x

Siswa bergotong-royong membersihkan kelas dari abu vulkanik gunung Bromo saat hari pertama masuk sekolah setelah liburan semester di SDN Ngadisari 1, Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur, 4 Januari 2016. Sekolah di kawasan terdampak abu vulkanik Gunung

Iklan

Prakoso P Permono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Curahan Hati Pelajar SMA

Tulisan ini merupakan respon unggahan banyak pelajar SMA di media sosial mengenai kehidupan sekolah yang berat dan kritiknya terhadap pemerintah.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Catatan singkat ini sekedar merupakan kenanganku, kenangan saat duduk dan menimba ilmu dibangku sekolah beberapa tahun lalu, sedikit catatan yang tidak mungkin terlupakan. Tidak lain mengapa catatan ini kubuat ialah sebagai usahaku agar ide dan semangat ini tak pernah padam, supaya pikiran ini tetap abadi sekalipun nantinya aku tiada seperti pikiran orang-orang masyur dan alim jauh sebelumku.

Selama tiga tahun diriku dan kawan-kawanku dijadikan kelinci percobaan. Kami dipenjarakan dari pagi hingga petang, kami baru diizinkan pulang selepas sembahyang asar, ternak atau manusiakah diri kami? Aku tak punya waktu dengan ibu dan bapakku, hidupku hampa dan aku yakin demikian juga kawan-kawanku, hidup tanpa kasih sayang orang tua. Kami bukan robot, kami makluk yang sama dengan manusia lainnya, makhluk yang sama-sama punya hak asasi, kami berhak atas hobi kami, waktu dengan teman-teman kami, dan waktu mengembangkan bakat kami, kami ini bukan mesin tak berjiwa. Kami menggugat, mengapa sekolah kami tak seperti sekolah di negeri-negeri masyur di luar sana? Mereka sekolah tanpa seragam, mereka berhak memilih, dan mereka diperlakukan layaknya manusia. Kami dipaksa sistem ini untuk belajar berbagai hal yang tidak berguna bagi masa depan, belum lagi tugas yang menumpuk, dan akhirnya nasib kerja romusa kami ditentukan tiga empat hari saat ujian nasional. Inilah kami, wahai Menteri Pendidikan, inilah kami, wahai Presiden Republik Indonesia.

Hei tunggu dulu, jangan dulu engkau berkomentar dan marah, itu bukan catatanku. Itu catatan kawan-kawanku pelajar yang kubaca di media-media sosial. Aku tidaklah begitu, aku bersyukur pada Tuhan yang telah mengizinkan orang tuaku menyekolahkan diriku, sekalipun aku sedikit banyak merasakan apa yang dirasakan mereka yang menulis di media-media sosial, akupun dulu dan tetaplah senantiasa akan menjadi pelajar.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Dulu aku mungkin lebih berani dari dirimu wahai kawan-kawanku para kritikus pendidikan. Dahulu saat kami para pelajar sewilayah ibu kota berkumpul di Senayan, tenpat kementerian yang selalu dikau kutuki itu, kami menyampaikan suara itu secara langsung. Kala itu waktu audiensi sebelum kegiatan sebuah organisasi penggiat perdamaian, kami bertatap wajah dengan Dirjen Pendidikan Menegah, akupun lupa nama dan jabatan tepatnya, waktu itu kami sampaikan persis seperti yang dirimu tuliskan di media-media sosial itu, penderitaanmu dan dulu sebagain kecil juga penderitaanku.

Aku memang tak berhak menghakimi para kritikus pendidikan di jejaring sosial, aku mah apa atuh? Hanya seorang mahasiswa yang juga berpadanan kata dengan pelajar. Tapi izinkan aku berkomentar sedikit soal keluh kesahmu di media sosial, bersyukurlah atas nikmat Tuhanmu, ada 2,5 juta kawan-kawan kita harus berhenti sekolah, kebanyakan karena faktor ekonomi. Mereka harus bekerja membantu orang tua, sedangkan dirimu malah bertanya mau jadi apa dengan belajar sekian banyak pelajaran, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan? Pola pikirku bukanlah pola jabariyah, namun soal akan menjadi apa, aku percaya usaha tidak jauh dari hasil, dan Tuhan senantiasa punya rencana untuk kita.

Soal dirimu yang mau pulang lebih awal untuk bersama orang tua, aku terharu, dirimu pasti sungguh mulia, baktimu pada orang tua sungguhlah luar biasa, semoga Tuhan mengasihimu. Tapi aku saksikan banyak kawan-kawanku yang pulang petang justru pergi nongkrong, bersenda-gurau, atau menghabiskan waktu bersama sang kekasih bahkan tauran hingga merenggut nyawa orang, aku harap dirimu tidaklah begitu.

Dirimu jua berkata bahwa bakat tak dapat kau kembangkan dalam jeruji tahanan sekolah. Sungguh malang nasibmu, kudoakan Tuhan membukakan pintu-pintu terbaik bagi dirimu. Dulu disekolahku, berkat izin Tuhan dan usaha kami banyak kawan-kawanku yang dapat mengembangkan bakatnya, bahkan hingga membawa pulang piala. Ada juara robotik, juara gulat, juara ju jitsu, juara balap mobil, juara proposal bisnis, juara debat, juara pidato bahasa Arab, juara tari saman, dan banyak lagi. Kalau dirimu tak percaya, boleh berkunjung ke sekolahku, dari tingkat dunia sampai kecamatanpun ada. Diriku sendiri bersyukur dengan ditemukannya bakatku dalam berpidato, berkat usaha yang keras, didikan para guru, dan kehendak Tuhan diriku berhasil menjuarai perlombaan pidato tingkat Jakarta Selatan selama dua tahun berurutan. Akupun menjuarai perlombaan pidato tingkat nasional di Kementerian Pemuda dan Olah Raga, berkat bakatku tersebut aku beruntung mendapatkan Beasiswa Unggulan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yang kau kutuki itu. Percayalah kawan, bakatku dan kawan-kawanku bukanlah muncul dari sekedar pulang lebih awal, melainkan karena usaha yang keras, didikan para guru, asuhan orang tua, dan kehendak Tuhan.

Akupun juga bukan anak ansos seperti dugaanmu mungkin. Apakah aku tak punya waktu untuk teman-temanku? Justru waktuku bersama teman adalah di sekolah, aku bergabung dan mengurus berbagai organisasi, dari mulai OSIS, pengkajian Islam, juga Pramuka, dan diriku hingga kini masih aktif menjadi pengurus Dewan Kerja Pramuka sekalipun hanya ditingkat ranting. Tapi itulah kawan-kawanku, mereka yang sudah seperti saudaraku sendiri. Bahkan dengan berorganisasi aku pernah dikirimkan ke Singapura untuk sedikit belajar, aku juga pernah ikut serta pada pelatihan kepemimpinan tingkat nasional. Bahkan aku juga masih bisa memanfaatkan waktu yang bagimu sangat sedikit itu untuk menekuni hobiku bersepeda, hobiku yang membawaku ke Malaysia sebagai perwakilan, membangun persahabatan dengan banyak orang, tentu dalam waktuku yang sangat sedikit itu. Hmm, tapi sudahlah, mungkin memang kehidupan belajarmu lebih berat dari kehidupan belajarku dulu, akupun tak tau pasti.

Sungguh kawan, diriku khawatir, sangat khawatir akan unggahan kritik dan curahan hatimu wahai kawanku. Kekhawatiranku boleh jadi mirip dengan Bung Karno ditahun 1960an, aku dan dirimu pasti belum lahir, tapi aku tau hal itu dari buku-buku, apakah dirimu para kritikus juga gemar membaca? Atau mungkin menggemari hikayat dan syarah orang-orang masyur semacam Bung Karno? Aku harap dirimu juga tau kisah ini, Bung Karno melarang beredarnya musik “ngak ngik ngok” pada masa itu, ya musik-musik melow dari barat, katanya itu dapat merusak mental perjuangan pemuda pemudi Indonesia. Namun kupikir Bung Karno tak perlu terlalu cemas, toh tak semua orang paham lagu melow itu, dan tak semua orang punya radio. Tapi kurasa kecemasanku cukuplah rasional, dirimu para kritikus tiada hari tanpa kritik dan curahan hati, tulisan dan gambar buatanmu dibagikan oleh ratusan bahkan ribuan orang, dan dibaca oleh jumlah pemuda pemudi Indonesia yang tak terhitung. Cocok dengan pernyataan Marshall McLuhan (mungkin kau belum mengenalnya), we create our tools and then our tools create us, kau mungkin saja korban internet, ataukah kau pelakunya? Lalu apakah kalau demikian boleh diriku sebut para kritikus itu para pengrusak mental bangsa? Atau para pejuang kebebasan? Jawablah sesuai nuranimu, wahai kawanku.

Namun ya sudahlah, catatan ini kubangun hanya berdasar pengalaman dan asumsiku pribadi. Mungkin dirimu takkan percaya, atau justru menghina, menganggapku mendukung pemerintah yang menekanmu. Percayalah diriku ini pernah sepertimu. Karenanya, aku rasa perlu mengutip nama dengan gelar-gelaran, mungkin itu membuatmu percaya. Berikut akan kusarikan sebagian tulisan Mark Edmundson, lulus dari Universitas Yale, dan merupakan seorang profesor di universitas kenamaan yaitu Universitas Virginia, dalam bukunya Why Teach? In Defense of a Real Education.

Ada baiknya kuuraikan dalam bentuk poin angka, supaya dirimu tak kesulitan membacanya.

  1. Pendidikan di Amerika rusak karena sekolah memposisikan dirinya sebagai sebuah bisnis. Ada permintaan maka ada penawaran demikian hukum ekonomi berbunyi, sekolah-sekolah cenderung mengikuti bagaimana siswa mau belajar, ketimbang mengajar apa yang dibutuhkan siswa. Atau istilah kata, sekolah mencari murid, bukan murid mencari sekolah. Siswa bahagia dijadikan seperti “pelanggan adalah raja” sehingga siswa menuntut diperlakukan amat istimewa, naik kelas dengan mudah, tugas ringan bahkan tak ada, guru lebih banyak tertawa daripada mengajar. Dan jika hal itu tak dipenuhi sekolah, siswa menuntut karena sudah membayar, review pada guru ditulis sangat buruk, bahkan dilaporkan pada yayasan dalam kasusnya sekolah swasta. Guru dan sistem belajar diatur kemauan murid, bukan berdasarkan kebutuhan murid. Hal ini membuat pendidikan Amerika menurun, maukah dirimu ini jua terjadi di tanah air kita? Karena keinginan anehmu itu bangsa ini menanggung kemunduran.
  2. Banyak tertawa dalam kegiatan belajar mengajar, dan pertanyaan-pertanyaan luar materi yang terlalu banyak kadang menjadi siasat siswa yang malas untuk mengalihkan pelajaran sang guru. Ketegasan dalam pendidikan merupakan sesuatu yang diperlukan, ketegasan berdasarkan sebuah kontrak yang disepakati kedua pihak. Karena belajar mengajar bukanlah suatu laga hiburan, tertawa seperlunya, selingan seadanya, tapi serius untuk mencapai tujuan. Percayalah bahwa para penyusun kurikulum bukanlan orang-orang bodoh, mereka guru-guru kita, para profesor dan praktisi puluhan tahun bakti pada dunia pendidikan.
  3. Sekolah memposisikan dirinya untuk mencetak bidang pekerjaan tertentu, untuk mengisi pos pekerjaan yang ruang lingkupnya sempit seperti ahli bangunan, pembangun jembatan, pengacara, dan sebagainya. Memang hal tersebut penting, namun lebih penting ialah membuka wawasan akan sebanyak-banyaknya pengetahuan, membangun siswa agar mengembangkan ilmu pengetahuan itu, bukan hanya diam di satu mata pelajaran. Maka, jangan dikau tanyakan nanti akan jadi apa, kembangkan saja ilmumu, pertanyaan akan menjadi apa merupakan model pikiran sempit yang menutup mimpi mimpi yang lebih besar lagi.

Akupun tidak sepenuhnya menyalahkan dirimu atas segala apa yang terjadi, kurikulum 2013 memang dianggap masih jauh dari sempurna dan memiliki kekurangan sana sini. Namun tentu lebih baik menjadi generasi optimis ketimbang generasi pesimis. Sebagai rakyat yang mungkin saat itu kita sudah turut serta dalam pemilu, mari percayakan pada pembuat kebijakan, dirimu dan diriku jadilah bagian dari civil society yang mengontrol pemerintah dengan kritikan membangun, bukan justru mengeluh dan terus mengeluh. Sebagai wasiat, mari mulailah dari diri kita masing-masing. Menyalah-nyalahkan hanya akan membangun atmosfir buruk di sekitar kita. Ingatlah sabda nabi mulia "kullukum rain wa kullu masulun anroiyatihi" dirimu adalah pemimpin, dan pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban. Menjadi bagian dari masyarakat akan amat baik bila kita dapat memimpin diri kita sendiri.

Kiranya demikian sedikit catatan yang kutulis, ada baiknya dirimu para kritikus belajar memaknai hidup dan kehidupan dalam makna yang lebih mendalam. Pada akhirnya aku kutipkan sebuah firman:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Dan ingatlah sebuah ta’rif manusia, definisi dari manusia, al insan hayawan natiq, manusia adalah makluk (hewan) yang dapat berpikir. Jadi bila kita tidak menggunakan otak yang merupakan anugerah Tuhan untuk berpikir, maka tentu tidaklah diriku dan dirimu berbeda daripada seekor hewan.

Allahu a’lam, wallahul muwafiq ila aqwamit tariq.

Salam damai kepadamu kawan-kawanku.

Seorang Pembantu Pembina Gerakan Pramuka

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah

Ikuti tulisan menarik Prakoso P Permono lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu