Desain Ulang Ruang Kerja agar Tim Lebih Inovatif - Analisis - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Desain Ulang Ruang Kerja agar Tim Lebih Inovatif

    Semakin banyak perusahaan mendesain ulang tempat kerja karyawannya agar lebih menyenangkan.

    Dibaca : 4.925 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Banyak orang percaya bahwa dibandingkan bekerja sendiri-sendiri, kolaborasi merupakan cara yang lebih baik dalam mengerjakan sesuatu. Beragam gagasan dapat dijaring dari orang-orang yang memiliki sudut pandang berbeda, pengalaman yang beraneka, dan pengetahuan serta ketrampilan yang beragam. Kuncinya adalah interaksi.

    Sebuah produk atau jasa yang digarap secara kolaboratif mempunyai kemungkinan sukses lebih besar. Kolaborasi bukan hanya di antara bagian atau departemen yang sama, melainkan di antara bagian yang berbeda-beda: pemasaran, produksi, desain, dan bagian lain. Dan ini bukan sekedar ada kopi gratis maupun meja ping-pong, melainkan tersedia tempat di mana orang-orang dapat berbagi ide dan mencari inspirasi dengan leluasa.

    Tapi, kolaborasi mesti dimulai dari mana? George Davison meyakini bahwa desain produk yang inovatif akan lebih banyak lahir dari tempat kerja yang menyenangkan. Jadi, desain tempat kerja mesti dipikirkan lebih dulu karena lingkungan yang menyenangkan untuk bekerja akan melahirkan karya-karya inovatif. Keyakinan ini mendorong Davison untuk memindahkan 250 karyawannya dari kantor lamanya di Pittsburgh, AS, pada 2006, ke tempat kerja baru dengan desain fantastis seluas 7.000 meter persegi yang disebut Inventionland.

    Dirancang seperti taman bermain, para perancang produk mainan bekerja di ‘kapal bajak laut’ Discovery, perancang produk elektronik mengembangkan idenya di tubuh ‘robot raksasa’, dan perancang produk otomotif memacu hasrat mencipta mereka di arena Motor Speedway.

    Apa yang ingin dicapai Davison dengan tempat kerja yang tidak biasa itu? Gagasan pokoknya sederhana: “Karyawan bisa lebih kreatif karena memperoleh ide-ide segar dari lingkungan kerja yang menyenangkan dengan penataan yang keren.” Tempat kerja yang dirancang tanpa sekat-sekat mendorong terciptanya teamwork yang kuat. Antar bagian berkolaborasi dengan perasaan nyaman. Orang tidak merasa bekerja sebagai karyawan atau pegawai, melainkan sebagai bagian dari tim besar. Hasilnya? Produktivitas desain baru meningkat tajam.

    Beberapa waktu lalu, Kaskus juga merombak konsep dan desain kantornya. Lantaran mayoritas pekerjanya muda-muda, dibuatlah kantor yang ‘tidak terlalu serius’ yang menawarkan pengalaman bekerja yang unik bagi karyawannya. Jika jenuh bekerja, tersedia ruang untuk bermain ‘Xbox’. Ruangan dirancang terbuka tanpa sekat sehingga suasana kerja bersama sangat terasa. Interaksi lebih mudah dilakukan.

    Apa yang dilakukan oleh Davison, Google, Facebook, Kaskus—dan semakin bertambah banyak perusahaan yang mencoba kiat serupa, telah mengubah kelaziman yang ada di kantor-kantor. Ruang kerja di banyak perusahaan lazimnya disusun secara kubis alias kotak-kotak/persegi. Tempat kerja seperti ini sebenarnya lebih cocok bagi kerja individual dengan maksud mempertegas privasi karyawan. Ada sih ruang yang kursinya ditata melingkar, tapi hanya dipakai untuk rapat. Ruang rapat dipakai sesekali dan untuk waktu yang pendek.

    Sudah waktunya ruang kerja yang cenderung individual diubah penataannya. Kolaborasi untuk melahirkan karya inovatif dapat dimulai, antara lain, dari menata ruang kerja yang mendukung pertukaran pikiran secara bebas antar karyawan. Brainstorming mudah dilakukan kapan saja, bukan hanya antar rekan kerja satu divisi, tapi juga antar divisi. Yang diperlukan adalah ruang yang lebih fleksibel yang memungkinkan tim benar-benar bisa bekerja bersama. Ruang ini juga akan menginspirasi pikiran agar lebih terbuka.

    Ruang kerja fleksibel yang terkesan lega memainkan peran kunci dalam mendorong budaya yang lebih kolaboratif ketimbang ruang kerja yang disusun kotak-kotak. Kolaborasi dimungkinkan dimulai sejak awal begitu sebuah proyek diputuskan hendak dikerjakan. Ruang seperti ini juga akan mengintegrasikan dengan lebih baik bagian dan unsur desain ke dalam proses pengembangan produk/jasa.

    Memacu karyawan agar kreatif, berkolaborasi, melakukan inovasi dan sebagainya tidak cukup melalui kata-kata. Mendorong perubahan tak bisa hanya melalui perintah. Ruang kerja yang berkarakter kolaboratif akan memfasilitasi perubahan perilaku karyawan, dan ini tugas manajemen untuk memikirkannya. Di dalam ruang yang penataannya terbuka, tanpa sekat, mudah ditata ulang, dan transparan akan mendorong karyawan untuk berperilaku seperti itu. Bila tim ingin mendengarkan masukan dari pakar eksternal, ruang kerja dapat disulap untuk presentasi dan ceramah.

    Ruang kerja yang fleksibel tidak akan membosankan. Bayangkanlah, misalnya, di sana ada papan tulis tempat karyawan dapat menuangkan gagasan kapan saja agar ide tidak menguap. Karyawan bebas membuat sketsa dan flow chart, atau menempelkan kertas post-it ke rekan kerja di divisi lain. Semua ini akan menghidupkan ruangan itu dan memperindahnya. Ruang kerja ini tak ubahnya kanvas bagi pemikiran kreatif karyawan. Di ruang seperti ini, bermain dan bekerja adalah dua sisi dari aktivitas yang sama: menciptakan produk dan jasa yang memuaskan pelanggan. (sumber foto: the-neighbourhood.com)***

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












    Oleh: Dwi Kurniadi

    Sabtu, 13 Agustus 2022 09:06 WIB

    Sajadah Basah

    Dibaca : 2.475 kali

    Sebuah Puisi karya Dwi Kurniadi