x

Kolase Foto Tempo.com/untuk Cerpen Ekamatra

Iklan

Malik Ibnu Zaman

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 16 Oktober 2022

Senin, 27 Mei 2024 13:39 WIB

Pangeran Sabuk Lumping

Sudah beberapa hari langit Plered, Ibukota Mataram Islam tak seindah seperti biasanya, sang surya pun tidak memberikan sambutan yang hangat. Sebaliknya, langit dipenuhi awan hitam yang menggumpal, menciptakan suasana yang suram dan mendung.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sudah beberapa hari langit Plered, Ibukota Mataram Islam tak seindah seperti biasanya, sang surya pun tidak memberikan sambutan yang hangat. Sebaliknya, langit dipenuhi awan hitam yang menggumpal, menciptakan suasana yang suram dan mendung.

Gunung Merapi, sang paku Pulau Jawa pun diselimuti oleh tabir kabut putih yang tebal. Puncaknya pun tidak terlihat jelas dan hanya bayangan samar dari gunung itu yang terlihat di antara kerumunan kabut.

Para penduduk Plered, pun bertanya-tanya, mereka merasa was-was, gerangan apakah yang akan terjadi. Dalam hati kecil, mereka berharap agar gejala alam tersebut adalah gejala alam biasa, bukan sebuah pertanda akan terjadinya sebuah bencana besar. Kalaupun itu merupakan sebuah pertanda akan terjadinya bencana, mereka berdoa agar diberikan keselamatan dari Sang Pencipta.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

“Mbok, aku mau main dulu yah,? ujar Slamet, berlari keluar rumah sambil membawa pedang-pedangan kayu.

“Jangan jauh-jauh mainnya,” teriak Simbok dari belakang rumah.

Sementara itu di rumah Ki Lurah, beberapa orang secara diam-diam sedang membicarakan rajanya, Raden Mas Sayidin yang bergelar Sunan Amangkurat I. Mereka berbisik-bisik di sudut belakang rumah Pak Dusun, takut terdengar oleh telinga-telinga pengintai kerajaan yang bertebaran di mana-mana.

Mereka tahu bahwa jika obrolan ini terungkap, nasib mereka akan menjadi sangat suram, dituduh sebagai penghianat yang mengancam keamanan kerajaan, dengan hukuman mati sebagai akibatnya. Tak hanya itu seluruh anggota keluarga pun akan ikut terkena akibatnya, berakhir di tangan para algojo istana.

“Sebenarnya saya menyayangkan Sinuwun (Sultan Agung) menjatuhkan pilihannya kepada Raden Mas Sayidin, bukan kepada Pangeran Alit. Semua penduduk Ibukota Mataram pun tahu bagaimana kelakuan bejat sang putra mahkota, suka berburu wanita,” ujar Ki Lurah sambil mengelus-ngelus jenggotnya yang berwarna putih.

“Ki, apakah para penasehat Sinuwun tidak memberitahukan kelakuan bejat putra mahkota?,” tanya Ngalimin.

“Tentu sudah, Sinuwun mewajarkan hal itu,” jawab Ki Lurah.

Kali, yang dari tadi banyak diam, mengungkapkan bahwa sangat disayangkan sikap Sinuwun terhadap anaknya. Seharusnya sebagai seorang raja yang bercita-cita menyatukan Jawa, bisa bersikap tegas terhadap anaknya. Selain itu, ia malah membiarkan sang putra mahkota menjalin kedekatan dengan orang kulit putih.

“Kita tahu Mataram dua kali gagal menyerang Batavia. Tujuan Sinuwun membiarkan Raden Mas Sayidin dekat dengan orang kulit putih agar dia bisa belajar dari mereka. Sehingga kelak bisa menaklukan Batavia,” timpal Ki Lurah.

Lebih lanjut Ki Lurah mengatakan bahwa kemarin dia kedatangan keponakannya yang merupakan telik sandi dari Pangeran Trunojoyo. Sang keponakan memberi tahu bahwa dalam waktu dekat Pasukan Trunojoyo akan menyerang ibukota. Ia pun meminta agar sang paman segera mengungsi.

“Lalu apakah Ki Lurah akan mengungsi?” tanya Tirun.

“Ah saya sudah tua, saya mau tetap di sini saja,” jawab Ki Lurah.

“Lalu apa yang harus kami lakukan Ki?,” tanya Bagus.

“Setia pada Mataram lebih baik,” tegas Ki Lurah.

Setelah dari rumah Ki Lurah, Tirun dan Bagus tak langsung pulang ke rumah, mereka pergi ke Kali Progo. Dalam perjalanan tersebut Turin mempertanyakan kepada Bagus, Ki Lurah berada di kubu mana.

“Saya percaya kalau Ki Lurah masih setia dengan mataram,” jawab Bagas.

“Lalu kenapa ponakannya, Si Basyir memilih jadi mata-mata Trunojoyo,” ujar Tirun sambil setengah berteriak.

“Run, jangan berteriak, bahaya untuk Ki Lurah,” jawab Bagas sambil membekap mulut Tirun.

“Iya maaf”

“Ayah Basyir dulu prajurit Mataram, ia ikut dalam penyerbuan kedua ke Batavia. Kau tahu apa yang terjadi pada pasukan Mataram?”

“Sama seperti penyerbuan pertama, penyerbuan kedua juga mengalami kegagalan.”

“Serangan tersebut memang gagal, tetapi bukan itu maksudku. Sisa pasukan Mataram yang selamat, diperintahkan oleh Sinuwun untuk dihabisi dan ayah Basyir salah satu yang dihabisi. Mungkin karena itu akhirnya ia berkhianat.”

Saat sedang asyik mengobrol, tiba-tiba dari belakang mereka terdengar suara memanggil dengan penuh kegembiraan. Bagas dan Tirun berhenti dari percakapan mereka yang hangat. Dengan perlahan, mereka berbalik badan, wajah-wajah mereka dipenuhi dengan rasa kaget yang sama.

“Ternyata Pangeran Sabuk Lumping,” ujar Tirun berbisik.

“Tenang Rin, jangan takut, dia kan teman kita.”

“Kok wajah kalian takut gitu, kayak ketemu dedemit.”

“Nggak pangeran, kita kaget aja,” timpal Bagas.

“Jangan panggil pangeran, panggil saja nama, sama seperti dulu kalian panggil namaku.”

“Ah pangeran bisa saja, kan pangeran penerus Gusti Amangkurat, masa kita panggil nama Abdurrahman,” ucap Bagas.

“Aku ini cuman anak dari selir, penerusnya sudah jelas kan Mas Rahmat, aku pengin jadi ulama saja, mendidik umat.”

Ada rasa kegetiran di wajah Bagas, sangat disayangkan bukan Abdurrahman yang ditunjuk menjadi putra mahkota, padahal dia orang yang cerdas, trengginas, selain itu alim. Dirinya yakin jika raja Mataram memiliki ketiga hal itu, maka akan menjadi raja bijaksana dan dicintai rakyatnya.

“Tadi guruku meminta aku untuk kembali ke keraton, kalau bukan karena perintah guruku mana mungkin aku mau kembali,” ujarnya.

Pangeran Sabuk Lumping menceritakan bahwa di tengah perjalanan ia bertemu dengan Basyir. Pada pertemuan tersebut, Basyir mengatakan agar ia jangan pergi ke istana besok.

Bagas dan Tirun pun bingung mau berkata apa, apakah akan mengatakan sebenarnya kalau Basyir sekarang menjadi telik sandi Pangeran Trunojoyo. Kalau sampai Pangeran Sabuk Lumping tahu hal ini tentu akan sedih, sebab selain mereka, Basyir juga merupakan sahabat baik dari pangeran.

“Matahari sudah hampir tenggelam, lebih baik kita ke rumah kakekku saja, pangeran menginap saja bersama kami,” kata Bagas.

“Betul pangeran besok saja ke istananya, dua sahabatmu ini akan mengawal,” timpal Tirun.

Melewati malam di rumah Kakek Bagus, Pangeran Sabuk Lumping tidak membahas pertemuannya dengan Basyir. Mereka bertiga ngobrol soal masa kecil mereka ketika masih sama-sama nyantri di kaki Gunung Merapi.

Setelah Subuh mereka pun pergi dari rumah Kakek Bagus, tujuan mereka adalah Istana Plered. Menjelang Dzuhur, mereka sampai di gerbang pertama ibukota Plered, mereka bertiga heran, sebab tidak ada pasukan penjagaan.

Semakin melangkah lebih jauh lagi, bau anyir darah mulai tercium, prajurit penuh luka menganga berserakan di mana-mana. Dari kejauhan seregu prajurit berkuda menghampiri mereka, setelah semakin dekat ternyata Basyir pimpinannya.

“Apakah kita habisi juga mereka?” tanya salah seorang prajurit.

“Jangan mereka bertiga ini temanku,” jawab Basyir.

“Sebaiknya kalian menjauh dari Plered. Jangan teruskan perjalanan kalian, keraton sudah diduduki oleh Pasukan Trunojoyo. Sunan Amangkurat dan Raden Mas Rahmat sudah menyingkir dari keraton,” ungkap Basyir

Pangeran Sabuk Lumping pun masih bingung dengan situasi yang terjadi, barulah beberapa saat kemudian ia menyadari bahwa keraton telah diserbu oleh Pasukan Pangeran Trunojoyo dan sahabatnya telah menjadi telik sandi Pangeran Trunojoyo.

Berdasarkan informasi yang didapatkan, mereka tahu bahwa rombongan Sunan Amangkurat berada di Imogiri, mereka pun segera menyusul ke sana. Sesampainya di Imogiri, hampir saja  Pangeran Sabuk Lumping ditusuk keris oleh Raden Mas Rahmat. Ia mengira adiknya ikut terlibat dalam penyerbuan tersebut, sebab sahabatnya bernama Basyir ikut serta dalam penyerbuan.

Beruntung Bagas dan Tirun berhasil mencegahnya, mereka berdua menjelaskan bahwa Pangeran Sabuk Lumping tidak tahu menahu hal itu.

Akhirnya Pangeran Sabuk Lumping, Bagas, dan Tirun ikut serta dalam rombongan pelarian Sunan Amangkurat. Ketika sampai di daerah Wanayasa atau Ajibarang, Sunan Amangkurat I meninggal dunia, sebelum meninggal ia minta dimakamkan di samping gurunya, Tumenggung Danupaya di Tegal Arum, Tegal.

Ketika rombongan yang dipimpin oleh Adipati Anom yang membawa jasad Sunan Amangkurat I sampai di wilayah yang sekarang bernama Balapulang, mendapatkan kabar jika di depan ada pasukan Trunojoyo. Maka rombongan pun putar balik, ganti rute untuk sampai ke Tegal Arum yaitu melewati kaki Gunung Slamet.

Di Dusun Jejeg, di kaki Gunung Slamet, Pangeran Sabuk Lumping memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan, ia hendak mendirikan padepokan dan menyebarkan agama Islam di daerah tersebut. Bagas dan Turin pun juga ikut bersama Pangeran Sabuk Lumping.

Ikuti tulisan menarik Malik Ibnu Zaman lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler