x

Ilusrtrasi Terowongan. Gambar oleh Danny See Chuan Seng dari Pixabay

Iklan

Indŕato Sumantoro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2020

Selasa, 16 April 2024 18:35 WIB

Harga Aspal Impor Melangit, Kita Tertawa atau Menangis?

Kenaikan harga minyak bumi dunia di atas US$ 100 per barel akibat perang sudah pernah terjadi pada 2008. Akibatnya harga aspal impor naik dua kali lipat.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Perang antara Iran dan Israel sudah berada di depan pelupuk mata. Iran telah menembakkan ribuan rudalnya ke Israel, sebagai balasan atas serangan Israel ke Kedutaan Besar Iran di Suriah. Iran menyatakan bahwa serangan rudal ke Israel itu merupakan tindakan membela diri. Sedangkan pihak Israel menyatakan bahwa serangan Iran ke Israel tersebut merupakan deklarasi untuk menyatakan perang.

Apabila perang antara Iran dan Israel akan benar-benar terjadi, maka menurut para ahli ekonomi dunia telah meramalkan bahwa harga minyak bumi dunia akan bisa naik di atas US$ 100 per barel. Dan apabila harga minyak bumi dunia akan naik di atas US$ 100 per barel, maka dampaknya terhadap perekonomian dunia akan sangat signifikan.

Mengingat Indonesia adalah salah satu negara pengimpor aspal terbesar di dunia, maka kenaikan harga minyak bumi dunia di atas US$ 100 per barel ini akan berdampak serius dan langsung kepada kenaikan harga aspal impor yang sangat besar. Adapun Indonesia mengimpor aspal per tahun sebesar 1,5 – 2 juta ton. Dengan akan adanya kenaikan harga aspal impor yang melangit akibat perang Iran dan Israel ini, maka keadaan ini akan mengakibatkan dan memicu semua pembangunan infrastruktur jalan-jalan di seluruh wilayah Indonesia akan mengalami gangguan, bahkan mungkin akan terhenti sama sekali. Termasuk pembangunan infrastruktur jalan-jalan di IKN.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kenaikan harga minyak bumi dunia di atas US$ 100 per barel akibat terjadinya perang, sejatinya sudah pernah terjadi juga pada tahun 2008. Akibatnya harga aspal impor naik dua kali lipat. Sehingga kontraktor-kontraktor pembangunan jalan-jalan banyak yang bangkrut, karena tidak mampu lagi melanjutkan proyek-proyek yang sedang dikerjakannya.

Akibat kenaikan harga minyak bumi dunia yang tinggi pada tahun 2008, dan telah mengakibatkan harga aspal impor yang melangit, pemerintah seharusnya pada saat itu sudah mulai sadar, bahwa sejatinya Indonesia telah memiliki harta karun aspal Buton yang jumlah depositnya sangat melimpah, yang akan mampu mensubstitusi aspal impor lebih dari 100 tahun. Aspal Buton yang selama ini telah ditinggalkan, dan digantikan oleh aspal impor, sekarang sudah mulai dilirik kembali oleh pemerintah. Kelihatannya pemerintah sudah mulai sadar bahwa untuk mengatasi masalah tingginya harga aspal impor yang tinggi, maka satu-satunya solusi terbaik adalah memproduksi aspal Buton ekstraksi yang kualitasnya setara dengan aspal impor.

Tetapi sangat disayangkan sekali, ternyata upaya-upaya pemerintah untuk membangkitkan aspal Buton dari keterpurukannya, hanya merupakan pencitraan dan dilaksanakan dengan setengah hati. Faktanya, Indonesia masih mengimpor aspal terus, meskipun harga aspal impor sangat mahal. Aspal Buton masih belum mampu untuk mensubstitusi aspal impor. Akhirnya pemerintah menganggap lebih baik Indonesia mengimpor aspal saja daripada harus memanfaatkan dan mengolah aspal Buton, karena sejatinya Indonesia sudah terlanjur merasa sangat nyaman dan nikmat dengan mengimpor aspal terus menerus dalam jumlah besar selama bertahun-tahun.

Keadaan yang selama ini selalu kita kuatirkan dan takutkan, akhirnya tiba dan akan menjadi kenyataan. Kenaikan harga minyak bumi dunia di atas US$ 100 per barel seperti yang telah terjadi pada tahun 2008, sekarang sedang mengancam kita. Apakah pemerintah Indonesia sudah siap untuk menghadapi malapetaka ini? Bukankah kita sudah pernah mempunyai pengalaman pahit yang serupa pada tahun 2008? Apa yang telah pemerintah lakukan untuk menghadapi kenaikan harga aspal impor yang melangit pada tahun 2008? Katanya ingin membangkitkan aspal Buton dari mati surinya? Tetapi mana buktinya? Mengapa pemerintah tidak mau belajar dari pengalaman kenaikan harga aspal impor yang tinggi di tahun 2008? Sekarang kita malah merasa bingung ketika akan menghadapi bencana yang sama.

Apabila sekarang harga aspal impor akan naik secara signifikan dengan naiknya harga minyak bumi dunia di atas US$ 100 per barel, apa sebaiknya yang harus pemerintah lakukan? Sebaiknya pemerintah tidak perlu melakukan apa-apa, seperti halnya yang telah terjadi pada tahun 2008. Peristiwa kenaikan harga aspal impor yang tinggi pada tahun 2008 merupakan peringatan keras bahwa pemerintah wajib membangkitkan aspal Buton untuk mensubstitusi aspal impor. Tetapi berhubung pada saat itu pemerintah tidak mau untuk mensubstitusi aspal impor dengan aspal Buton, maka solusinya adalah impor lagi, dan impor terus.

Apakah sekarang pemerintah sudah mulai sadar bahwa pada tahun 2008 pemerintah telah melakukan kesalahan besar, karena tidak mau membangkitkan aspal Buton dari tidur panjangnya untuk mensubstitusi aspal impor? Kalau masih belum sadar juga, mengapa sekarang kita harus repot-repot dan bersusah payah memikirkan potensi yang besar dari aspal Buton untuk mensubstitusi aspal impor?. Kita sebaiknya cuek saja. Bukankah selama ini pemerintah juga cuek saja kepada aspal Buton. Sekarang biarkalah pemerintah merasa panik, bingung, dan menyesali perbuatannya dengan akan adanya ancaman kenaikan harga aspal impor yang melangit.

Indonesia sudah 78 tahun merdeka. Dan Indonesia sudah 7 kali berganti presiden. Mirisnya, aspal Buton masih belum mampu mensubstitusi aspal impor. Kalimat ini merupakan teguran keras kepada pemerintah, karena selama ini pemerintah telah cuek terhadap potensi besar aspal Buton untuk mensubstitusi asal impor. Apabila sekarang harga aspal impor melangit, apakah pemerintah masih cuek kepada aspal Buton? Mari kita lihat dan buktikan sendiri. Apakah pemerintah hanya akan berupaya setengah hati seperti halnya pada tahun 2008? Atau sekarang pemerintah telah tobat nasuha, dan akan mencintai aspal Buton sepenuh hati?

Sadarkah pemerintah bahwa pada saat ini Indonesia sedang menghadapi masa krisis aspal akibat akan terjadi perang Iran dan Israel? Harga aspal impor akan melangit, dan kurs Dollar juga naik di atas Rp 16.000. Keadaan ini dapat dikiaskan bagaikan sebuah pepatah: “Sudah jatuh tertimpa tangga pula”. Sakitnya bukan kepalang. Tetapi inilah balasan karma, akibat dari pemerintah tidak pernah mau belajar dari peristiwa kenaikan harga aspal yang melangit pada tahun 2008. Siapa yang bersalah, maka dia yang harus berani bertanggung jawab dan menanggung dosa. Sekarang tiba saatnya bagi rakyat Indonesia untuk memilih. Apakah sebaiknya kita harus tertawa atau menangis melihat ancaman harga aspal impor yang akan melangit ini?

Ikuti tulisan menarik Indŕato Sumantoro lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terkini