x

Iklan

Mahendra Ibn Muhammad Adam

Sejarah mengadili hukum dan ekonomi, sebab sejarah adalah takdir, di satu sisi. *blog: https://mahendros.wordpress.com/ *Twitter: @mahenunja - FB: Mahendra Ibn Muhammad Adam
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

[Indonesiana] Penempel-Ban ‘Cantik’: Anda Tidak, Kenapa?

Satu hal yang perlu kita perhatikan adalah inspirasi bisa datang dari siapa pun, di mana pun dan kapan pun.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pak Ciputra pernah menulis, Satu hal yang perlu kita perhatikan adalah inspirasi bisa datang dari mana saja, bisa dari orang sekitar, keluarga, sahabat, anak buah, saat kita berdo’a, saat kita sedang berjalan, hingga dari kompetitor bisa menjadi guru bagi kita dalam membuat kita lebih maju lagi, untuk itu tetaplah mau belajar dari siapapun, dari manapun dan janganlah sombong. Terkait itu, saya teringat suatu peristiwa yang menginspirasi.

Jam 11.00 WIB pada 19 Agustus 2015, saya keluar dari kantor untuk menempel ban. Saya menduga ban sepeda motor saya ini bocor. Di sebelah kantor saya ada bengkel tapi tidak ada jasa tempel ban. Jadi untuk sementara, saya cuma mengisi angin agar ban saya kuat, sekadar agar saya bisa mencari bengkel terdekat lainnya untuk menempel ban. Setelah ban menjadi kuat, saya pacu menuju bengkel tempel ban, 20 meter sebelum sampai di sana, ban sepeda motor saya sudah mencapai puncaknya, kempes habis, tidak memungkinkan untuk dinaiki karena menurut sepengetahuan saya, akan menyebabkan kebocoran ban di daerah sekitar pentil ban.

Maka saya mendorong sepeda motor saya dan tidak menaikinya. Saya bertemu dengan teman dari pegawai Bank Mandiri, ia bekerja di bagian marketing lapangan. Ban sepeda motornya juga bocor dan sedang ditempel oleh penempel ban. Penempel ban bekerja cepat, sambil menunggu ban sepeda motor teman saya sedang dipanaskan (proses penempelan), ia mulai membuka ban(luar) sepeda motor saya sambil memeriksa apakah ada kawat atau benda tajam di dalam.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Awalnya saya tertarik dengan ban kenapa bisa bocor, tapi kemudian setelah mendengar pengakuan dan cerita dari penempel ban saya lebih tertarik dengan orangnya daripada ban sepeda motor saya. Saya bertanya, “Ini ban(dalam) saya sudah tua ya Pak?”. Ia menjawab, “Gak, ini masih bagus!” Ia kemudian bercerita lebih jauh, “Kalau kempes jangan langsung di pompa (isi angin). Buka dulu ban luarnya, siram air sabun supaya kondisi (daerah antara ban luar dan ban dalam) menjadi licin. Kemudian kalau diisi angin, ban(dalam) jadi gak terlipat karena ia mudah kembali ketika diberi tekanan dan kondisinya itu basah licin. Kalau tidak disiram air sabun, kondisinya itu kering, akan menyebabkan ban(dalam) terlipat, itulah nanti yang bikin ban(dalam) jadi bocor.” Penjelasan yang masuk akal, gumam saya dalam hati sambil berujar “O gitu ya Pak”.

Saya ini pengalaman makanya tau, saya ni juga orang sekolahan, saya tamat kuliah fisika, cuma nasib aja yang lain.” Ujarnya. Ia kemudian bercerita lagi, “Kalau mau buka ban(luar), jangan dioles dengan oli di pinggiran velg, karena oli itu gak mau kering, liat tu (ia menunjukkan lantai yang terembes oli, memang lantai itu tidak pernah kering ). Kalau jalan jauh nanti ini oli bikin ban(luar) rusak (panas ban sulit hilang). Bagusnya pake air, karena air cepat kering, panas jadi cepat hilang”.

Gini gini saya bisa jadi guru, saya punya anak buah baru lepas dari penjara, saya ajari nempel ban sampai bisa, kalau ada ban bocor ya dia dapat imbalan. Kan tamat kuliah harus bisa buka lapangan kerja”, ujarnya. Saya jadi kagum, karena ia selaku ‘direktur’ bagi bengkel kecilnya yang hanya berupa mobil L300 (bukan rumah, bukan ruko). Sementara saya hanya sebatas karyawan (pengajar/guru) di tempat saya bekerja, bukan entrepreneur. Dulu saya, cuma sebatas entrepreneur jual pulsa, jual kelereng dan kaleng.

Menjadi entrepreneur, juga termasuk impian saya bahkan sampai puluhan tahun mendatang entah kapan terwujudnya membuka lapangan pekerjaan. Jika jumlah entrepreneur di Republik ini 12% saya yakin Indonesia ini jadi negara maju, sebagaimana Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga berpendapat, jika jumlah entrepreneur bisa bertambah maka akan turut mendongkrak ekonomi Negara, bertambahnya lapangan pekerjaan, dan akhirnya meningkatkan kualitas kesejahteraan masyarakat apalagi ketika wirausaha merata di seluruh daerah Indonesia, tidak terpusat di kota-kota besar.

Saya kagum dengan penempel ban ini yang masih bisa memperoleh profit, apalagi dikaitkan dengan skala wirausaha nasional. Memang, pengembangan wirausaha nasional diperlukan untuk mendorong ketahanan dalam merespon persaingan pasar dunia terutama menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Peluang ada di depan mata, konsumen lokal hampir 250 juta penduduk, sedangkan konsumen se-ASEAN 600 juta. Sangat disayangkan jika Indonesia hanya menjadi pasar di masa depan nanti dan tidak mendapatkan surplus dari neraca perdagangannya (ekspor-impor).

Perilaku bangsa nantinya harus menjawab tantangan market service yang harus didasarkan pada tiga konsep inti, sebagaimana dinasihatkan oleh lembaga nirlaba Partership for Public Service (2014) dalam judul Building a Shared Service Marketplace. Pertama, INOVASI, penyedia dan pelanggan harus didorong untuk mengambil resiko dan mencoba alternatif untuk manajemen kinerja, pengaturan pendanaan dan faktor lainnya. Kedua, SKALA, harus ada fokus memaksimalkan skala ekonomi. Mendorong penghematan biaya riil, mendapatkan agen terbesar dengan anggaran terbesar untuk mengunakan layanan bersama harus menjadi prioritas. Ketiga, KOMPETISI: harus ada kompetisi terbuka dan transparan untuk mendorong kualitas tinggi dari pelaku yang beragam dari sektor publik maupun swasta.

Selain itu saya kagum dengan sisi entrepreneurnya penempel ban yang hampir dua tahun saya di Bangko ia tetap bertahan dengan bisnis (jasa menempel) ban ini. Mengingat suatu opini pada 17 Agustus 2015 dalam judul “23 Nations Around the World Where stock Market Crashes are Already Happening” yang ditulis oelh Michael Snyder dan dikomentari hampir sebanyak 200. Kejatuhan Pasar Saham, menurutnya sedang terjadi di 23 negara termasuk China di awal tahun 2015 maupun akhir tahun 2014, yang mayoritas adalah Negara berkembang termasuk Indonesia. Menurut prediksinya, krisis finansial global akan terjadi beberapa bulan mendatang. Seperti tersambung dengan komentar dari Kementerian Koperasi dan UKM pada 23 Agustus 2015 dalam judul Ekonomi Lesu, Omzet UMKM Berkurang Hingga 40%, “Ini lampu kuning. Di Thamrin City, ada keluhan omzet berkurang 30-40%. Biasa dibeli 100 item, sekarang hanya 60 item”.

Terlebih saya kagum dengan penempel ban yang sudah memiliki dua anak bersekolah di SMK dan satu lagi di SMP ini, ketika ia tetap berusaha meski tahun ini diisukan krisis finansial global. Diprediksi adanya perang termonuklir akibat krisis keuangan, seperti ditulis Lyndon La Rouche (Aktivis Politik AS) yang mengutip pernyataan ekonom, Professor Nino Galloni.

Penempel ban yang saya temui ini sudah memiliki anak buah, dan memang setelah saya melintas jalan sekitar jam 13.00-an saya lihat sudah ada tambahan pekerja yang menempel ban. Kalau beliau bisa kenapa yang lain gak bisa? Semoga 30 tahun mendatang, ketika usia kemerdekaan menjadi seabad, entrepreneur se-Indoneisa sebanyak 12% dari penduduknya, seperti terjadi di Amerika Serikat.

Indonesia maju memang impian, daripada tidak memiliki mimpi, lebih baik memiliki mimpi. Sudah ada contoh orang di situasi sulit tetap produktif, seperti penempel ban ini, maka bukan tidak mungkin suatu saat kemajuan indonesia itu terwujud.

Apa yang ia katakan amat cantik, “Gigi-gini saya bisa jadi guru”. Pengalaman menjadikannya guru. Kepercayaan diri menjadikannya pejuang, dikit-dikit tidak merasa dirinya sebagai korban. Penjajah kalah dibuatnya, karena penjajah adalah orang yang membuat orang lain tidak percaya diri. Sikap tangguh seperti ini dibutuhkan di situasi manapun.

Sisi lainnya, penempel ban ini tidak berkomunikasi instruksi, melainkan komunikasi cerita. Ia telah menasehati saya meski ia sendiri tidak berniat menasehati saya. Itulah hebatnya komunikasi cerita.Atas ceritanya yang menginspirasi itu saya membayar jasanya dua kali lipat dari harga biasanya.

Ia menawarkan jasa sekali tempel ban seharga  sepuluh ribu rupiah, karena alat yang ia gunakan bertenaga gas LPG, bukan minyak tanah. Canggih, ia memodifikasi alat kompor gas, hasilnya lebih cepat. Sayangnya saya lupa menghitung berapa lama ia menyelesaikan pekerjaan tempel ban dengan tenaga ini, dan saya juga tidak punya data orang lain yang menempel ban pakai tenaga minyak tanah berapa lama penyelesaiannya.

Menempel dengan Hasil Lebih Cepat

Sebenarnya, itu tidak senilai dengan jasanya, karena dia telah memberi lebih, yaitu pengetahuan. Pertama, ketika ban (dalam) kita ketahui kempes habis, jangan langsung diiisi angin. Buka-sedikit ban(luar), kemudian masukkan air sabun agar ketika diisi angin, tidak ada bagian ban(dalam) yang terlipat. Jika terlipat, malah menyebabkan bocor. (2) Biasanya pinggiran velg diberi oli sebelum dibuka. Dampaknya kemudian hari adalah ban rusak karena panas lebih terjaga selama oli tersebut ada di situ. Makanya perlakuan yang benar terhadap pinggiran velg ketika hendak membuka ban, adalah dengan menyiram air, bukan oli. Sebab air cepat kering, sementara oli tidak demikian. Makanya panas terjaga sepanjang oli ada di pinggiran velg. Dampaknya ketika ban dipakai untuk perjalanan yang jauh, nanti malah merusak ban. Panas itu tertahan oleh oli yang ada dipinggiran velg. Berbeda dengan air. Air cepat kering, sehingga panas pun cepat hilang.

Kalau ada banyak orang seperti penempel ban ini yang berkata, “Tamat kuliah harus buka lapangan pekerjaan”. Saya yakin indonesia mampu menyaingi jumlah entrepreneur Singapura (7%), Malaysia (5%) dan Thailand (4%) hingga seabad Indonesia Merdeka. Itu, gagasan entrepreneur yang amat ‘cantik’. Ia ‘cantik’ karena gagasannya. Seperti sesuai dengan maksud Amirullah Abbas (bos tambang nikel sekaligus ketua HIPMI Sulawesi Selatan), mahasiswa tidak boleh berorientasi ingin menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Sebab, kuota untuk PNS setiap tahun sangat terbatas, lagipula gaji PNS itu tidak terlalu besar.

Sayangnya hingga sekarang ketika saya melengkapi tulisan saya ini, saya belum mampir lagi ke tempat penempel ban ini untuk sekadar mengetahui namanya.

 

Bacaan Lanjutan:

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

Ikuti tulisan menarik Mahendra Ibn Muhammad Adam lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan