x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Korupsi Telah Jadi ‘Tragedi Bersama’

Korupsi menimbulkan kerusakan di berbagai sendi masyarakat dan telah menjelma jadi tragedi bersama.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Korupsi adalah kutukan tunggal terbesar masyarakat kita saat ini.

--Olusegun Obasanjo (Presiden Nigeria 1999-2007)

 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Korupsi tak ubahnya virus yang menghujam begitu dalam di tubuh masyarakat dan meninggalkan luka yang tak mudah sembuh. Sebagai virus, korupsi gampang menular sebab sebagian orang beranggapan bahwa hanya dengan korupsi ia bisa cepat kaya, menempati posisi strategis, atau terhindar dari perkara kriminal maupun perdata.

Sebagai virus, korupsi menular karena tindakan korupsi sukar dilakukan sendirian, melainkan melibatkan orang lain—ada jejaring yang menopang aksi korupsi. Yang sering dilupakan oleh koruptor (termasuk penyuap, yang disuap) ialah bahwa jejaring ini rentan alias mudah putus ketika titik tertentu dalam jejaring ini mulai merasa terancam.

Ketika korupsi berjalan aman dan tidak terendus oleh komite antirasuah, para pelaku dalam jejaring akan berteman baik. Begitu salah satu menjadi sasaran bidikan, jejaring ini terancam gampang putus. Masing-masing pelaku mulai mencari jalan untuk menyelamatkan diri, seperti terlihat dalam kasus Hambalang. Mereka saling bertikai dan mengeluarkan kartu-kartu penting untuk melumpuhkan anggota jejaring yang dulu temannya.

Dampak korupsi sungguh luar biasa. Sumber daya yang semula dialokasikan untuk kepentingan bersama (masyarakat, bangsa) digerus oleh sekelompok orang untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Kerusakan yang ditimbulkan oleh korupsi meninggalkan jejaknya di berbagai segi dan, sayangnya, kerusakan ini tidak mudah diperbaiki.

Ketika nilai sebuah proyek di-mark up hingga di luar kewajaran agar ada dana yang bisa disembunyikan untuk kepentingan pribadi atau kelompok, maka korupsi ini telah menghilangkan peluang ekonomi yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Dana yang ditilep ini sebenarnya dapat digunakan untuk pembangunan proyek lain. Korupsi semacam ini telah melonjakkan biaya ekonomi yang harus dibayar masyarakat.

Korupsi, dalam bentuk suap, juga menyebabkan biaya yang harus dibayar masyarakat menjadi lebih mahal. Agar memperoleh hak impor produk tertentu, importir berani menyuap dalam jumlah besar. Tentu saja, ia tidak mau rugi, karena itu di dalam negeri ia menjual produk itu lebih mahal dari semestinya. Uang suap yang diberikan importir dipaksa ditanggung oleh masyarakat yang mengonsumsi produk itu.

Suap juga merintangi orang lain untuk mengikuti persaingan ekonomi secara wajar (fair). Ketika orang yang jujur dan tak mau menyuap, ia kehilangan peluang ekonominya. Banyak pemain ekonomi berskala kecil yang sulit tumbuh karena ada barrier to entry berupa suap kepada pihak-pihak yang memiliki otoritas dalam memberikan berbagai izin.

Korupsi dalam bentuk suap juga menggerogoti kualitas demokrasi ketika para pengambil keputusan hukum memihak kepada salah satu pihak yang bersengketa bukan atas nama kebenaran, melainkan karena uang. Beberapa kasus suap sengketa pemilihan kepala daerah yang terbongkar telah meninggalkan kerusakan pada proses demokrasi yang tengah dibangun, tetapi juga merusak kepercayaan masyarakat terhadap proses hukum.

Dalam banyak kasus, korupsi—termasuk suap—juga menimbulkan kerusakan terhadap lingkungan. Larangan eksploitasi dan eksplorasi wilayah-wilayah yang dilindungi mengingat nilai strategisnya bagi lingkungan hidup manusia diterabas oleh suap demi pembukaan daerah pertambangan, permukiman, ataupun industri. Kerusakan lingkungan yang terjadi karena pelanggaran ini pada akhirnya dirasakan oleh masyarakat luas, yang kemudian kekurangan air bersih, terkena polusi, bahkan mungkin pula terhempas oleh banjir.

Penonjolan kepentingan pribadi yang bersifat jangka pendek menyebabkan berkurangnya sumber daya untuk mencapai kemanfaatan bersama. Ketika seseorang melakukan korupsi, dana publik disedot ke dalam pundi-pundi perorangan. Sumber daya yang secara ekonomis dapat digunakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan pekerjaan, pembangunan infrastruktur, dsb terisap oleh kepentingan pribadi atau kelompok. Banyak orang kehilangan kesempatan untuk menikmati semua manfaat itu tatkala sekelompok orang menyelewengkan kewenangannya untuk kepentingan pribadi.

Yang lebih mengerikan ialah bahwa korupsi telah menghancurkan karakter-baik masyarakat. Berbagai kerusakan yang ditimbulkan demikian parah sehingga boleh dibilang korupsi, termasuk suap, telah menjadi tragedi yang harus ditanggungkan bersama. Kepentingan jangka pendek individu dan kelompok (kuasa, harta) telah mengalahkan kepentingan jangka panjang masyarakat dan bangsa. Dampak buruk korupsi telah dirasakan oleh jutaan orang yang tidak melakukan korupsi. Lantaran itulah, korupsi bukan lagi perkara hukum, melainkan telah menjadi tragedi bersama yang dampak kerusakannya terpaksa ditanggung oleh seluruh rakyat. **

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terkini