x

Lilin-lilin dinyalakan membentuk angka 10 dalam aksi LBH Makassar mengenang 10 tahun tewasnya aktivis HAM, Munir di depan Monumen Mandala, Makassar, Sulsel, 7 September 2014. Dalam aksi tersebut mereka mendesak pemerintahan Jokowi-JK untuk tuntaskan

Iklan

Mas Eko

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Menanti Munir Bisa Tersenyum di Istana Jokowi

Negara wajib melindungi warganya. Jika ada warganya yang dibunuh, negara wajib memberikan keadilan baginya. Sebagai presiden, Jokowi tentu diharapkan rakyat bisa memimpin perwujudan hal ini. Tak terkecuali untuk kasus Munir.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Mengapa kasus Munir masih saja dinilai belum tuntas? Bukankah sudah ada yang dihukum untuk peristiwa yang terjadi di era Megawati itu? Kini, ketika Pollycarpus menghirup udara kebebasan, mengapa keadilan belum juga dikatakan telah tegak? Masih keras suara yang menuntut agar dalang utama kasus pembunuhan ini segera dijerat hukum. Lantas siapa sang dalang itu? Di negara yang menjunjung tinggi supremasi hukum, tentu pengadilan yang berhak menguji dan memutuskannya. Sejauh ini, sosok mastermind yang tangannya berlumur arsenik itu belum juga bisa dipastikan, meski ada nama seseorang yang dicurigai banyak disebut-sebut oleh publik. Tapi secara hukum, itu tak lebih baru sebatas rumor.

Di titik ini, rakyat berhak bertanya, sebagaimana istri Munir telah menagihnya: Apa yang akan segera diperbuat oleh Jokowi untuk mengurai kebuntuan ini? Sebagai presiden, rakyat awam tentu berpikir bahwa ia memiliki akses informasi dan sekaligus kuasa untuk membuatnya terang dan terbuka. Tidak hanya keluarga Munir, tetapi rakyat Indonesia berhak mengetahui kebenarannya. Adanya pembatasan kekuasaan di mana presiden tidak boleh meng-'intervensi' kekuasaan kehakiman tentu bukan alasan baginya untuk tidak bisa berbuat sesuatu 'yang lebih' dari rezim sebelumnya. Jika kasus yang sudah menguji kesabaran publik ini pada akhirnya harus tetap bernasib sama di eranya, maka jangan disalahkan jika menguat opini liar di kalangan awam. Bahwa negara, atau setidaknya instrumen negara, memang terlibat di dalamnya. Karena ini operasi resmi negara, bukan hanya untuk kepentingan oknum tertentu aparatur negara, maka presiden tentu harus melindunginya. 

Jika opini ini yang berkembang, tentu akan sangat menyakitkan bagi keluarga almarhum Munir. Itu sama saja mengatakan bahwa Munir adalah musuh negara. Namun melihat sepak terjang beliau semasa hidupnya, rakyat negeri ini dengan jernih akan bisa melihat bahwa justru dialah salah satu putra terbaik yang berani berjuang demi bangsanya. Dengan demikian pertanyaan kembali ke awal: Apakah presiden tak tahu, tak mau, tak mampu, atau tak berani menguak misteri ini? Jika jawabannya tak tahu, itu sebuah kemustahilan. Jika tak mau, bukankah ia sudah menjanjikan semasa kampanye dulu. Jika tak mampu, lantas untuk apa ia duduk sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan. Jika tak berani, 'monster' sengeri apa yang sanggup membuat ciut nyali seorang presiden RI yang katanya salah satu bangsa dan negara besar di dunia ini.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Negara wajib melindungi warganya. Jika ada warganya yang dibunuh, negara wajib memberikan keadilan baginya. Pak Jokowi, kapan Munir akan tersenyum di istana Anda?

Ikuti tulisan menarik Mas Eko lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu