x

Sindang PBB

Iklan

Robbi Herfandi

Mahasiswa Hubungan Internasional, Universitas Andalas
Bergabung Sejak: 2 Juli 2024

Kamis, 4 Juli 2024 11:49 WIB

Mencari Hak Azasi Manusia dan Keadilan Global untuk Palestina

Nation state adalah suatu konsep politik yang berisikan sejarah, budaya, agama yang dihimpun dan diatur oleh negara melalui hukum (self rule) daan undang-undang atau bisa juga dimaknai dengan wadah berbangsa.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Nation State sebutan yang terbagi dari dua kata yaitu Nation yang bermakna wilayah dengan isi sejarah, budaya dan agama. Sedangkan State adalah suatu sistem yang mengatur nation yang berada di dalamnya, sering kita sebut dengan negara. Jadi dapat disimpulkan nation state adalah suatu konsep politik yang berisikan sejarah, budaya, agama yang dihimpun dan diatur oleh negara melalui hukum (self rule) daan undang-undang atau bisa juga dimaknai dengan wadah berbangsa.

Munculnya negara bangsa sebenarnya tidak terlepas dari dialektika intelelektual yang ingin melepaskan diri dari satu hegemoni tunggal yaitu hegemoni gereja, sehingga menimbulkan kegoncangan dan terbentuknyalah kedaulatan yang berlandaskan teritorial dan kepemilikan yang telah tersebar, kita lihat dan rasakan hingga hari ini.

Negara bangsa tidak terlepas dari gerakan nasionalisme atau cinta bangsa sehingga banyaknya memproduksi teks dan perkataan seperti melindungi kedaulatan, menjaga kedaulatan dan mempertahankan kedaulatan, tapi realitanya tidak hanya sekedar teks dan perkataan, melainkan juga praktek yang mampu kita lihat dari segi pertahanan seperti: tentara, kapal perang, pesawat perang dan juga kekuatan cyber, bahkan banyak negara meningkatkan anggaran pertahanan sebagai upaya gerakan kongret nasionalisme. Agar sejarah lama tidak terulang kembali yaitu kolonialisme.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Melihat akan hal itu tentunya nasionalisme ibarat mati dan hidup atau bisa merujuk ke tagline Indonesia adalah "NKRI Harga Mati" semenjak adanya konsep tersebut, negara akan cenderung melakukan hal yang sama dengan teks dan perkataan berbeda, namun, pemaknaannya yang sama seperti yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina, Russia terhadap Ukraina dan Perang lainya antar negara yang telah kita lihat sebagaimana sejarah nya. 

Dengan adanya sistem kedaulatan atau kepemilikan yang sering diilhami sebagai wujud cinta tanah air dengan menjaga dan mempertahankannya, tentu hal semacam ini sebagai konstruksi positif di dalam pola pikiran negara, namun adanya sikap sinisme dengan negara lain, menyebabkan timbulnya kompetisi, selfish, dan agresif, "Melihat pada zaman pra sejarah juga melakukan hal sama dan pola yang tidak jauh berbeda pada waktu berburu pengumpul, dengan tradisi chaos komunal yang satu dengan yang lain sana sini dalam bentuk pertahanan pula, kayaknya kalau kita hadapkan pada hari ini adalah bentuk yang lain secara modern dengan kendaraan yang berbeda pula.

Kedaulatan yang sering kita artikan sebagai seni hak dari semua negara yang ekslusif, dengan wujud nasionalisme yang selalu menyinari seluruh negara. 

Melihat banyak negara melakukan pemaknaan sama di masing-masing negara, maka timbul sikap saling sinisme satu sama lain agar konsep kedaulatan dapat dilanggengkan sebagaimana penulis telah jabarkan di atas (meningkatkan angaran pertahanan).

Melihat realitas semacam itu, tentunya dunia dalam kondisi yang sangat anarki dan potensial chaos satu sama lain, walau jika merujuk kepada teori realisme yaitu balancing of power, mungkin perang secara aktif dapat diminimalisir. Tapi rasanya kita telah kembali kepada HI tradisional, Serigala bisa memakan serigala yang lainya, acapkali institusi dan hukum kian tidak berkutik Terhadap perilaku sebuah negara kalau sudah berbicara kedaulatan yang menjadi sakral semenjak mereka mengenal kedaulatan, terlebih lagi negara-negara punya kekuatan besar memiliki wewenang atas semua itu tidaklah tepat rasanya ketika juga melanggengkan ketidakpatuhan terhadap Hukum Humaniter Internasional dan Institusi Internasional yang dimana di produksi oleh liberalisme itu sendiri pun tidak terlepas dari Hak Azasi Manusia juga dibicarakan. Maka perlu adanya kesadaran atau kesepakan ulang bagaimana esensi Institusi Internasional dan Hukum Humaniter Internasional itu dihadirkan.

Seperti Israel dan Palestina isu yang belum berkesudahan selama hampir satu abad ini.

Pada tanggal 7 Oktober 2023 Hamas melancarkan serangan ke wilayah Israel, sehingga mengakibatkan manusia tewas mencapai 1.139 orang. Melihat kejadian tersebut Israel merespon dengan genosida serangan Hamas, sehingga menyebabkan kematian 37.877 jiwa semenjak serangan tersebut. Kementerian Kesehatan di Gaza itu menambahkan bahwa sekitar 86.377 orang lainnya terluka dalam serangan itu. Lldi pihak palestina, dengan dalih israel kembali menyerang adalah wujud nasionalisme yang selalu digadang-gadangkan dan munculnya teks (self defense) dari pihak Israel karena adanya Boomerang kejadian di masa lampau yaitu Halocaust, terlepas dari Halocaust, bagaimana keadilan untuk palestina selama melampaui setengah abad ini? , meskipun ICJ dan ICC sudah memberikan peringatan masih saja tetap teguh terhadap keyakinan nya. Pembicaraan para pemimpin Israel tentang Palestina dan apa yang ingin mereka lakukan di Gaza sungguh mengejutkan, pun demikian terutama jika kita mempertimbangkan dan melihat bahwa beberapa pemimpin ini juga terus-menerus berbicara tentang kengerian Holocaust. Memang benar, retorika mereka telah membuat pakar Holocaust terkemuka kelahiran Israel, Omar Bartov, menyimpulkan bahwa Israel sedang hidup melalui "masa genosida". Peneliti Holocaust dan penelitian genosida lainnya juga telah mengeluarkan peringatan serupa. 

Secara khusus, para pemimpin Israel biasa menyebut orang Palestina sebagai "hewan manusia", "hewan manusia", dan "hewan non-manusia yang mengerikan". Seperti yang dijelaskan oleh Presiden Israel Isaac Herzog, para pemimpinnya memikirkan seluruh warga Palestina, bukan hanya Hamas: seluruh bangsa, katanya, bertanggung jawab. Tidak mengherankan, seperti yang dilaporkan New York Times, seruan untuk “meratakan”, “eliminasi” atau “pemusnahan” Gaza adalah bagian dari wacana normal Israel. Seorang pensiunan jenderal IDF, yang mengatakan bahwa “Gaza adalah tempat di mana tidak ada seorang pun yang dapat tinggal,” juga mencatat bahwa “epidemi besar di bagian selatan Jalur Gaza membawa kemenangan semakin dekat.” Selain itu, para menteri Israel mengusulkan untuk menjatuhkan senjata nuklir di Gaza. Pernyataan-pernyataan ini tidak dibuat oleh ekstremis individu, namun oleh anggota eilite pemerintah Israel. Dan itu juga di narasikan oleh Mantan bakal calon presiden Amerika Serikat, Nikki Haley, menuliskan kata 'habisi mereka' di rudal Israel. Haley menuliskan itu saat berada di perbatasan Israel-Lebanon. "Habisi mereka" itu yang dituliskan oleh eks Duta Besar Nikki Haley," kata Dannon lewat unggahannya di X pada Selasa (29/5), seperti dikutip dari AFP. Dan itu diperkuat ketika rudal-rudal Israel menghantam dan menargetkan Rumah Sakit, padahal rumah sakit adalah pertolongan pertama untuk kehidupan keberlanjutan bagi masyarakat palestina. 

Dengan serangan Hamas, Netanyahu terus berdalih memburu dan punya ambisi yang kuat untuk menghukum hamas, namun, banyak anak-anak dan masyarakat palestina yang telah dikorbankan tanpa pandang bulu. Dan sangat mengherankan penyerangan di Rafah pada 7 Mei 2024 secara membabi buta pun dilakukan, dengan berdalih Rafah adalah benteng terakhir bagi Hamas, yang fakta nya Rafah adalah tempat pengungsian terakhir untuk hidup bagi rakyat Palestina, Keliru jika para penguasa berpikir bahwa perdamaian akan tercapai menyusul kekalahan salah satu kubu dalam sebuah perang, para penguasa yang memosisikan kekerasan sebagai alat untuk mewujudkan kekuasaan lupa bahwa akhir dari sebuah perang bukanlah perdamaian Justru kekerasan yang akan menghancurkan manusia.

'Sejarah' adalah alat untuk membebaskan manusia dan bukan alat untuk mengikat manusia alat untuk membuat kesepakatan baru, bukan untuk melanggengkan konflik lama 'Sejarah' bukanlah untuk mengingat masa lalu, tetapi untuk terbebas darinya. 

Pun demikian, Negara Demokrasi seperti AS yang menggadangkan konsep HAM tapi, selalu mem Veto palestina di PBB supaya tidak menjadi anggota PBB. tentu dipertanyakan ulang apa esensi HAM menurut AS? sampai-sampai HAM Palestina berbeda dengan HAM Ukraina. Apakah HAM hanya sebuah komoditas untuk mencapai kepentingan terselubung?

Realitas semacam ini perlu adanya sebuah kesadaran, apa urgensi dari kehidupan manusia, karena manusia itu bukanlah angka statistik yang hanya bisa dilihat dan dihitung, tapi, manusia adalah hidup dengan makna, perlu untuk di selami dan di dalami, itulah esensi kehidupan manusia agar dapat untuk memahami apa itu manusia dan itulah inti Hak Azasi Manusia yang harus dipandang secara Universal, Kedaulatan yang sering kita pandang sebagai seni hak dari semua negara yang ekslusif, mustinya harus dilihat dan dipahami konsep ini merupakan suatu seni pengendalian cinta yang berorientasi kepada ketidakberlebihan, sehingga bisa melihat sudut manapun, secara tidak sadar akan muncul kebijaksanaan dalam mengatur hasrat. Hasrat adalah untuk kemajuan peradaban, tanpa hasrat kemajuan tidak akan pernah ada, maka perlu membedakan mana yang hasrat yang buruk dan baik, dan disitulah letak seni pengendalian hasrat dibutuhkan.

Meminjam perkataan seorang Psikiater dan Neurolog Austria yang selamat dari korban Halocaust "Kita harus menjadi idealis dalam suatu cara, karena demikian kita menjadi realis sejati, yang sebenarnya” (Victor Frankl)

Melihat penjabaran yang penulis uraikan diatas dengan adanya teks, percakapan, dan gerakan nasionalisme, maka tidak akan pernah lepas dari sikap saling sinisme, agresif, kompetitif, dan selfish, maka respons dari realitas tersebut adalah perlunya kesadaran utuh dan penuh untuk menerapkan landasan hukum salus populi suprema lex esto (Keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi) dan hadirkan kembali peran Institusi Internasional atau pun Hukum Humaniter Internasional yang berkeadilan untuk melampaui hasrat buruk dan Kedaulatan Negara. Berlaku bagi seluruh negara tanpa terkecuali. Stop Genosida Now! 

 

Bacaan Lanjutan

https://mearsheimer.substack.com/p/death-and-destruction-in-gaza

 

Ikuti tulisan menarik Robbi Herfandi lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler