x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Metode Empiris: Sebelum Bacon Ada Ibn al-Haytham

Ibn al-Haytham mengembangkan metode eksperimental ketat. Metode ilmiah ibn al-Haytham sangat mirip dengan metode ilmiah modern dan mencakup siklus berulang observasi, hipotesis, eksperimentasi, dan verifikasi independen.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Menemukan kebenaran itu sukar, dan jalan untuk mencapai kebenaran itu keras.”

--Ibn al-Haytham (965-1040 M)

 

Bila orang-orang Eropa dari masa modern masih saja berpandangan bahwa orang Inggris Roger Bacon (1214-1296) dan orang Prancis Francis Bacon (1561–1626)  yang memprakarsai metode eksperimental dalam penelitian ilmiah, mereka semestinya menengok apa yang telah dilakukan oleh Hasan ibn al-Haytham beberapa abad lebih awal. Catatan detail mengenai penerapan metode eksperimental ini tertuang dalam karya penting ibn al-Haytham, yakni Kitab al-Manazir atau Buku Optik.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Karya yang terbit pada 1021, dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin ke Eropa, ini memuat telaah ibn al-Haytham yang luas dan dalam mengenai cahaya—teorinya tentang refleksi dan refraksi cahaya juga mendahului Snellius. Telaah ibn al-Haytham bertumpu pada perpaduan antara observasi, eksperimen, perhitungan matematis, maupun argumen rasional.

Sebelum menjelaskan pandangannya tentang topik tertentu, ibn al-Haytham lebih dulu menjelaskan metode eksperimennya. Sebagai ilmuwan, ibn al-Haytham tidak mau mengambil jalan ‘eksperimentasi dalam pikiran’. Ia betul-betul menguji hipotesisnya dengan mengadakan eksperimen praktis terlebih dulu. Dari hasil eksperimen ini, ibn al-Haytham mengambil kesimpulan untuk menolak atau menerima hipotesis yang ia ajukan. Salah satu eksperimennya melahirkan teori tentang pergerakan cahaya dan camera obscura yang menjadi dasar pembuatan kamera.

Menarik bahwa al-Haytham tidak berhenti sampai di situ. Untuk mendukung kesimpulan dari hasil eksperimennya, ia mengajukan argumen-argumen rasional. Ia juga menopangnya dengan pendekatan matematis, yang menjadikan pandangannya secara ilmiah berdiri di atas landasan yang kokoh.

Ibn al-Haytham menolak teori emisi kuno perihal penglihatan yang didukung oleh orang Yunani, Ptolemius dan Euclidus, yang menyebutkan bahwa mata manusia memancarkan berkas cahaya sehingga mampu melihat benda-benda. Ia juga menolak teori intromisi kuno dari orang Yunani lainnya, Aristoteles, bahwa obyek memancarkan partikel-partikel fisik ke mata sehingga manusia dapat melihat. Ibn al-Haytham mengajukan pandangannya sendiri bahwa manusia bisa melihat benda, sebab benda memantulkan cahaya yang berasal dari sumber lain.

Cara Ibn al-Haytham memadukan observasi dan argumen-argumen rasional memberi pengaruh besar terhadap Roger Bacon dan Johannes Kepler. Bacon (1214-1296), yang belajar di bawah bimbingan Grosseteste, terilhami oleh tulisan-tulisan Ibn al-Haytham. Ilmuwan Barat sesudah Bacon mengenal nama ini sebagai perintis metode eksperimental, padahal sebelum Bacon—maupun Francis Bacon—sudah ada Ibn al-Haytham.

Ibn al-Haytham mengembangkan metode eksperimental ketat. Metode ilmiah ibn al-Haytham sangat mirip dengan metode ilmiah modern dan mencakup siklus berulang observasi, hipotesis, eksperimentasi, dan verifikasi independen.

Dalam karyanya, Ibn al-Haytham: First Scientist, Bradley Steffen berpendapat bahwa pendekatan Alhazen—nama Latin Ibn al-Haytham—terhadap pengujian dan eksperimentasi membuahkan kontribusi penting bagi metode ilmiah. Matthias Schramm juga menyebutkan bahwa Alhazen merupakan orang pertama yang menciptakan penggunaan sistematis metode kondisi eksperimental yang beragam dengan cara yang konstan dan seragam. Inilah pengakuan yang akhir-akhir ini mengembalikan ibn al-Haytham pada posisinya sebagai perintis metode empiris dalam sains.

Sarjana lain, Gorini, menulis tentang peran Ibn al-Haytham: “Menurut mayoritas sejarawan, al-Haytham adalah pionir metode ilmiah modern. Dengan bukunya, ia mengubah makna pengertian ‘optik’, dan menjadikan eksperimen sebagai norma pembuktian dalam bidang ini. Penyelidikannya didasarkan bukan pada teori-teori abstrak, melainkan pada bukti-bukti eksperimental. Eksperimennya sistematis dan dapat diulangi (repeatable).”

Metode empiris ibn al-Haytham merevolusi pemikiran dan cara kerja ilmuwan dalam menemukan kebenaran ilmiah pada zamannya dan kemudian memengaruhi kemajuan sains di Eropa dan belahan bumi lainnya. ***

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Senin, 10 Juni 2024 12:33 WIB

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Senin, 10 Juni 2024 12:33 WIB