Daulat Kampung Tengah - Wedang Jahe - Travel - www.indonesiana.id
x

Wulung Dian Pertiwi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Travel
  • Topik Utama
  • Daulat Kampung Tengah - Wedang Jahe

    Wedang jahe atau air jahe sering muncul kembali menjadi inti berbagai kuliner khas Jawa seperti ronde, sekoteng, angsle, dan tahwa.

    Dibaca : 6.621 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Air jahe atau wedang jahe sering menjadi masakan dalam kuliner Jawa yang karena berkhasiat menghangatkan badan, rasanya pas disantap musim hujan seperti sekarang. Empat paling tidak yang saya tahu, ada ronde, sekoteng, angsle, dan tahwa. Keempatnya banyak dijual, tetapi tidak sulit juga membuat sendiri di rumah.

    Ronde adalah wedang jahe berisi ronde. Ronde itu bulatan-bulatan tepung ketan berisi kacang tanah yang sudah disangrai, dihancurkan, dan dicampuri gula, sehingga ciri ronde gurih dan manis di tengah.

    Membuat ronde perlu beberapa tahap. Pertama, buat adonan kulit dari tepung ketan yang telah dibubuhi sedikit garam dan dituangi air hangat sedikit demi sedikit, kemudian diuleni sampai kalis. Setelahnya, kulit ronde dibentuk bulat-bulat kecil, dipipihkan, diisi kacang tumbuk tadi, kembali dibulatkan, dan dimasak dalam jerangan air yang telah mendidih sampai mengapung. Ronde yang sudah mengapung berarti sudah masak dan bisa diangkat ditiriskan. Kalau ingin ronde warna-warni seperti banyak dijual, tinggal tambahkan pewarna pada adonan tepung ketan kulit ronde.

    Kuah ronde dibuat dari jahe, sereh, gula pasir, air, dan daun pandan. Semua tadi dimasak bersama sampai air mendidih dan aroma jahe benar-benar meresap. Meski inti sajian ronde adalah ronde dalam wedang jahe, tapi ronde, yang banyak dijual, biasanya dibubuhi pacar cina, potongan roti, juga gorengan kacang tanah. Silahkan saja menambahkan sesuai selera.

    Mungkin, penambahan tadi karena Jawa mengenal juga sekoteng, yang berupa wedang jahe berisi potongan roti tawar, pacar cina, kacang tanah, sagu mutiara, dan terkadang kacang hijau. Karena mirip, ada juga wedang sekoteng yang menambahkan ronde sehingga menjadi wedang sekoteng plus plus. Kesamaan melahirkan perpaduan yang akhirnya tidak lagi jelas perbedaan wedang ronde dengan sekoteng. Banyak orang berpendapat keduanya sama.

    Ada lagi angsle, yang serupa. Intinya masih wedang jahe dengan bermacam isian, hanya saja angsle memakai santan. Membuat kuah angsle berarti memasak air dengan gula pasir, yang setelah mendidih dan gula larut, kita bisa tambahkan jahe bakar yang dimemarkan, daun pandan, dan sudah tentu, santan. Kuah angsle tidak memakai sereh. Isian angsle seperti sekoteng dengan dua tambahan khas, ketan dan kolang-kaling.  Beras ketan hanya perlu direndam kurang lebih satu setengah jam kemudian dikukus, sementara kolang-kaling direbus saja seperti biasa.

    Nah, tahwa berbeda lagi meskipun kuahnya tetap wedang jahe. Tahwa pada dasarnya sari kedelai atau susu kedelai yang dipadatkan hingga bertekstur lembut serupa kembang tahu. Pedagang tahwa kebanyakan menambahkan bubuk agar-agar. Caranya sari kedalai. yang tawar, dimasak dengan agar-agar dan air ditambah sedikit garam. Setelah mendidih dan didinginkan, sari kedelai akan mengeras disebut tahwa. Untuk penyajian, tahwa disendok tipis-tipis kemudian dituangi wedang jahe.

    Ikuti tulisan menarik Wulung Dian Pertiwi lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.