x

Iklan

Syiqqil Arofat

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Resistensi Lokal dalam Gempuran Globalisasi

Penulis : June Nash Judul : Defying Deterritorialization: Autonomy Movements againts Globalization Sumber : Social Movements (an Anthropological Reader). Blackwell Publishing, 2005. Hal. 178-184

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kajian globalisasi sering mengabaikan tinjauan terhadap resistensi yang terjadi di tingkat lokal, terutama yang diakibatkan oleh semakin hilangnya batas-batas wilayah melalui ekspansi perusahan global. Para pengamat globalisasi sering hanya menfokuskan perhatian pada migrasi penduduk dan gagal menangkap dampak globalisasi terhadap penduduk lokal, sebagai tempat terjadinya perlawanan masyarakat pribumi untuk menguasi wilayah dan mempertahankan pola hidupnya sebagai warisan leluhur. Kecenderungan tersebut bukan didorong semata-mata sebagai sikap melanggengkan identitas adat, namun lebih didasarkan pada trauma terhadap pengalaman kolonialisasi.

Salah satu komunitas adat yang diteliti June Nash adalah Suku Maya di Chiapas Mexico, yang melakukan resistensi untuk mempertahankan wilayahnya. Sudah berlangsung lama, mereka bersaing mempertahan wilayahnya dengan para pengusaha ternak, pengebor minyak, dan insinyur hidroelektik yang membangun bendungan sungai seluas 100.000 hektar, selain juga kebijakan ekonomi liberal yang diterapkan pemerintah, seperti pertanian komersial dan pariwisata. Bahkan penguasa dan pengusaha menggunakan tangan militer untuk menyukseskan kepentingan mereka, yang berujung pada pembantaian massal. Proses globalisai telah menyingkirkan Suku Maya dari wilayah yang menjadi tempat penghidupan mereka. Artinya, deteritorialisasi terjadi melalui dominasi spasial oleh pemerintah dan pengusaha kapitalis.

Pemikiran posmodern yang mengkritisi pandangan esensialis tentang keutuhan identitas sering hanya menunjukkan proses terbentuknya hibriditas dan fragmentasi, dan tidak menelusuri lebih jauh terhadap konteks ekonomi dan politik yang mendorong terjadinya proses tersebut. Para peneliti perlu memandang peleburan batas-batas wilayah sebagai kekuatan ekspansi kapitalis, bukan sekedar proses kelenturan identitas.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Karena itulah penetapan identitas adat dalam konteks penguasaan wilayah bukan semata-mata praktik romantisasi masa lalu dalam pandangan esensialis, namun sebagai cara paling praktis dan mudah dalam mengklaim kepemilikan kekayaan kultural. Dalam proses globalisasi yang semakin gencar menghilangkan batas-batas wilayah, praktik pembentukan identitas lokal menjadi semakin dibutuhkan.

Dalam hal inilah June Nash menunjukkan pentingnya menempatkan kajian globalisasi pada konteks terjadinya resistensi di wilayah perbatasan. Globalisasi bukan sekedar migrasi dari satu tempat ke tempat lainnya, namun lebih sebagai ekspansi kuasa dalam peleburan batas-batas wilayah, sehingga tidak dapat dilepaskan dari sejarah ekonomi-politik yang membentuknya. Karenanya, pembentukan identitas lokal tidak dapat hanya dipandang sebagai wacana esensialis, tetapi lebih sebagai strategi resitensi dalam menghadapi kekuatan global. Dengan begitu, June Nash berupaya mengarahkan pemikiran posmodern (antiesensialis, kelenturan identitas) pada pandangan marxis (konteks ekonomi-politik, konflik kelas).

Ikuti tulisan menarik Syiqqil Arofat lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler