Archie Moore, dari Queensland, menghabiskan lebih dari empat tahun untuk menyusun silsilah keluarganya, yang kini sudah berabad-abad lamanya dan mencakup 3.484 orang. Kisah nenek moyangnya - Bigambul dan Kamilaroi dari pihak ibunya, Inggris dan Skotlandia dari pihak ayahnya - merupakan subjek dari pertunjukannya di Australia Pavilion, yang ia gambarkan sebagai "peta identitas holografis."

Moore, yang terkenal karena menciptakan kembali rumah masa kecilnya sebagai instalasi seni, adalah seniman First Nations kedua yang mewakili Australia di Biennale (setelah Tracey Moffatt pada tahun 2017). Dengan proyek ini, ia berkata, "Saya membawa anggota keluarga masa lalu ke masa kini dan masa depan di mana mereka dapat dilihat secara lebih manusiawi."

Inti dari pameran ini adalah mantel, atau jubah berbulu, yang dibuat oleh seniman dan aktivis Glicéria Tupinambá dengan bantuan komunitasnya di Bahia selatan. Hanya selusin mantel yang masih ada dari masa kolonial - dan, sampai saat ini, semuanya berada di museum Eropa.

Museum Nasional Denmark mengumumkan rencana untuk mengembalikan satu mantel ke Brasil tahun lalu. Glicéria belum pernah melihat mantel secara langsung sampai dia mengunjungi Paris pada tahun 2018. Di sana, ia menyadari bahwa nenek moyangnya menggunakan teknik jahitan yang sama untuk membuat jubah yang sekarang digunakan oleh suku Tupinambá untuk membuat jala.

Mantel kontemporer Glicéria akan dipasangkan dengan instalasi video karya Olinda Tupinambá dan karya Ziel Karapotó yang terbuat dari jaring ikan dan replika proyektil balistik. Proyek karya Glicéria, yang pada tahun 2010 dipenjara di Brasil selama beberapa bulan bersama bayinya yang berusia dua bulan setelah berbicara tentang kebrutalan polisi, memiliki kecenderungan politik yang eksplisit: Proyek ini mencakup surat-surat yang ditulis Glicéria kepada enam museum Eropa yang meminta pengembalian mantel koleksi mereka.

Paviliun Denmark tahun ini merepresentasikan banyak hal yang baru. Ini adalah pertama kalinya seorang seniman Greenland mewakili Denmark dan pertama kalinya presentasi negara ini didedikasikan sepenuhnya untuk fotografi. Pada usia 35 tahun, seniman Inuk, Inuuteq Storch, juga merupakan seniman termuda yang pernah mengambil alih ruang suci ini. Pengunjung akan menemukan kaleidoskop gambar, termasuk foto teman-teman Storch yang sedang merokok dan berkendara di sekitar kota kelahirannya, Sisimiut.

Tayangan slide arsip foto keluarga Storch yang sangat banyak; dan potret formal yang diambil oleh John Moller, seorang fotografer Greenland yang meninggal pada tahun 1935. Meskipun Greenland telah banyak difoto sejak pertengahan tahun 1800-an, Storch mencatat bahwa Greenland jarang sekali difoto oleh penduduknya sendiri. "Karya-karya saya merupakan sarana artistik saya untuk secara halus dan rumit mengubah persepsi yang ada tentang negara saya," katanya dalam sebuah pernyataan.

Negara termuda di Asia, Timor Leste, akan memulai debutnya di Venice Biennale dengan instalasi karya Maria Madeira. Lahir di desa Gleno, Madeira diterbangkan ke Portugal setelah Indonesia menginvasi Timor Leste pada tahun 1975. Dia menghabiskan tujuh tahun di sebuah kamp pengungsi di luar Lisbon sebelum keluarganya pindah ke Perth, Australia. (Timor Leste merayakan ulang tahun ke-25 kemerdekaannya dari Indonesia tahun ini). Instalasi Madeira - yang terbuat dari bahan-bahan termasuk tekstil tais dan pinang, stimulan kuno yang tumbuh di pohon palem asli - dibuat sebagai penghormatan terhadap ketangguhan perempuan Timor Leste.

Selama minggu pembukaan Biennale, Madeira akan tampil secara langsung, mencium dinding pameran untuk meninggalkan bekas lipstik dan menyanyikan lagu duka tradisional dalam bahasa asli Tetun. ***

Ikuti tulisan menarik Slamet Samsoerizal lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terkini