x

Iklan

Otong Sulaeman

Dosen Filsafat Islam STAI SADRA
Bergabung Sejak: 27 Mei 2024

Selasa, 28 Mei 2024 07:27 WIB

Diplomasi Islam untuk Kedaulatan Laut Indonesia

Ada empat prinsip penting dalam ajaran Islam terkait pengelolaan sumber daya alam. Keempat prinsip tersebut bisa dijadikan sebagai landasan nilai bagi diplomasi NKRI menghadapi permasalahan Laut China Selatan, demi terjaganya kedaulatan laut Indonesia.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Seiring dengan munculnya ketegangan di Laut China Selatan, Indonesia perlu ambil bagian dalam menciptakan perdamaian melalui jalur diplomasi. Tulisan ini akan memberikan perspektif baru yang mungkin belum banyak dibahas publik, yaitu diplomasi Islam dalam menyikapi kondisi di Laut China Selatan. Menlu Retno Marsudi dalam Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri (PPTM) awal tahun 2024 mengatakan bahwa “diplomasi Indonesia menjunjung tinggi nilai dan prinsip yang tidak tergoyahkan.”

Salah satu nilai yang dijunjung tinggi bangsa Indonesia adalah relijiusitas dan kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa. Agama memainkan peran penting dalam membentuk budaya, norma sosial, dan bahkan politik di Indonesia Indonesia. Dengan demikian, perspektif agama sangat penting untuk dikemukakan saat bangsa Indonesia berhadapan dengan berbagai tantangan dan masalah, termasuk tantangan di Laut China Selatan.

Berikut ini adalah beberapa poin penting yang terkait dengan konflik Laut China Selatan dalam pandangan Islam. Ada empat prinsip penting yang terkait dengan isu ini: prinsip hak dan tanggung jawab manusia sebagai wakil Tuhan di muka bumi, prinsip kewajiban manusia untuk menjaga alam semesta, termasuk sumber daya laut, prinsip pengelolaan alam secara berkeadilan, serta prinsip kewajiban untuk mematuhi perjanjian, termasuk perjanjian internasional.

  1. Manusia, Wakil Tuhan di Muka Bumi
Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Dalam Islam, keyakinan bahwa manusia adalah wakil Tuhan (khalifah) di muka bumi merupakan suatu prinsip yang mendasar. Manusia dipercayakan oleh Tuhan dengan tanggung jawab untuk menjadi pengelola atau pemelihara bumi dan sumber dayanya. Artinya, manusia mempunyai kewajiban untuk mengatur urusan bumi secara adil, bertanggung jawab, dan berkelanjutan. Status sebagai wakil Tuhan memberikan manusia martabat dan tanggung jawab yang unik. Hal ini memperkuat gagasan bahwa kehidupan manusia adalah suci dan bahwa manusia mempunyai tujuan yang lebih tinggi di luar sekedar keberadaan materi.

Dihubungkan dengan masalah Laut China Selatan, Islam meyakini bahwa setiap orang yang terhubung dengan isu ini memiliki tugas dan tanggung jawab yang sakral, karena Laut China Selatan adalah bagian dari bumi, di mana manusia adalah wakil Tuhan untuk pengelolaan kawasan tersebut.

  1. Merusak Bumi Adalah Tindakan Tercela

Islam menekankan pentingnya menjaga alam, termasuk laut. Dalam Islam, perilaku orang yang melakukan tindakan merugikan dan merusak di muka bumi dipandang sangat negatif dan dianggap sebagai dosa besar. Al-Quran mengutuk perilaku seperti itu, dan menggambarkannya sebagai "kerusakan" (fasad) di muka bumi, sebuah tindakan yang sangat dibenci oleh Tuhan (Al-Baqarah: 205).

Sikap fasad ini mencakup perilaku yang di dalam ajaran Islam disebut sebagai “mengubah anugerah menjadi kutukan.” Islam menekankan bahwa berkah dimaksudkan untuk digunakan dan dinikmati dengan cara yang bertanggung jawab dan benar. Ketika orang menggunakan berkahnya untuk tujuan yang merugikan, tidak adil, atau tidak bermoral, mereka dianggap telah mengubah berkah tersebut menjadi kutukan. Sesuai dengan konsep khalifah di atas, bumi adalah amanah Tuhan bagi manusia. Menyebabkan kerusakan di muka bumi dipandang sebagai pengkhianatan terhadap amanah Ilahi.

Dihubungkan dengan permasalahan di Laut China Selatan, kita melihat bahwa kawasan tersebut pada dasarnya adalah kawasan yang sangat strategis serta kaya akan sumber daya alam. Artinya, Laut China Selatan adalah anugerah bagi manusia. Maka, jika kawasan ini berubah menjadi sumber konflik dan permusuhan; menjadi penyebab ketidakadilan dan keserakahan, hal tersebut menjadi contoh dari perilaku perusakan manusia atas alam semesta. Situasi ini adalah contoh bagaiman manusia telah mengubah anugerah menjadi kutukan.

  1. Pengelolaan Alam yang Berkeadilan dan Berkeseimbangan

Islam mengajarkan kewajiban manusia untuk mengelola sumber daya alam secara adil dan berkeseimbangan. Di dalam Al-Quran ditegaskan bahwa alam semesta ini diciptakan atas dasar keseimbangan dan keadilan, dan manusia dilarang untuk merusak keseimbangan tersebut (Ar-Rahman: 9). Prinsip keadilan dan keseimbangan ini berakar kepada prinsip-prinsip pengelolaan yang keberlanjutan, tanggung jawab kolektif untuk melestarikan lingkungan, serta memastikan distribusi sumber daya yang adil demi kepentingan semua orang.

Salah satu sebab mengapa Laut China Selatan menjadi sumber konflik adalah karena munculnya sikap sebagian aktor yang melanggar prinsip keadilan dan keseimbangan tersebut. Misalnya, penangkapan ikan secara ilegal menunjukkan bahwa kawasan tersebut dipandang sebagai kawasan yang bisa dieksploitasi secara semena-mena dan tidak ada upaya untuk memastikan adanya distribusi sumber daya yang adil bagi negara-negara yang berada di sekitar kawasan tersebut.

  1. Kepatuhan kepada Perjanjian

Islam sangat menekankan pentingnya menaati hukum dan menghormati perjanjian, baik pada tingkat individu maupun masyarakat. Hal ini didasarkan pada beberapa prinsip dan ajaran utama dalam tradisi Islam. Dalam Islam, membuat dan menepati janji dianggap sebagai tugas suci, karena mencerminkan sifat dapat dipercaya dan integritas individu. Sebaliknya, mengingkari janji atau melanggar perjanjian dipandang sebagai pelanggaran moral dan etika.

Konflik Laut China Selatan antara lain disebabkan adanya pelanggaran atas kesepakatan yang telah dibuat, yaitu Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS), oleh sebagian pihak. Fakta ini menegaskan betapa sangat pentingnya menghormati perjanjian sebagai cerminan integritas individu dan bangsa.

Melalui diplomasi berbasis nilai-nilai Islam ini, diharapkan Indonesia dapat mengadvokasi penyelesaian atas sengketa di Laut China Selatan demi menjaga kedaulatan bangsa dan kestabilan regional.

Ikuti tulisan menarik Otong Sulaeman lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler