x

Iklan

Ifandi Khainur Rahim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Penyandang Disabilitas Hanyalah Beban Masyarakat?

Hubungan antara RUU Penyandang Disabilitas, Pemerintah, pembuat undang-undang, dan stigma masyarakat.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ya, betul. Saat ini, saya tidak menyangkal bahwa banyak dari penyandang disabilitas itu hanya sebatas beban masyarakat ketika hidup di Indonesia. Beban yang harus dipikul oleh setiap pembayar pajak di Indonesia, yang nantinya uang pajak tersebut akan di-“donasi”-kan agar para penyandang disabilitas ini bisa makan, bisa sekolah (meskipun di SLB), dan bisa hidup (meskipun dipandang rendah dan membebani orang).

Namun, pertanyaan saya adalah:

“Apakah anda tahu siapa yang menyebabkan penyandang disabilitas hanya menjadi beban dan tidak produktif semasa hidup?” 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Jawabannya adalah “kita semua”. Kita semualah yang membuat para penyandang disabilitas melabeli diri mereka sendiri sebagai orang yang “tidak bisa”, sebab kita memandang “mereka” sebagai makhluk rendahan, makhluk tidak normal, makhluk yang tidak pantas untuk hidup. Padahal, penyandang disabilitas juga manusia.

Apakah anda tahu? Penyandang disabilitas banyak yang tidak mendapatkan akta kelahiran dan kartu keluarga, karena dianggap tidak mampu untuk hidup dan tidak mampu untuk berkontribusi bagi Indonesia.

Alhasil? Ya sudah, mindset yang dimiliki pemerintah dan kebanyakan masyarakat (termasuk si penyandang disabilitasnya pun) masih charity based, bukan right based. Apa perbedaannya?

Kedua mindset tersebut akan saya analogikan seperti ini.

“Lu disabilitas? Oh berarti lu harus gua bantu karena gua kasihan dengan lu. Lu diem aja ya di rumah, karena gua tau bahwa lu ga bisa apa-apa. Tiap bulan lu akan gua kasih duit segini, makan segini, dan sebagainya supaya lu bisa hidup, karena lu gak akan mampu hidup kayak orang normal dan berkontribusi seperti kita orang normal” – Mindset charity based

“Lu disabilitas?Eh tapi meskipun lu disabilitas, tapi gua tau bahwa lu punya potensi. Mungkin lu ga bisa melihat, ga punya tangan, atau ga bisa jalan, tapi gua tau lu pinter, jadi gua akan bantu lu agar lu bisa berkontribusi buat Indonesia. Gua akan ngasih buku braille di semua sekolah, ngasih bidang miring di setiap moda transportasi, dan bantuan lainnya. Supaya lu bisa hidup dengan aman. Sebab gua tau, setiap manusia itu unik dan punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Selain itu, setiap manusia juga punya hak asasi, gak terkecuali lu yang disabilitas.” – Mindset right based

Coba anda bayangkan jika pemerintah dan masyarakat berganti pola pikir dari charity based ke right based. Saya jamin, disabilitas tidak akan lagi jadi beban di Indonesia! Mengapa? Sebab kita mewadahi penyandang disabilitas untuk berkontribusi.

Tahukah anda bahwa jumlah disabilitas di Indonesia itu 13-15% dari total penduduk? (Dikutip dari BPS, 2015). Coba anda hitung, karena saya sendiri sudah malas menghitung, yang jelas, itu adalah jumlah yang sangat banyak. Bisa anda bayangkan potensi pribadi-pribadi tersebut jika penyandang disabilitas diberi wadah berkontribusi.

Well, mungkin pada awalnya, kita akan menghabiskan dana milyaran atau triliunan untuk membangun semua fasilitas seperti buku braille, bidang miring, dll. Namun jika dilihat kembali, akan lebih menghabiskan uang jika kita hanya mengirim uang bulanan kepada orang yang tidak bisa berkontribusi dan hanya dianggap sebagai beban masyarakat.

Seharusnya kita menganggap bahwa disabilitas itu berpotensi. Disabilitas harusnya tetap didukung untuk hidup, tanpa menganggap bahwa mereka adalah beban, namun dianggap setara. Ya, setara sebagai manusia yang masih dapat berkontribusi untuk negara.

Stephen Hawking, orang yang dianggap paling cerdas di dunia merupakan penyandang disabilitas. Einstein? Sama. Bahkan Beethoven pun disabilitas.

Maka, hal yang ingin saya tekankan di sini adalah:

Jangan rusak potensi orang. Jangan sampai rusak hanya karena kita melabeli orang sebagai tidak normal dan tidak mampu berkontribusi.

 

Ingat, penyandang disabilitas punya potensi, jangan rusak itu!

Mari ubah cara pandang kita. Mari revolusi paradigma kita.

Sekarang kita sedang ada dalam persimpangan perubahan. Apakah anda akan tetap diam di pinggir? Atau berusaha ikut menyaksikan dan membuat perubahan?

Salam.

Ifandi Khainur Rahim.

 

Coming soon:

KOMEDI (Kumpul, Obrol, Mengkaji, dan Diskusi)

Seminar interaktif yang akan membahas isu tentang:

“RUU Disabilitas, Stigma, dan Peran Masyarakat”

Bulan Mei.

 

CP:

Email   : komedipsikoui2016@gmail.com

LINE   : ifandikr

HP       : 087822882660

Ikuti tulisan menarik Ifandi Khainur Rahim lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan