x

Iklan

Eko Armunanto

There is nothing to writing. All you do is sit down at a typewriter and bleed ― [Ernest Hemingway]
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Tidak Semua Pengusaha Entrepreneur

Hidup ini tidak layak dijalani jika tidak misterius

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Life is not worth living if it’s not mysterious, kata sebuah kata mutiara. Hidup ini tidak layak dijalani jika tidak misterius, katanya. Tapi kata banyak orang sebaliknya. Dalam strategi militer maupun bisnis misalnya, ketidakpastian dianggap sebagai elemen yang mencemaskan. Maka perlu ditanggulangi dengan spionase. 

Prinsip spionase adalah melakukan semua yang perlu dilakukan untuk memastikan dan mendapatkan kepastian. Maka dibuatlah dinas rahasia, satelit pengintai, pesawat tanpa awak, kamera tersembunyi, dan sebagainya, dengan argumen mengantisipasi bahaya dan ancaman. Itulah juga sebabnya kenapa bisnis asuransi laku sehingga bermunculan di mana-mana, mengalihkan resiko kepada pihak lain dengan imbalan berbagai macam kompensasi.  Dunia paranormal dan metafisika dimelencengkan menjadi semacam perdukunan tidak lain juga untuk memastikan, banyak berita intelektual tertipu dukun pengganda uang.

Sejumlah riset mengkonfirmasi tesis bahwa mentalitas “cari kepastian penghasilan, kepastian karier, dan kepastian pensiun” jauh lebih dominan dibandingkan faktor ketersediaan modal, skill, dan infrastruktur fisik (sarana-prasarana) maupun non fisik (kebijakan pemerintah dan sebagainya), dalam studi bertemakan “kenapa anda lebih suka jadi pegawai ketimbang entrepreneur”.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Orang yang memandang resiko sebagai penyemangat dan penggerak roda kehidupan sangat sedikit dibandingkan orang yang memandang resiko sebagai sumber kecemasan dan penyakit. Kalau semua orang jadi entrepreneur, lalu siapa yang jadi pegawainya? Percayalah, itu pertanyaan konyol. Jangankan semua, untuk mendapatkan jumlah cukup saja susah sehingga Tuhan sendiri pun merasa perlu mengangkat rasulNya dari kalangan entrepreneur untuk dijadikan panutan, yang selanjutnya menjadi dasar berkembangnya ekonomi syariah itu.

Orang banyak salah kaprah menganggap entrepreneur identik dengan pengusaha atau wirausahawan (businessman). Tidak semua pengusaha itu entrepreneur, atau lebih spesifik lagi tidak semua pengusaha sukses itu entrepreneur,  masih perlu diuji prosesnya menuju apa yang disebut sukses itu, sebab entrepreneur adalah karakter, bukan profesi, bukan pula jabatan; dan leadership hanyalah salah satu bagian di dalamnya. Entrepreneurship seseorang tidak bisa anda ukur menggunakan capaian kuantitatif semata sebagaimana anda umumnya mengukur sukses bisnis melalui buku neracanya. Entrepreneurship dinilai dari cara mengendalikan, mengelola, dan mengantisipasi peluang maupun resikonya, serta caranya merespon setiap kegagalan.

“Jiwa entrepreneurship melahirkan kultur kreatif- inovatif, itu hanya bisa tumbuh subur dalam masyarakat yang mentalitasnya mandiri, tidak bergantung pada kebijakan protektif,  dan menyukai elemen tantangan dalam setiap resikonya;  sedangkan masyarakat yang berkarakter sebaliknya  hanya bisa menjadi konsumen”, kata makalah berjudul “The Social Dimensions of Entrepreneurship” karya Amir N. Licht & Jordan I. Siegel sebagaimana ditampilkan oleh Mark Casson and Bernard Yeung dalam Oxford Handbook of Entrepreneurship, Oxford University Press 2006.

Bertolak belakang dengan sintesa aliran Maynard Keynes yang mengandalkan “matematika sukses” ketika menyimpulkan bahwa setiap perilaku ekonomi bermotivasi ekonomi pula, Joseph A Schumpeter, ekonom paling berpengaruh sepanjang abad 20 menurut Forbes, ketika membahas dominasi peran entrepreneur terhadap pesatnya kemajuan ekonomi dalam bukunya “Capitalism, Socialism and Democracy”, berkata bahwa motivator utama para entrepreneur sejati bukan berupa insentif material yang bisa diperoleh melalui keberhasilannya, tetapi terpenting bagi mereka adalah keberhasilan itu sendiri; perkara keberhasilan itu akan membuatnya kaya raya atau tidak, itu tidak penting.

“Ada semacam jiwa penakluk dalam diri seorang entrepreneur, sebuah kepuasan mental obsesif yang tidak terbeli oleh takaran materi apapun”, kata Hamilton yang dalam risetnya di tahun 2000 melaporkan bahwa ketika mengawali usahanya para entrepreneur sudah tahu bahwa potensi maksimal penghasilannya dalam kurun 10 tahun pertama masih 35% lebih rendah ketimbang jika mereka bekerja dan menerima gaji sebagai karyawan dalam kurun yang sama – selaras dengan pandangan Schumpeter.

Dalam kritiknya terhadap abstraksi matematis Keynes, Schumpeter melalui teorinya tentang Siklus Bisnis mengatakan bahwa dalam konsep ekuilibrium yang membuat Keynes terkenal itu justru peran entrepreneur sangat dominan, tanpa mereka ekuilibrium tidak akan bisa terbentuk dan memiliki dinamika. Konsep ekuilibrium Keynes, menurut Schumpeter, belum bisa mencerminkan mekanisme pembangunan ekonomi jika tidak memasukkan peran entrepreneur sebagai motor utamanya.


Ikuti tulisan menarik Eko Armunanto lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler