x

Iklan

Retty

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

As’ad Mandar, the Great Passandeq

Indonesia, negara kepulauan dengan para pelaut yang terkenal kehebatannya, termasuk juga passandeq dengan perahu sandeq dari Sulawesi Barat.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Usianya sudah 80 tahun. Kerut merut di wajahnya menandakan usianya, tetapi semangat dan kelincahannya memanjat kemudi perahu tidak menunjukkan kesan usianya yang sudah berkepala delapan. Namanya As’ad. “The great passandeq,” tambah rekan-rekannya yang jauh lebih muda darinya. Rupanya, lelaki yang dikenal sebagai As’ad Mandar ini terkenal sebagai the great passandeq karena pernah ikut ke Perancis pada saat Sulawesi Barat mendapat undangan untuk ikut Festival Maritim Perahu Layar Sedunia tahun 2012 di Brest, Perancis.

Muliadi, rekannya yang juga mendampingi ketika berangkat ke Perancis, menjadi penerjemah dalam pembicaraan kami di Museum Nasional Indonesia. As’ad Mandar hanya bisa berbahasa Mandar dan sedikit bahasa Indonesia.

Bersama teman-temannya M. Yahya, Anwar, Arif, Zakaria, Arifin, serta Muliadi, ia hadir untuk memperlihatkan bagaimana membuat perahu tradisional. Perahu sandeq adalah perahu tradisional suku Mandar, atau mereka menyebutnya dari Polman; Polewali Mandar, dari Sulawesi Barat.  Mereka mencoba untuk tetap membuatnya secara tradisional yaitu menggunakan pasak dan tali pengikat.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

“Kesulitan utamanya adalah pada saat harus melengkungkan papan untuk lambung perahu,” demikian katanya ketika ditanya kesulitan untuk membuat perahu tradisional tersebut.

Kehadiran mereka di Museum Nasional tidak lagi sekedar menjadi pembuat perahu ketika salah satu dari mereka menyodorkan sebuah brosur pariwisata Sulawesi Barat. “Datanglah ke Polman bulan Desember nanti, akan ada pertandingan sandeq,” jelas Muliadi.

Sandeq dalam bahasa Mandar berarti runcing. Hal ini ditampilkan dalam bentuk perahu yang runcing. Kalau selama ini orang terbiasa mendengar tentang perahu phinisi dari Sulawesi Selatan, maka ternyata sandeq juga sudah terkenal sejak zaman dahulu. Perahu ini terutama terkenal karena bisa bergerak cepat memecah gelombang. Passandeq, artinya orang yang mengarungi lautan dengan menggunakan sandeq.

As’ad Mandar tidak tahu lagi berapa banyak sandeq yang sudah dibuatnya. Yang diketahuinya hanyalah kegembiraan membuat sandeq dan memperkenalkannya pada orang banyak. Ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengambil sedikit dari kayu kemudi sebagai bagian dari pelengkap simbol untuk keselamatan di laut, As’ad terlihat berdiri bangga bercampur haru di sebelah Mendikbud.

M. Ridwan Alimuddin, yang menjadi koordinator passandeq, rajin memperkenalkan keberadaan sandeq, bukan hanya sebagai alat untuk mencari makan di laut, atau sekedar alat transportasi, tetapi juga bisa menjadi alat untuk rekreasi dengan menjadi bagian dari lomba perahu sandeq.

Mau lihat perahu sandeq? Ayo ke Museum Nasional! Biasanya museum di Indonesia tutup pada hari Senin, tetapi khusus untuk Pameran Jalur Rempah ini, hari ini, 19 Oktober 2015, ruang pamer Museum untuk Jalur Rempah tetap terbuka untuk umum tanpa biaya. Pameran Jalur Rempah, yang hanya berlangsung selama satu minggu dari Minggu malam, 18 Oktober hingga Ahad, 25 Oktober 2015, mengajak pengunjung untuk melihat betapa kaya Indonesia dan berusaha menginspirasi untuk tetap menjadi bagian dari perdagangan global dunia sebagai produsen yang dihargai dunia, terus berkarya seperti As’ad Mandar, the great passandeq.

Ikuti tulisan menarik Retty lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu