x

Iklan

Mirda Silvia, Spd

Sorang guru dan praktisi pendidikan
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Pendidikan Berbasis Laboraturium Eksperimen

Kesadaran untuk berkesperimen bermula dari sekolah-sekolah yang memberikan kebebasan kepada siswanya untuk berekspesi memuaskan imajinasi mereka.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Betulkah otak orang Indonesia adalah otak yang paling mahal karena masih sangat murni?

Padahal disadari atau tidak, ilmuwan dan penemu-penemu terbaik dunia juga berderet orang-orang Indonesia. Pernahkah mendengar nama-nama seperti  Prof. Dr. Rahmiana Zein? Mulyoto Pangestu? Ironis memang, lebih banyak warga Indonesia yang terkenal diluar negerinya sendiri. Mereka menjadi orang penting di bidangnya masing-masing, dan berhasil menemukan alat-alat canggih dari fasilitas laboratorium-laboratorium internasional .

 

Lalu kenapa penemuan-penemuan tersebut jarang terjadi di laboratorium-laboratorium milik Indonesia?

Kesadaran untuk berkesperimen bermula dari sekolah-sekolah yang memberikan kebebasan kepada siswanya untuk berekspesi memuaskan imajinasi mereka. Sekolah memfasilitasi dan memupuk rasa ingin tahu siswa-siswanya sehingga laboratorium penuh agenda uji coba. Sekolah yang memberikan motivasi kepada siswa untuk selalu berpikir kritis dari setiap fenomena yang dilihat dan dialaminya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Sekolah-sekolah seperti itulah yang sebenarnya dibutuhkan di Indonesia. Sekolah yang memberi fasilitas agar otak siswa Indonesia penuh dengan ide kreatif yang orisinal. Sehingga siswa dapat berkembang dengan lebih baik, dan mampu menjadi penemu terbaik dunia.

 

Sekolah harus mampu menghidupkan kembali laboratorium.

Siswa tidak hanya mendapatkan pengajaran di kelas, tetapi siswa juga diberi kesempatan untuk mendapatkan pengajaran di dalam laboraturium. Pengajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk memperbanyak praktek-praktek langsung di laboratorium. Praktek yang membuat mereka terpacu untuk melihat lebih detail dan lebih kompleks permasalahan yang ada di sekitarnya.

Bagaimana mengetahui apakah jajanan di kantin mengandung zat berbahaya atau tidak? Bagaimana menghilangkan karat yang efisien di pagar sekolah? Atau bagaimana membuat baterai ramah lingkungan?

Dengan meneliti permasalahan sehari-hari melalui laboraturium, laboratorium kimia tentu akan ramai oleh siswa yang antusias meneliti. Didampingi oleh guru yang bisa memfasilitasi pembelajaran dengan menyenangkan, maka siswa akan mengenang pengalaman tersebut menjadi sebuah referensi suatu proses belajar.

Memang bukan perkara mudah mengajak siswa untuk melakukan eksperimen di laboratorium. Dibutuhkan niat dan usaha yang lebih dari segenap pihak untuk menjadikannya terwujud. Pendidikan tidak hanya materi yang diajarkan secara abstrak, tetapi materi yang memiliki relevansi dengan dunia nyata.

Melalui pembelajaran eksperimen di laboratorium ini, sangat dimungkinkan akan memunculkan ilmuwan-ilmuwan muda yang seperti  Joseph Black, Henry Cavendish , atau Ahmed H. Zewail peraih Nobel Kimia dari Mesir.

Sekolah sudah memfasilitasi hadirnya kelas akslerasi agar siswa dengan usia yang muda bisa mendapatkan stimulus untuk memaksimalkan potensi. Maka dengan kembali menghidupkan laboratorium untuk berkesperimen, sekolah telah mengampil peran dalam suskes siswa menemukan pondasi untuk menopang dan mengkonstruksi kembali dunia. Dunia yang membutuhkan anak muda berbakat untuk membuat hidupnya kembali berwarna.  

Ikuti tulisan menarik Mirda Silvia, Spd lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler