x

Paulo Coelho. guardian.co.uk

Iklan

Syiqqil Arofat

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Kritik Sastra: The Alchemist

The Alchemist, novel karya Paulo Coelho, merupakan novel bestseller internasional yang telah diterjemahkan ke dalam 56 bahasa dan terjual lebih dari 65 juta kopi. Melalui novel ini, Coelho tidak hanya memberikan menginspirasi pembaca untuk meraih mimpinya

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Intro

Sang Alchemist mengawali petualangannya dari mimpi, sebagai jalan hidupnya: sebuah takdir yang tertulis. Dalam perjalanan, dia menemukan pertanda-pertanda yang menggiringnya untuk mencapai mimpi itu. "Kalau seseorang sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, seisi jagad raya bahu membahu membantu orang itu mewujudkan impiannya," kata Alchemist. Itulah inti ajaran dari novel ini yang menginspirasi banyak pembaca, sehingga menjadi bestseller internasional. (http://en.wikipedia.org/wiki/The_Alchemist_(novel)

Dalam petualangan itu, Sang Alchemist memahami bagaimana kehidupan mampu berevolusi menjadi lebih baik; timah menjadi emas. Proses itu lebih jauh mengantarkan pemahamannya terhadap rahasia kehidupan, takdir dan cinta. Akhirnya, Sang Alchemist mampu menembus Jiwa Dunia, Karya Agung, dan Tuhan. Namun, ada beberapa hal yang luput disadari oleh Alchemist.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Tentang Sejarah

Alchemist bermimpi tentang harta karun yang ada di piramida-piramida Mesir. Tempat itu dianggapnya paling indah dan ditetapkannya sebagai takdir yang harus dilalui. Di situ pula air matanya menetes, setelah mengalami berbagai cobaan dan tantangan. Pertanda-pertanda selalu mengarahkannya untuk mencapai takdirnya; menemukan harta karun itu.

Anehnya, bagaimana Alchemist bisa yakin kalau mimpi itu adalah takdir akhir yang ditujunya, bukan sebagai sebuah pertanda awal yang menggiringnya pada pertanda-pertanda lain dan kemudian mengantarkannya pada takdir misterius yang tak tentu bagaimana dan di mana. Bagaimana kalau orang yang ditemuinya saat menggali pasir menyatakan bahwa harta karun itu berada di Nusantara dan karenanya harus menyeberangi samudera yang jauh lebih ganas ketimbang padang pasir. Toh, banyak situs-situs historis di Indonesia tidak kalah indah dari piramida-piramida itu.

Dengan demikian, Alchemist merancukan pemahamannya tentang mimpi dan takdir; antara ide dan realita. Mimpi berada dalam tataran ide dan terbentuk dalam pengalaman pada kondisi tertentu, sementara realita memiliki banyak cara untuk menetapkan atau mengubah mimpi itu, melalui pertanda-pertanda yang saling berkontestasi. Karenanya, takdir selalu misterius: tidak ditetapkan dari mimpi.

Dulu, seorang anak di pesantren pernah bermimpi tentang piramida itu sebagai pusat peradaban, namun setelah lama di Jakarta dan memahami bahwa piramida itu hanya salah satu peradaban di antara banyak peradaban lain yang tak terhitung, mimpi itu pun lenyap dan berubah. Lalu, dimana takdirnya? Selalu misterius; tak pasti. Mimpi dan takdir terbentuk oleh pengalaman dalam sejarah seseorang, melalui transformasi yang tak dapat ditetapkan pada awal, arah, dan ujungnya.

Tentang Budaya

Sang Alchemist selalu mengejar mimpinya, takdirnya. Dia tidak pernah puas hanya berdiam diri atau mengubur mimpinya. Untuk itulah dia belajar berkomunikasi dengan alam, menggunakan bahasa universal, memahami rantai penciptaan, dan menyelami Jiwa Dunia. Dalam proses itu, dia berkomunikasi dengan padang pasir, angin, matahari, tangan Tuhan, sehingga mampu menjadi angin, setelah menghasilkan badai simum. Dia pun dikagumi oleh gurunya dan pimpinan pasukan.

Proses transformasi itu tidak sederhana: banyak yang harus dikorbankan, seperti domba-dombanya, kuda-kuda, perkemahan penduduk, dan korban-korban lainnya yang diabaikan oleh penulis. Bagaimana kalau badai simum itu menghempas anak-anak kecil di perkemahan? Kenapa saran komandan pasukan untuk menghentikan badai simum harus diabaikan, dan lebih memilih hasrat pimpinan pasukan untuk melihat keajaiban Tuhan? Yah, itulah takdirnya: mengubah dan mengorbankan yang tidak mau berubah. Korban-korban itu bukanlah menjadi pertimbangan penting, karena yang paling penting bagi Alchemist adalah perubahan menjadi angin, menjadi emas, menjadi lebih baik.

Sekali lagi, Sang Alchemist bertolak pada ide perubahan yang dikembangkan dari mimpinya sebagai sebuah takdir yang harus dilalui, dengan mengorbankan realita beserta pertanda-pertanda tak terbatas dan beragam kemungkinannya, sebuah takdir misterius. Sang Alchemist terlalu menyekap realita dalam koridor mimpinya, dan tidak menyadari kalau pertanda-pertanda itu memiliki banyak arah dan ujung, kalau pun bisa dimaknai ujung dalam sifat kesementaraannya.

Budaya adalah bagaimana manusia memandang, menilai dan menjalani hidupnya: tentang apa yang dianggap baik atau buruk untuk dilakukan; tentang apa yang dianggap penting atau tidak untuk dipahami. Lalu, apa yang lebih penting: memahami yang universal sebagai grand desain kehidupan, atau meninjau yang partikular dengan berbagai konsekuensinya. Dalam ambisinya menggapai yang universal, Sang Alchemist gagal menangkap bagaimana yang partikular bergerak; bagaimana Jagat Raya beroperasi dalam riuh; bagaimana Jiwa Dunia berhembus dalam sunyi.

Tentang Cinta

Saat pertama kali Sang Alchemist berjumpa dengan Fatima, dia langsung merasakan cinta, melalui tatapan matanya. Kenapa dia bisa langsung jatuh cinta? Jawaban Alchemist adalah takdir. Bagaimana kalau seandainya Fatima datang dengan penampilan kusut dan bersikap kasar, apakah dia tetap langsung mencintainya? Hanya kebetulan saja Sang Alchemist menemukan sosok ideal dalam diri Fatimah yang bersikap lembut. Begitu pula Fatimah menemukan sosok ideal dalam diri Alchemist yang berjiwa petualang. Kebetulan saja keduanya memiliki pandangan tradisional.

Ternyata, cinta tak lebih dari bayangan ideal yang termanifestasi dalam pengalaman seseorang. Namun, pengalaman selalu mungkin menemukan hal-hal baru, yang mampu mengubah dan membangun ideal-ideal baru, yang tidak selalu sesuai dengan realita. Ketika Alchemist datang kembali ke gurun pasir, belum tentu Fatima memiliki sikap dan karakter yang sama; mungkin Fatima sudah berubah sikapnya. Perselisihan pun sangat mungkin terjadi. Cinta pun tidak bisa selalu disekap dalam keindahan. Cinta sebagai manifestasi yang ideal cenderung selalu berkontestasi dan diwarnai ketegangan.

Lebih lanjut, Sang Alchemist menganggap ideal-ideal itu sebagai takdir. Menurutnya, cinta tak pernah menghalangi seseorang mengejar takdirnya. Namun, kenapa Sang Alchemist yang ditakdirkan berpetualang mengejar harta karun, sementara Fatima ditakdirkan menunggunya pulang? Kenapa bukan sebaliknya? Aktivis gender pasti marah mendengar pandangan konservatif ini.

Fatimah memang memilih untuk menunggu. Namun, bagaimana mungkin Sang Alchemist mengklaim bahwa seperti itulah takdir mereka; bahwa Alchemist adalah orang terbaik bagi kehidupan Fatima, sehingga layak ditunggu lama. Seolah tidak ada kemungkinan kalau Fatima dapat memperbaiki hidupnya dengan berpetualang, menjadi saudagar, menikah dengan orang lain, ketimbang menunggu lama dalam ketidakpastian. Nampaknya, cinta yang dimiliki Alchemist cenderung egois.

Karenanya, kita perlu merenungi kembali kehidupan yang lebih realistis, konteksual dan emansipatoris, ketimbang berimajinasi tentang keindahan yang ideal, universal dan cenderung egois.

Ikuti tulisan menarik Syiqqil Arofat lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler