x

Musisi Ahmad Dhani saat memberikan keterangan kepada sejumlah media terkait bentukan kementriaan tandingan Kabinet Kerja dikediamannya dikawasan Pondok Indah Jakarta, 31 Oktober 2014. TEMPO/Nurdiansah

Iklan

Agus Supriyatna

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Om Dhani yang 'Intelek'

Om Ahmad Dhani yang 'intelek', selamat malam. Apik kabarnya? Semoga apik-lah. Orang intelek biasanya kabarnya selalu apik.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Om Ahmad Dhani yang 'intelek', selamat malam. Apik kabarnya? Semoga apik-lah. Orang intelek biasanya kabarnya selalu apik.

Om nuwun sewu, saya yang tidak intelek ini, ikut lancang mau ngomentari pernyataan dari orang intelek. Saya juga tak tahu kok berani-beraninya kasih tanggapan terhadap pernyataan Om yang intelek. Saya memang kurang ajar ya Om.

Tapi pernyataan Om Dhani di akun Twitter Om soal orang Indonesia mesti minta maaf kepada ISIS, agar tak dibom lagi, sungguh sebuah pernyataan yang intelek lho.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

" Kalau emang ISIS.. Ya udah kita minta maaf aja lah.. Apa salah kita? Nanti kita perbaiki. Yang penting jgn di bom lagi," begitulah bunyi kicauan intelek Om di akun Twitter @AHMADDHANIPRAST. Itu akun punya Om kan?

Seperti diketahui, kicauan intelek Om di Twitter pun kemudian banyak menuai reaksi. Om memang benar-benar seorang yang intelek, bisa membuat banyak yang 'tak intelek' mendadak berani-beraninya ngomentari ulang pernyataan Om yang intelek itu. Kurang ajar kan Om, orang tak intelek, lancang kasih tanggapan orang intelek. Namanya ngelunjak itu ya Om.

Tapi entahlah Om, saya yang pasti bukan orang intelek juga heran, kenapa tertarik juga ngomentari Om yang intelek. Biarlah saya masuk barisan orang yang ngelunjak, asal tak ngelunjak pada Tuhan saja ya Om. Sama Om biarlah saya ngelunjak, barangkali saya bisa kecipratan sedikit samudera ke-in-tele-kan Om.

Menanggapi komentar pedas para netizen, Om kembali mengeluarkan pernyataan semacam klarifikasi sekaligus menasbihkan Om adalah orang intelek. Tidak tanggung-tanggung klarifikasi dilakukan dalam acara semacam jumpa pers dengan mengundang wartawan. Saya salut, Om benar-benar intelek, bisa memposisikan diri dengan intelek, hingga jadi salah satu yang di sorot dalam pusaran drama teror bom di kafe Starbuck kemarin.

Ini pernyataan atau klarifikasi intelek Om menjawab kicauan di Twitter yang berbuah bully dari para netizen.

" Ngapain kita minta maaf? Wong enggak ada hubungan Indonesia sama ISIS. Yang saya maksud, ISIS sama Indonesia enggak ada hubungannya. Jadi, kalau saya bilang minta maaf, ya itu sindiran," begitu ujar Om seperti yang saya baca di situs berita Tempo.co.

Kata Om, hanya orang intelek berwawasan luas yang bisa memahami maksud kicauan Om. Kata Om lagi, hubungan ISIS dengan Indonesia itu apa? Dari singkatan aja banyak yang enggak tahu. Bangsa ini seperti kata Plato, 'Lack of intellectuality.'

" Terus bagaimana mereka bisa mengomentari tweet saya?" begitu kata Om Dhani yang intelek.

Om benar-benar orang intelek, sampai Pak Plato pun Om kutip. Ya memang harus begitu orang in-tele-k Om, harus banyak mengutip orang-orang hebat. Sayang Om hanya menyebut Pak Plato, harusnya di sebut juga Kyai Gus Dur. Biar sempurna keintelekan Om. Tapi, meski begitu, Om benar-benar orang intelek. Saya yang tidak intelek sampai termehek-mehek, tercengang dengan ke-in-tele-kan Om.

Om yang maha intelek, tolong ajari saya yang tak intelek untuk mengaitkan kicauan Om di Twitter dengan klarifikasi Om di kediaman Om yang penuh dengan citra rasa orang intelek. Tapi sumpah Om, kok saya tak menemukan hubungannya antara kicauan dengan klarifikasi? Apa karena saya bukan orang intelek? Pastinya seperti itu, sehingga saya merasa kicauan Om dengan klarifikasi tak nyambung. Satu ngomongin apa, satu lagi kok penjelasan yang membingungkan. Demi Tuhan yang bukan tuhannya teroris, saya bingung om.

Di berita lain yang saya baca di Kompas.com, ada lagi berita tentang Om. Wuihhh hebat si Om ini. Iri saya sampai jadi pusat pemberitaan. Benar-benar Om orang yang intelek memang.

Di Kompas.com, saya baca ada pernyataan Om di Twitter yang makin menunjukan kualitas Om sebagai orang intelek. Kata Om, seperti yang dikutip Kompas.com, teroris di negara kita adalah sodara se-bangsa kita juga, bukan seperti teroris di US atau Eropa.

" Teroris di negara kita itu adalah sodara se Bangsa kita juga...bkn seperti teroris di US &Eropa... (99,9% orang Indo gak mikir sampe kesini)," begitu bunyi lengkap kicauan Om di akun Twitter @AHMADDHANIPRAST.

Wah, kali ini saya makin termehek-mehek dengan pengetahuan Om tentang terorisme. Om benar-benar pemilik samudera pengetahuan. Orang yang mungkin pantas jadi wali kesebelas atau keduapuluh.

Saya pun teringat sebuah berita yang ditulis Rappler.com tentang aksi teror di Kota Paris. Salah satu pelaku teror brutal di Paris yang menewaskan ratusan orang bernama Ismael Omar Mostefai. Dalam beritanya Rappler mengutip keterangan seorang anggota Parlemen Perancis, Jean-Pierre Gorges yang mengatakan Mostefai pernah tinggal di sebuah daerah bernama Chartres hingga 2012. Dia lahir di Perancis. Ayah dan kakak Mostefai juga tinggal di Perancis. Mereka warga negara Perancis.

Artinya, kalau si kampret Mostefai lahir di Perancis, lalu disebutkan dia juga warga Perancis, dia bukan bagian dari bangsa Perancis? Atau bagaimana menurut Om? Saya benar-benar bingung dengan pernyataan Om yang intelek itu. Apa karena saya yang tak intelek, atau Om yang terlalu intelek.

Kata Om juga, seperti yang ditulis Kompas.com dalam beritanya, negara telah gagal membendung pengaruh terorisme di masyarakat.

"Artinya Negara selama ini GAGAL melindungi anak Bangsa dr serangan pemikiran2 Radikal...masa anak bangsa sendiri yg jd teroris?? mikir dong," begitu kicauan Om lainnya di Twitter yang kemudian dikutip Kompas.com.

Dan di berita Kompas.com juga, dikutip kicauan Om lainnya di Twitter. Berikut bunyi kicauan Om lainnya di Twitter yang dikutip Kompas.com.

"Negara hanya berfungsi sebagai obat nyamuk semprot...ada nyamuk semprot...besok nya nyamuk datang lagi... #mikir."

"Negara tdk bisa berpikir bgmn cara supaya genangan air tempat nyamuk berkembang biak itu tdk ada lagi dan lagi #PresidennyaBingung?"

"Kalo Negara Bingung...blh tny saya...saya kasi pencerahan ...saya pernah bicara ini di dpn Jenderal2 Amrik.Dept Pertahanan Amerika Oct 2006".

"Kita pasti telah "lalai" sehingga Anak Bangsa Negeri ini menjadi TERORIS dan nge bom negaranya sendiri.... #mikir,"

Setelah membaca itu, saya betul-betul tercengang dengan ke-intelekan Om Dhani. Mumpung pemerintah bingung, juga Presidennya bingung seperti yang Om katakan, saya yang juga sedang bingung ini mengusulkan bagaimana kalau dibentuk Komisi Pemberantas Teroris (KPT). Dan, Om saya usulkan didapuk jadi ketuanya. Om bersedia ya? Jangan tak bersedia. Orang intelek, jangan menolak tantangan.

Untuk anggotanya, saya usulkan Komeng dan juga Cak Lontong. Biar pencerahan yang nanti akan disuarakan Om tak garing. Karena biasanya pencerahan dari orang intelek garing, tak enak di dengar, dan enggak jelas ujung omongannya mau kemana. Mungkin karena banyak mengutip nama-nama tenar, maka sama sekali di omongannya tak ada pikiran dia.

Bila ada Komeng atau Cak Lontong setidaknya pencerahan dari Om tak garing lagi. Sebab saya lihat Om meski intelek tapi orangnya garing. Mau guyon, tapi tak enak didengar. Mau melucu, tapi menyebalkan. Namun karena Om orang yang intelek perlu dihargai. Perlu ditertawakan.

Silahkan di komisi itu, Om jadi orang intelek sebenarnya. Berikan pencerahan bagaimana menyemprot nyamuk teroris sampai tuntas. Terserah Om, mau pakai Baigon, sianida atau lagu. Terserah pokoknya, Om diberi kebebasan

Siapa tahu, kalau Om yang berantas teroris, saya yang bingung bisa terus tertawa. Karena jarang-jarang lho Om saya tertawa. Sumpah Om, baru kali ini saya bisa menertawakan orang dengan nikmat. Jadi, saya mohon, tolong dengan sangat, sempurnakan tertawa saya. Ditunggu Om pencerahannya. Ditunggu tips-tipsnya bagaimana memberantas nyamuk dengan tuntas. Eh, teroris maksudnya Om. Mohon maaf, maklum sedang tertawa.

Ikuti tulisan menarik Agus Supriyatna lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler