x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Politik Daging Sapi

Sepanjang penyelesaian terhadap persoalan harga komoditas pangan masih bersifat taktis, aktivitas ekonomi kita tetap rentan oleh gangguan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Lebaran sudah berlalu barang empat pekan, tapi harga daging sapi bukan hanya tidak mau turun, melainkan malah mendaki. Ketika daging ayam diburu sebagai pengganti, harga daging ayampun terkerek. Di Jakarta dan Bandung, pedagang daging sapi mogok berjualan.

Apa yang dilakukan pemerintah? Operasi pasar. Terbukti, operasi pasar tak sanggup mengubah keadaan. Hingga hari ini, harga daging sapi dan daging ayam tetap bertengger di atas harga sebelum Puasa. Di hari yang sama, seorang pekebun bercerita betapa ia merugi karena panen besar tomat membuat harganya anjlok drastis: 300 rupiah saja per kilogram di kebun dan 3.000 rupiah di pasar.

Operasi pasar hanyalah taktik yang dalam situasi tertentu dapat efektif untuk sesaat. Sayangnya, operasi pasar tidak mampu menyentuh akar persoalan. Ya, sebagai taktik, operasi pasar bukanlah tindakan strategis. Jikalaupun efektif dalam menekan harga, itupun turun tidak sebanyak naiknya, pokok persoalan belum lagi tersentuh apa lagi terselesaikan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Situasi seperti ini kerap terjadi—harga melonjak tanpa kendali, terkadang bawang merah, cabe, dan aneka produk pangan lainnya. Setiap kali itu pula, topik kenaikan harga ini jadi pembicaraan warga. Berulang kali. Kadang-kadang hingga menimbulkan kegaduhan sebab menyita banyak perhatian.

Sebagai warga, saya juga bertanya-tanya: begitu mudahkan sisi-sisi aktivitas ekonomi kita digoyang oleh kenaikan harga, yang sayangnya pemerintah pun terkesan menduga-duga apa penyebab kenaikan ini. Kurang ada keyakinan tentang penyebabnya, sehingga langkah yang diambil pun lebih bersifat taktis ketimbang strategis.

Betapa runyam efek kenaikan harga daging sapi itu dapat dibayangkan, untuk sebagian, seperti ini: “Kenaikan harga daging sapi yang tinggi berpotensi menggoda pemilik sapi untuk, misalnya, menjual sapi jantan dan betina produktif, sehingga produksi anak sapi berkurang. Begitu pula, peternak sapi perah tergoda untuk menjual sapinya yang masih produktif menghasilkan susu. Akibatnya, produksi susu menurun. Dampak berikutnya, kebutuhan protein hewani masyarakat terganggu. Dan seterusnya.”

Sepanjang penyelesaian terhadap persoalan yang kerap berulang ini masih bersifat taktis, aktivitas ekonomi kita tetap rentan oleh gangguan permainan harga orang-orang yang memburu keuntungan. Lalu bayangkanlah bila mereka bukan hanya sekedar mencari uang besar dalam waktu pendek, tapi juga memiliki agenda lain dengan tujuan melemahkan ketahanan pangan kita. Bukankah begitu mudah mereka melakukannya?

Dengan peranti teknologi yang sangat maju seperti sekarang, pemerintah semestinya mampu memetakan persoalan daging sapi maupun komoditas pangan lainnya dan memahami pola produksi, panen, fluktuasi harga, kebutuhan, dan seterusnya. Teknologi big data analytics dapat diandalkan untuk membantu memperoleh insights mengenai pokok persoalan di ranah pangan. Wilayah Indonesia yang sangat luas dan jumlah penduduk yang sudah melewati seperempat milyar tentu saja menghasilkan data yang sangat besar. Untuk menemukan pokok persoalan, dibutuhkan pendekatan big data analytics, sehingga keputusan yang diambil lebih mendekati yang seharusnya.

Bila pemecahannya masih tambal sulam dan hanya bersifat taktis semata, ekonomi kita akan mudah digoyang oleh siapapun dan untuk kepentingan apapun. **

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan