x

Kolase Foto Tempo.com/untuk Cerpen Biomorfik

Iklan

Taufan S. Chandranegara

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Juni 2022

Selasa, 28 Mei 2024 07:13 WIB

Biomorfik

Panorama cerpen, imaji mengurai sel-sel otak agar tetap sehat walafiat. Tak ada pembaca tak ada seni susastra. Jelajah imajinasi.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

DONGENG LANGIT.
Sentir layar terkembang cahaya pembuka.
Musik: Metal symphony adegan berkisah.


Kalau langit terbalik mungkin 
hidup akan berjalan normal
Siapa mau jalan satu arah 
maju atau mundur tumbuh 
di antara aksioma anonim 
omong kosong berebutan 
marak mencari panggung


SUDUT LAIN DI PEREMPATAN JALAN.
Waktu kapan saja di mana saja.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Baru saja melakukan kejahatan. "Hah!" Apakah berencana sebuah perilaku kejahatan. "Yes! Sir!" Sekalipun belum dilakukan. "What!" Ini kegilaan paling gila. Belum terjadi kanibalisme, lantas dianggap telah melakukan kejahatan. "Yes! Sir!" Niat anda sudah ditulis malaikat; anda akan melakukan tindak pidana kejahatan.

"Loh! Tahu darimana?" Dari hati anda. 
"Baiklah. Kalau begitu saya makan hati saya." Wow! Itu lebih kejam dari khianat. 

"Hah!" Jangan sok terperangah. Sang waktu sudah tahu apa saja akan terjadi.
"Hahaha! Kamu mengarang." Tidak. Itu realitasnya.

"Pandir. Dasar kau pandir!" Kalau kesal mati saja.
"Kamu ini siapa sih!" Belum paham ya. Ada siapa di setiap sel darahmu. 

"Hahaha! Omong kosong!" Sejak anda lahir bersemayam di sel - sel darahmu. 
"Apakah ada di semua makhluk hidup?" Yes! Kalau tak puas dengan jawabannya, anda sila mati saja.

"Caranya?" Mulailah melahap setiap ruas jari-jarimu. Sampai seluruh tubuhmu melumatkan dirimu tak berbekas.
"Maksud anda menyiksa diri sendiri?" Yes, good point.

Kalau dia benar - benar seekor iblis, aku bunuh bisa enggak ya. Apa betul monyet iblis itu ada di setiap sel darah? Dasar bajingan tetap bajing loncat, berkelit kian kemari. "Kamu dimana? Kenapa tak bersuara lagi? Kecut ya. Mentalmu mengkerut ya. Hahaha sok mengaku jadi iblis. Mana wujudmu. Ayo! Muncul. Tampil dong dimuka publik. Sekarang. Di sini! Wahai iblis ompong."

Tak ada jawaban sampai ia kesal sendiri. Marah sendiri. Ngakak sendiri. Terpingkal-pingkal. Jumpalitan kegirangan. Ngakak sepuasnya. Ngoceh sepuasnya. Maki-maki sepuasnya. Menangis sepuasnya. Gila sepuasnya. "Jlep! Jlep! Jlep!" Setelahnya tak terdengar apapun, sekalipun sebuah desah.


SUDUT LAIN DI RUANGAN PUTIH.
Waktu kapan saja di mana saja.

Dia sudah menangis sepuasnya. Telaah tentang cinta mati beku di benaknya. Bagi dia cinta tak ubahnya berondong jagung kesiangan. Dia terlalu merasa banyak berkorban demi cintanya. Ehh! Halah, kok mau merasa seperti itu. Cinta ya cinta. Tamat ya sudah tutup buku ganti halaman baru. Ribet amat jadi manusia.

Praktis saja. Segala sesuatu ada awal tentu ada akhir. Nasib. Ra usah dipikir. Ngapain. Nasib hadir karena dipanggil oleh masalah dari you and you for you lah hai. The show must go on. "Hahaha Ndasmu benjut. Lah pripun. Apa sedih enggak boleh berkelanjutan." Nah, disitu letak komposisi masalah versus soal menyoal.

"Loh! Cintrong itu sebuah makna mendalam."
"Sumur kale mendalam."

"Aku serius."
"Aku multiserius."

"Beneran nih."
"Sangat bener banget."

"Okeh. Kita mengurut waktu."
"Waktu enggak bisa di urut sayang."

"Menelaah maksudku."
"Piye carane."

"Telaah waktu mulai dari ..."
"Awal mula soal menyoal."

"Pas mantap. Lanjut."
"Kemana?"

"Kisah berikutlah."
"Okeh." Menarik napas pelahan. Lantas menggigit kekasihnya sekuat-kuat. 

"Haduh biyung! Ampun!"
"Kapokmu kapan? Kalau diajak ngobrol soal cinta enggak pernah serius."

"Aduh sakit loh sampai ke uluhati."
"Halah!" Keduanya saling berpagut. Saling menggigit. Tubuh keduanya melemah matisuri. Mengering tak kinclong lagi. Meledak di bawah temaram gerhana biru. 


SUDUT LAIN SEBUAH TEMPAT.
Waktu kapan saja di mana saja.

Beberapa kali ia menghitung jemarinya, lengkap. Kangen ini menghimpit jiwa di antara kisah-kisah lain. Bumi seperti memanjang temaram. Selisik pikiran memulai satu dilema di  antara sejumlah kata dalam dialog di pikirannya. Apakah ia masih punya hati. Apakah ia punya sukma. Semestinya cahaya cinta itu masih ada.  

"Bunuh saja."
"Jangan."
"Bunuh saja."
"Jangan."

Entah kesal kepada siapa. Kalau saja tak banyak kisah simpang siur mungkin bisa memilih hal lebih estetis. Melukis pegunungan misalnya bukan dengan cara seperti ini. Satu hari satu jantung tak apa. Besok masih ada banyak hari. Jantung siapa lagi harus diburu. Bisa jantung setan atau macan tutul atau keledai.

Kapan bisa menghentikan semua ini. Mengapa semua hal terasa memanjang, tidak memendek. Menyebalkan ketika semua tampak tak sebagaimana semestinya. Benda-benda memanjang melengkung tak beraturan. Sejak kapan hal macam ini terjadi. Datang begitu saja nyelonong tak santun tak jua mau pergi.

Kalau aku berjalan terbalik apakah semua akan berubah menjadi normal. Dalam pemahaman apa disebut normal. Mungkin dalam standar hidup setiap manusia. Makhluk hidup berbeda-beda. Apa benar begitu. Tak pernah kudapati hal macam itu sejak aku memulai bisa memahami sekitar. Oh! Hidup ternyata seperti ini. 

Mungkin kalau ternyata sekarang ini sedang mati tapi seperti sedang hidup bagaimana membedakannya. Napas. Ya napas. Bernapas atau tidak mungkin terasa pada detak jantung. Satu. Dua. Tiga. Satu ... Seterusnya sama detik berjalan kedepan. Mengapa tidak berlaku mundur.

Apa kan terjadi kalau waktu berjalan mundur. Mungkin materi akan terbentuk lebih cepat. Menyusut. Memendek. Mungkin juga memanjang atau jungkir balik barangkali. Hahaha kalau segala sesuatu berjalan jungkir balik bola mata keluar masuk teling lepas sendiri beterbangan kian kemari.

Hihihi, mulut monyong tak menentu, hidung kembang kempis. Wajah lepas mungkin saja menghilang. Kepala tanpa wajah seluruh anggota tubuh berjalan tak semestinya. Masing-masing tentu akan terjadi tarik menarik dalam satu pola tak beraturan hahaha otak terbang entah kemana sesuka hati. Badan jalan-jalan ke planet lain. "Yes!"

Akhirnya bertemu sebuah ide. Seru banget. Melompat-lompat berebutan ingin menjadi the first. Hah! Berarti akan berlanjut. Ups! Tidak boleh. Bisa jadi bahaya laten provokatif.

"Bunuh saja."
"Jangan."
"Bunuh saja."
"Jangan."

*** 

Jakarta Indonesiana, Mei 27, 2024.
Salam NKRI Pancasila. Banyak kebaikan setiap hari.

Ikuti tulisan menarik Taufan S. Chandranegara lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler