Dua Detik Mengubah Hidup

Selasa, 18 Juni 2024 07:49 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Mulyanto Utomo mengalami kecelakaan yang menyebabkan bagian bawah tubuhnya lumpuh. Namun ia tetap tegar menghadapi hidup. Kesaksiannya menjadi penguat bagi mereka yang mengalami penderitaan.

Judul: 2 Detik Mengubah Hidup

Penulis: Mulyanto Utomo

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Tahun Terbit: 2012

Penerbit: Tiga Serangkai

Tebal: xx + 148

ISBN: 978-602-9212-35-8

 

Betapa kompleksnya permasalahan yang harus ditanggung seseorang yang mengalami cedera modula spinalis (CSM) atau spinal cord injury (SCI) ini. Komplikasi medis adalah hal biasa setelah terkena SCI dan manajemen mereka bisa saja berbeda antara satu orang dengan yang lainnya, antara mereka yang masih bisa menjalani hidup dan/atau mereka yang memilih kematian sebelum waktunya alias bunuh diri.

Apa yang dituliskan oleh Mulyanto Utomo di halaman 57 di atas sungguhlah sangat nyata. Kehilangan fungsi separoh bagian tubuh bisa membuat seseorang frustasi dan memilih untuk mengakhiri hidup karena tak bisa menahan penderitaan. Betapa tidak. Untuk bergerak sendiri tak lagi bisa. Bahkan untuk melakukan kegiatan rutin seperti kencing dan buang air besar harus dibantu orang lain.

Namun Mulyanto Utomo memilih untuk bertahan dan bersaksi betapa hidup itu tetap berharga.

Upaya kerasnya untuk menjadi sembuh, kepasrahannya kepada Sang Khaliq untuk menerima dan semangatnya untuk berbagi bahwa memperjuangkan hidup itu penting, sangat menginspirasi siapa saja yang membutuhkan booster dalam menghadapi penderitaan.

Perjuangan Mulyanto Utomo yang ditulisnya dalam buku ini sungguh bisa menguatkan siapa saja yang sedang mengalami permasalahan pada fisiknya. Jangan pernah menyerah. Bahkan ketika tubuh kita dikalahkan oleh sakit, kita tetap bisa berkontribusi bagi keluarga, sahabat dan manusia lain.

Mulyanto Utomo mengalami kecelakaan yang mengakibatkan separoh bagian tubuhnya tak bisa berfungsi. Ia tergencet mobil KIJANG INOVA yang mundur tanpa disadarinya. Bagian belakang mobil menabrak tubuhnya menggencetnya ke tembok sehingga tulang belakangnya patah.

Upaya medis dilakukan untuk menyambung kembali tulang yang patah. Bahkan operasi dilakukan sampai 2 X. Upaya untuk memfungsikan kembali syaraf-syaraf yang rusak karena tulang belakang yang patah dilakukan dengan berbagai upaya.

Mulyanto mengisahkan bagaimana upaya medis telah dilakukan di ruang operasi, di ruang rehabilitasi dan upaya latihan fisik yang sangat sulit dan menyakitkan.. Upaya yang juga sekaligus menguras tabungan.

Buku ini bukan hanya menjelaskan proses-proses yang dilalui oleh Pimpinan Redaksi Harian SOLOPOS secara medis, tetapi juga ungkapan rasa takutnya menghadapi segala akibatnya. Ia tahu bahwa ia akan lumpuh. Ia tahu bahwa kehidupan selanjutnya akan membutuhkan bantuan orang lain. Hal itu sungguh menakutkan. Namun ia berhasil melawannya dan terus berjuang.

Mulyanto mengisahkan betapa istrinya, anak-anaknya, keluarga besarnya, teman-temannya, kolega di kantornya semua memberi perhatian dan mendukung upaya yang dilakukan untuk sembuh. Melalui penderitaan Mulyanto bisa melihat kasih dari banyak orang kepada dirinya. Kasih dari banyak orang ini membuat ia kuat.

Ketegaran Mulyoto dan keluarganya dalam menghadapi hidup kian bertambah ketika beban ekonomi semakin besar. Akibat kelumpuhan yang dideritanya, Mulyoto diberhentikan sebagai Pimpinan Redaksi dan diberi jabatan sebagai Redaktur Senior yang jabatannya jauh dibawah posisi Pemred. Dalam kondisi lumpuh ia kehilangan fasilitas mobil dansopir. Ia harus berupaya untuk membiayai sendiri mobilitasnya. Sedih? Tentu. Namun Ia tidak menyerah.

Apa yang disaksikan oleh Mulyoto dalam buku ini sungguh sebuah kesaksian yang luar biasa. Keputusannya untuk tetap berjuang mempertahankan hidup dan berbagi optimisme adalah berkah bagi siapapun yang membaca buku karyanya ini. 841

Bagikan Artikel Ini
img-content
Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler