x

Jokowi

Iklan

Indŕato Sumantoro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2020

Minggu, 21 April 2024 12:25 WIB

Jangan Mengulangi Kesalahan yang Sama Lagi, Pak Presiden

Pak Presiden, bagaimana kalau kita mulai memajukan Indonesia dengan berswasembada aspal, berswasembada beras, berswasempada pangan? Bukankah itu lebih mengutamakan produk-produk buatan Indonesia sendiri?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Imbas Perang Iran-Israel, Harga Minyak Bisa Tembus US$ 100/Barel. Demikian bunyi judul tulisan yang dikutip dari cnbcindonesia.com, tanggal 16 April 2024. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memprediksi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Oil Price (ICP) dapat mencapai US$ 100 per barel. Hal tersebut menyusul adanya eskalasi konflik di Timur Tengah antara Iran dan Israel.

Harga minyak bumi dunia mencapai US$ 100 per barel, terjadi bukan kali ini saja. Pada tahun 2008 dan 2022, harga minyak bumi dunia sudah pernah mencapai di atas US$ 100 per barel juga. Dan sejauh ini kelihatannya pemerintah masih dapat mengatasi masalah kenaikan harga BBM dengan baik. Tetapi bagaimana di tahun 2024 ini? Apakah pemerintah sekarang sudah mempersiapkan jurus-jurus handalannya untuk mengatasi masalah kenaikan BBM akibat konflik perang Iran dan Israel ini?

Kenaikan harga minyak bumi dunia di atas US$ 100 per barel secara otomatis akan memicu juga kenaikan harga aspal minyak impor. Indonesia mengimpor aspal sebesar 1,5-2 juta ton per tahun. Atau senilai Rp 20 triliun per tahun. Apakah pemerintah sudah siap mengahadapi kenaikan harga aspal impor yang signifikan ini? Indonesia sudah 45 tahun mengimpor aspal. Hal ini telah menunjukkan dengan jelas kepada rakyat bahwa kebergantungan Indonesia terhadap aspal impor sangat besar sekali.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Ketika berkunjung ke Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, pada tanggal 27 September 2022, pak Jokowi telah merasa kesal dan marah sekali. Mengapa Indonesia mengimpor aspal, padahal deposit aspal alam di Pulau Buton sebesar 662 juta ton?. Deposit aspal alam yang terbesar di dunia. Pertanyaan pak Jokowi ini seharusnya dijawab oleh pak Jokowi sendiri. Bukankah pak Jokowi adalah presiden RI? Lho, kok malah bertanya kepada rumput yang bergoyang? Tentu saja tidak akan ada yang menjawabnya.

Masalah Indonesia telah mengimpor aspal selama 45 tahun dalam jumlah besar, tidak akan dipermasalahkan oleh rakyat, apabila Indonesia tidak memiliki aspal Buton yang jumlah depositnya melimpah. Pertanyaan pak Jokowi: ”Mengapa Indonesia mengimpor aspal, padahal deposit aspal alam di Pulau Buton sebesar 662 juta ton?”. Pertanyaan ini merupakan pertanyaan rakyat juga sejak lama. Tetapi lucunya, pak Jokowi telah menjadi presiden RI sejak tahun 2014, tetapi mengapa pak Jokowi menanyakannya baru pada tahun 2022. Jadi selama ini pak Jokowi kemana saja, kok tidak tahu? Apakah pak Jokowi tidak tahu juga bahwa jalan-jalan Tol yang pak Jokowi telah bangun semuanya itu menggunakan aspal impor?

Ancaman harga aspal impor akan melangit, bukan ancaman yang main-main. Hal ini sudah merupakan peringatan keras yang ketiga kalinya. Kenaikan harga aspal impor yang melangit sudah pernah terjadi pada tahun 2008, Indonesia gagal membangkitkan pemanfaatan aspal Buton untuk mensubstistusi aspal impor. Kenaikan harga aspal impor yang melangit pernah terjadi juga pada tahun 2022, lagi-lagi Indonesia gagal membangkitkan pemanfaatan aspal Buton untuk mensubstistusi aspal impor. Bagaimana dengan kenaikan harga aspal impor yang melangit pada tahun 2024?. Apakah Indonesia akan gagal lagi membangkitkan pemanfaatan aspal Buton untuk mensubstitusi aspal impor?

Kalau Indonesia gagal lagi membangkitkan pemanfaatan aspal Buton untuk mensubstitusi aspal impor, alangkah malunya rakyat Indonesia. Indonesia sudah diberi kesempatan dua kali untuk membangkitkan pemanfaatan aspal Buton untuk mensubstitusi aspal impor. Masak sih kesempatan yang ketiga kali ini akan gagal lagi?. Indonesia memiliki 280 juta rakyat. Kemana muka dari 280 juta rakyat Indonesia harus dipalingkan, karena malu. Ternyata Indonesia lebih suka mengimpor aspal, daripada mau memanfaatkan aspal Buton untuk mensubstitusi aspal impor.

Pak Presiden, mohon jangan mengulangi kesalahan yang sama lagi seperti yang telah terjadi pada tahun 2008 dan 2022. Banyak orang Indonesia yang pintar dan cerdas. Banyak orang Indonesia yang mencintai negerinya. Banyak orang Indonesia yang mau berjuang dan berbakti untuk negara tercinta Indonesia. Berilah mereka kesempatan untuk membuktikan bahwa sejatinya Indonesia mampu memanfaatkan dan mengolah aspal Buton untuk mensubstitusi aspal impor.

Pak Presiden, mengimpor aspal itu menggunakan uang rakyat Indonesia. Janganlah uang rakyat Indonesia dihambur-hamburkan digunakan untuk menyejahterakan rakyat Singapura, China, Saudi Arabia, dll. Mereka sudah kaya raya. Sedangkan rakyat Indonesia masih banyak yang miskin. Mungkin mereka hanya makan sekali dalam sehari. Mereka miskin dan bodoh. Bagaimana Indonesia bisa maju menuju Indonesia Emas pada tahun 2024, kalau sebagian besar rakyat Indonesia masih miskin dan bodoh? Aspal Buton adalah karunia Allah SWT yang akan mampu memberikan berkah untuk kesejahteraan rakyat Indonesia. Kalau pak Presiden tidk percaya, ayo mari kita buktikan.

Pak Presiden, bagaimana kalau kita mulai memajuan Indonesia yang kita cintai ini dengan pemerintah mulai mau berupaya untuk berswasembada aspal, berswasembada beras, berswasempada pangan, dan lebih mengutamakan produk-produk buatan Indonesia sendiri?. Janganlah Indonesia sangat bergantung kepada produk-produk impor. Karena orang-orang Indonesia sendiri sejatinya sudah mampu untuk mandiri, seandainya diberi kesempatan. Sejatinya pemerintah sudah harus memiliki kemauan politik untuk mau mandiri dan berdiri di atas kaki sendiri demi untuk menyejahterakan rakyat Indonesia.

   

Ikuti tulisan menarik Indŕato Sumantoro lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler