x

Pameran Foto karya Mendur Bersaudara di Galeri Foto Jurnalistik Antara, Jakarta, (19/8). ANTARA/ Dhoni Setiawan

Iklan

pour71

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Pena dan Pedang: Ketika Jurnalisme Lupa Prinsip

Prajurit bertempur, jurnalis berpihak

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

Waktu Presiden Bush memberi tenggat selama 48 jam pada Saddam Hussein supaya menyerahkan diri. Marinir AS segera bergerak menuju perbatasan Irak. Dengan menggunakan tank amfibi marinir-marinir itu mulai mengatur posisi untuk menyerang.

Di perbatasan Kuwait dengan Irak, posisi-posisi pasukan Irak sudah dikunci dan siap dimusnahkan. Para prajurit bersiaga menunggu perintah. Mereka siap maju perang dengan tujuan akhir Baghdad. Posisi-posisi tank amfibi yang jadi sarana transportasi diatur secara teliti. Perhitungannya adalah untuk meminimalisasi kerugian ketika musuh menyerang dan segera melakukan serangan balasan. Para komandan sibuk berkomunikasi lewat radio dan saling mengoreksi pesan supaya tak terjadi salah paham. Tiba-tiba terdengar teriakan parau di radio. “Rudal Scud...Rudal Scud...Gas....Gas”.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Seluruh prajurit segera masuk ke dalam tank dan bergegas memakai perlengkapan nubika, nuklir biologi kimia, yang terdiri dari masker, pakaian dan pembungkus sepatu. Lalu mereka menunggu sampai bahaya gas yang diluncurkan lewat media peluru kendali berkurang. Tandanya adalah sebuah berita dari radio. Detik berdetak tanpa berita. Menit demi menit berlalu. Mereka bertahan didalam tank yang tak ada sirkulasi udaranya dengan perlengkapan nubika yang berat dan membuat mobilitas jadi berkurang.

30 menit kemudian radio berteriak. “OK...semuanya beres. Ancaman tidak ada lagi” suara parau itu berkata di radio. Semuanya merasa lega dan segera melepas masker gas dan bernafas dengan gembira.

Ada 7 orang prajurit di tank amfibi tipe LAV 7 milik Marinir AS itu. Seorang sopir, ahli teknik, penembak turret, penembak senapan mesin dan asistennya dengan dipimpin seorang komandan dan seorang jurnalis. Jurnalis itu namanya Gary Surka dari National Geographic. Seorang jurnalis dalam sebuah tim tempur yang punya tujuan merebut Baghdad? Rupanya Kementrian Pertahanan AS punya strategi baru dalam mencapai tujuan utama dari peperangan yaitu kemenangan mutlak di segala lini pertempuran termasuk informasi.

Seorang perwira marinir beropini bahwa tugas utama Marinir AS dan seluruh pasukan yang terlibat adalah memenangkan peperangan. “Dan mendominasi informasi adalah sebuah langkah awal” kata Letkol Rick Long dari USMC. Perang tak hanya dimenangkan dengan berapa jumlah musuh yang terbunuh atau seberapa luas daerah musuh yang sukses direbut tapi perang juga dimenangkan dengan cara pembentukan opini publik. Penggalangan opini publik secara nasional dan internasional jadi salah satu faktor penting untuk mencapai target utama.

Pentagon dengan jeli melihat sebuah celah akibat pesatnya perkembangan teknologi informatika. Operasi militer yang sedang dilakukan bisa disebarluaskan dengan hitungan jam ke seluruh dunia dan ditonton banyak orang melalui televisi di dalam sebuah ruang keluarga. Dan informasi menjelma seketika menjadi sebuah faktor penting kemenangan sebuah peperangan.

Strategi mendominasi informasi untuk kepentingan memenangkan perang itu dimulai sejak bulan November 2002. Para jurnalis, tulis dan elektronik, diundang oleh Kemenhan AS untuk mengikuti pelatihan untuk persiapan dan aklimatisasi dengan standar-standar operasi militerdan kebiasaan para prajurit. Ada 700 orang jurnalis yang akhirnya ikut program Embeddeed Journalism itu dengan sebuah perjanjian diatas kertas bahwa mereka tidak akan menulis atau melaporkan berita yang bisa membahayakan posisi pasukan, operasi militer yang dijalankan, persenjataan yang digunakan hingga informasi-informasi penting lainnya.

Pelanggaran yang dilakukan berimplikasi dicabutnya kartu kredensial dari Kemenhan AS. Uniknya para jurnalis yang tidak ikut program Embedded Journalism itu juga bisa ditarik kartu kredensialnya. Itu yang terjadi pada Peter Smucker. Pentagon beralasan bahwa semua jurnalis yang meliput pertempuran di Irak menjadi tanggung jawab mereka. “Jadi, semua jurnalis harus mematuhi semua kesepekatan tanpa kecuali” kata juru bicara Pentagon. Peter Smucker keluar dari Irak dan diterbangkan ke Kuwait dengan pengawalan ketat.

Embedded journalism mulai ramai dibicarakan sejak tahun 2003. Saat itu AS dan beberapa negara menginvasi Irak dengan tujuan utama mengganti Saddam Husein yang dianggap memiliki senjata pemusnah massal. Embedded journalism adalah sebuah interaksi antara jurnalis dan personil militer. Secara teoritis Embedded journalism adalah seorang jurnalis atau reporter yang mengikuti sebuah unit militer dalam sebuah peperangan. Mereka ikut dalam sebuah tank seperti Gary Surka, terbang dengan pesawat tempur, memakai masker gas nubika dan mempunyai resiko yang sama dengan prajurit yang diikutinya. Sebenarnya jenis peliputan seperti itu sudah ada sejak Operasi Overlord di Pantai Normandia pada tahun 1944.

Kritik tentu saja bermunculan dengan standar kerja baru itu. Utamanya berkaitan dengan objektifitas kerja jurnalisme. Laporan jurnalis yang dihasilkan tidak menerapkan prinsip-prinsip keseimbangan. Lebih cocok dengan propaganda karena mendukung salah satu pihak tanpa ada opini dari pihak lain. Embedded journalism mulai kehilangan obyektifitasnya waktu para jurnalis yang tak mau kredensialnya dicabut oleh Pentagon enggan menulis sebuah masalah yang tingkat sensifitasnya tinggi. Sensor dari bagian humas militer tentang aneka angle yang dipilih para jurnalis juga menjadi salah faktor penting. Yang jadi korban tentu saja masyarakat. Masyarakat tak dapat mengakses fakta yang sesungguhnya terjadi. Dan hal itu membuat masyarakat tak bisa menilai secara proporsional tentang sebuah peristiwa.

Model embedded journalism yang sukses mendukung aksi militer untuk merebut Baghdad dan mengganti Saddam Hussein langsung ditiru di beberapa kawasan lain. Di Asia Tenggara, Indonesia terbilang sukses mempraktekkan cara ini untuk mendukung kampanye militer melawan GAM. Uniknya kedua pihak yang berperang, GAM dan TNI, sama-sama memiliki kesadaran bahwa simpati publik harus diraih supaya operasi militer yang mereka lakukan sukses. Tapi TNI lah yang paling siap dengan strategi Penggalangan Opini Publik itu. Reputasinya yang buruk berkaitan dengan HAM menjadikan mereka bergerak lebih cepat dan terencana. Mereka memiliki rencana untuk mengundang dan melatih para jurnalis sebelum kondisi Darurat Militer dimulai. Membuat Press Centre yang dilengkapi dengan perwira-perwira yang tahu dan paham dunia jurnalistik.

Secara implisit para jurnalis diminta untuk mencintai negara dengan cara bekerja sama dengan TNI. Bekerja sama dengan GAM adalah perbuatan khianat terhadap negara. Reaksi GAM juga keras. GAM mengaku memiliki nama-nama jurnalis yang bekerja sama dengan TNI dan berulang kali mengeluarkan pernyataan bahwa keselamatan para jurnalis bukanlah tanggung jawab mereka. Dan kedua belah pihak yang berperang itu sama-sama memiliki jaringan intelijen yang luasdan mampu mengawasi bahkan sampai mengeksekusi para jurnalis yang kerja-kerja jurnalistiknya dianggap berat sebelah.

Peliputan yang berimbang memang berat. Tapi harus dilakukan dengan konsekuensi penculikan,penyiksaan bahkan sampai hilangnya nyawa seperti Ersa Siregar. Justru kondisi-kondisi itulah yang membuat peliputan berita yang berimbang menjadi menarik. Embedded journalism malah membuat tanda tanya, mampukah seorang jurnalis melakukan kerja-kerja jurnalistiknya tanpa tekanan? Apakah media yang sukses adalah media yang bisa menggiring opini publik tapi melupakan prinsip-prinsip dasar jurnalistik? Apakah konflik yang tejadi hanya bisa diselesaikan dengan cara membunuh? (pour)

Ikuti tulisan menarik pour71 lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu