x

Iklan

muthiah alhasany

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Infaq 2,5% Dari Omset, Mie Janda Semakin Laris

Suwito Menjalankan Bisnis Kuliner Dengan Memenuhi Hak Allah

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

Anda pernah mencicipi Mie Janda di kawasan Cibinong, Bogor? Mie Janda adalah mie ayam yang paling enak dan digemari siapa saja. Pecinta kuliner ini tidak hanya penduduk yang tinggal di Cibinong saja, tetapi juga datang dari Depok, Bogor, Jakarta dll. Boleh dikatakan tempat ini tidak pernah sepi dari pengunjung.

Berlokasi di Jalan Mayor Oking Kusumaatmaja, di seberang SMPN I Cibinong, Mie Janda mudah ditemukan. Kalau pun belum pernah ke sana, tanya saja pada orang-orang yang lewat, maka mereka akan memberitahu letaknya. Ya, hampir semua orang Cibinong tahu tentang Mie Janda.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Mie Janda pernah booming ketika beberapa televisi swasta meliputnya untuk acara kuliner, termasuk pakar kuliner terkenal Bondan Winarno. Mie Janda berkali-kali menjadi primadona karena ditayangkan di berbagai televisi. Orang-orang yang penasaran datang membanjiri tempat tersebut. Bahkan banyak yang berasal dari jauh, sengaja ingin mencicipi mie ayam yang dikatakan 'mak nyoss' tersebut.

Adalah Suwito, orang yang berada di belakang ketenaran Mie Janda. Lelaki yang berasal dari Madiun, Jawa Timur itu adalah motor penggerak roda usaha mie ayam. Ia bersama keempat temannya membangun usaha tersebut dari nol. Kesuksesan tidak diraih dengan serta merta, mereka harus jatuh bangun sebelum mencapai hasil seperti sekarang ini.

keluar dari perusahaan

Di kampung halaman, Suwito adalah anak gaul. Sayangnya pergaulan di Madiun tidak sehat, saat itu sedang trendi anak-anak muda yang menjadi anggota geng. Biasanya mereka yang mengikuti suatu perguruan silat. Mereka merasa jagoan. Minuman keras menjadi kebiasaan sehari-hari di antara mereka. Orang tua Suwito wanti-wanti kepada putranya ini agar tidak seperti mereka. Kebetulan dia sendiri juga tidak ingin larut dalam pergaulan semacam itu

Lantas, lepas SMA di Madiun, Suwito bertekad merantau ke Jakarta. Semua ia hanya bergaul dengan orang-orang biasa. Bahkan Suwito nyaris terjebak dalam aliran sesat. Beruntung ia berhasil melepaskan diri. Kemudian ia tertarik mengikuti kegiatan rohis di SMPN I Cibinong. Walau usianya sudah tidak semuda ABG, Suwito tidak malu. Justru ia menjadi lebih mudah paham ajaran agama dan membimbing yang lebih muda. Ternyata ia mendapatkan kebahagiaan di sini.

Di sisi lain, untuk menghidupi dirinya, Suwito mulai bekerja sebagai karyawan di perusahaan. Ia sempat berganti-ganti pekerjaan. Saat mau diangkat sebagai karyawan tetap, dia mengundurkan diri.  Misalnya di perusahaan Sanyo dan Astra, dua perusahaan besar yang menjadi incaran banyak orang. Tentu saja keputusannya mengundurkan diri sangat disayangkan teman-temannya, karena sulit untuk menjadi karyawan tetap.

"Orang lain susah payah ingin masuk ke sini, kamu kok malah minta keluar," demikian kira-kira yang dikatakan manajernya.

Salah seorang teman malah mencela dan mengejeknya,"Memangnya kamu mau kerja apa? dorong gerobak?"

Hatinya sempat mendidih mendengar ejekan itu. Suwito bertekad akan membuktikan bahwa suatu saat dia lebih sukses daripada si teman. Dalam waktu lima tahun, ia sanggup membuktikan bahwa temannya salah.

Namun memang Suwito tidak tertarik untuk menjadi karyawan tetap, ia hanya ingin menimba ilmu dan pengalaman saja ketika bekerja di perusahaan-perusahaan tersebut. Suwito bertekad tidak ingin menjadi karyawan. Ia tidak sanggup membayangkan kehidupan rutin dari pagi hingga sore. Suwito keluar dari Astra sekitar tahun 2005.

"Hidup kan tidak hanya untuk bekerja terus," kata lelaki yang lahir 34 tahun lalu ini.

Mendirikan Mie Janda

Ternyata membangun usaha tidak semudah yang dibayangkan. Suwito sempat 10x ganti-ganti pekerjaan. Ia pernah menjadi sales, pernah juga berjualan donat. Namun ia tidak putus asa. Ia yakin bahwa ini merupakan tahapan ujian dari Allah.

"Allah itu tidak ingin memberi rejeki langsung besar. Dia ingin kita belajar dahulu," tandas Suwito.

Dengan beberapa kali mengalami kegagalan, Suwito  menjadi paham tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk menjalankan sebuah usaha. Hal ini penting sehingga kita bisa mudah mengulanginya lagi. Namun tak urung ia sempat kehabisan modal, tabungannya ludes. Ia nyaris putus asa.

Pulanglah Suwito ke kampung halamannya. Ia berharap bisa membangun usaha di Madiun. Sayangnya kondisi Madiun masih sama seperti ketika dahulu ditinggalkan. Pergaulan buruk anak-anak muda masih berlanjut dan kecil peluang untuk membuka usaha yang bakal sukses.

Sekali lagi ia pamit kepada dua orang tuanya, Wagimin dan Sumi. Suwito kembali ke Cibinong, bertemu dengan empat teman lama. Mereka masih bekerja di tempatnya masing-masing. Berlima membuat kesepakatan untuk membangun usaha kuliner. Karena Suwito yang berstatus bukan karyawan, ia diserahi mengurus usaha tersebut.

Modal patungan masing-masing satu juta rupiah. Mereka menyewa pelataran di depan sebuah lembaga bimbel. Makanan yang akan dijual adalah mie ayam, yang menjadi kegemaran anak-anak muda. Ketika mencari nama yang menarik, diusulkan nama Mie Janda. Kenapa nama tersebut, karena untuk membuat orang-orang penasaran. Padahal Janda adalah singkatan dari Jawa dan Sunda karena mereka berasal dari Jawa dan tanah Sunda.

Betul saja, nama Mie Janda mengundang rasa ingin tahu banyak orang untuk mencicipinya. Dalam waktu singkat mereka telah memiliki penggemar. Sayangnya baru dua bulan, pemilik Bimbel melarang mereka berjualan di sana lagi. Paniklah Suwito dan teman-temannya. Mereka berusaha mencari investor agar bisa menyewa sebuah kios.

Apa daya tak ada yang mau invest di usaha mie ayam tersebut. Rata-rata takut akan mengalami kerugian. Ada satu orang yang mau, tapi minta agar bisa meraih omset satu juta perhari. Padahal, waktu itu omset mereka masih berkisar 100-200 ribu Rupiah perhari. Tentu saja kelima sekawan itu tidak sanggup memenuhi permintaan tersebut.

Akhirnya diputuskan untuk mencari pinjaman pada keluarga masing-masing. Terkumpul sekitar sebelas juta, cukup untuk menyewa satu kios, tak jauh dari Kelurahan Ciriung, masih di jalan raya Mayor Oking.  Tahun pertama mereka lewati dengan prihatin. Hasil yang didapat hanya pas-pasan saja untuk makan sehari-hari. Malah mereka pernah tidak punya uang untuk membeli makanan, terpaksa makan dengan sayur sisa kemarin. Tak dinyana sayur itu sudah basi, mereka keracuna dan terkena diare.

Masa sulit masih berlanjut. Sewa kios yang semula 11 juta dinaikkan menajdi 15 juta oleh pemiliknya. Jelas mereka kelabakan, karena uang yang ada hanya 11 juta.  Lantas mereka berusaha mencari tempat lain. Alhamdulillah, akhirnya mendapatkan tempat yang dibutuhkan, yaitu yang sampai sekarang ditempati. Waktu itu masih berupa rumah utuh dengan sekat-sekat kamar. Mereka membongkarnya sendiri secara bergotong royong.

Pasang Iklan di internet

Suwito mencoba mencari jalan untuk mempromosikan kuliner mereka agar bisa meraih omset yang lebih besar. Ia lalu memasang iklan di internet dengan membuat website Mie Janda. Tak disangka iklan itu dibaca oleh produser acara kuliner di Trans 7 yang kemudian mengirimkan seorang reporter wanita untuk meliput ke sana.

Dampak dari penayangan di televisi tersebut luar biasa. Televisi-televisi lain lalu berdatangan ke sana. Mie Janda mendadak terkenal dalam waktu singkat, berduyun-duyun orang datang ke Cibinong untuk mencari Mie Janda. Jualan mereka ludes sebelum pukul lima sore. Ketika ditambah lagi jam tujuh malam, pada pukul sembilan habis lagi. Hal itu terulang lagi di hari-hari berikutnya sampai mereka nyaris tak sanggup memenuhi pesanan pelanggan.

"Pada saat itulah saya menyadari bahwa rejeki dari Allah bisa datang tanpa disangka-sangka," renung Suwito.

Infaq 2,5% dari Omset

Keberhasilan tersebut tidak membuat Suwito dan teman-temannya lupa diri. Mereka mensyukuri rejeki yang diberikan Allah dengan mengeluarkan infaq sebesar 2,5 dari omset, bukan dari keuntungan. Jelas jumlah cukup besar. Namun mereka yakin bahwa hal itu tidak mengurangi rejeki penghasilan mereka.

Betul saja, Mie Janda berkembang semakin pesat. Apalagi setelah membuka cabang di tiga tempat lain, ada yang di Gunung Putri, di SMPN 2l dan di Cikaret. Suatu kebahagiaan bagi Suwito karena berarti hal itu bisa membuka lapangan kerja bagi orang lain. Kini jumlah karyawan mereka berjumlah 20 orang dengan omset perbulan 250 juta rupiah.

Dari jumlah tersebut tetap dikeluarkan infaq sebesar 2,5% serta membayar gaji para karyawan sekitar 50 juta Rupiah. Karyawan yang bekerja di Mie Janda, ada yang cuma lulusan SD, hingga yang lulus SMA. Mereka ditempatkan sesuai dengan kemampuannnya masing-masing.

Suwito sendiri kemudian melanjutkan pendidikan di sebuah universitas swasta. Ia mendalami agama Islam dengan mengambil jurusan Kajian Hadits. Di samping itu Suwito masih melanjutkan aktivitas dakwah dengan membimbing adik-adik Rohis di SMPN I dan SMAN I Cibinong.

Menikah

Setelah mapan dalam keuangan, Suwito terpikir untuk menikah. Kebetulan Ketua DKM  di Cibinong akrab dengannnya. Beliau menawarkan agar Suwito menikah dengan putrinya. Tak perlu proses lama, Suwito yang pantang pacaran menerima tawaran tersebut. Ia lalu mempersunting Anna Amelia menjadi istrinya. Kini mereka telah dikaruniai seorang putra bernama M. Latif Al Fatih.

Rencana selanjutnya adalam menunaikan ibadah haji. Sebagaimana diketahui, ibadah Haji menjadi wajib bagi yang mampu. Suwito telah mendaftarkan diri walau harus menunggu giliran sekitar 13 tahun lagi.  Untuk sementara ia melanjutkan kegiatannya sehari-hari berdagang dan berdakwah.

Ikuti tulisan menarik muthiah alhasany lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terkini