x

Iklan

Ronny P Sasmita

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Kalkulasi Politik Kang Emil

Ketika Emil Punya Mimpi Berbeda dengan Rakyat Jakarta

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil akhirnya memutuskan untuk tidak akan maju sebagai calon Gubernur DKI Jakarta pada Pemilihan Kepala Daerah tahun 2017 mendatang. Ridwan urung maju dengan alasan belum menyelesaikan tugasnya di Bandung. Menurut Ridwan, ia bisa saja menjadi calon gubernur DKI Jakarta, tapi tidak sekarang atau dalam Pilkada tahun depan. "Saya maju ke Jakarta, tapi tidak sekarang. Alias saya tidak akan maju menjadi calon gubernur DKI 2017," kata Ridwan di Balai Kota Bandung, Senin (29/2) seperti diberitakan beberapa media.

Dengan tegas, Ridwan mengatakan, pertimbangannya untuk tidak maju di Pilkada DKI hanya satu, yakni belum menyelesaikan tugasnya di periode pertama kepemimpinan ibu kota Jawa Barat. Namun jika sudah menyelesaikan periode kepemimpinan, Ridwan tak menampik kemungkinan bisa bersaing pada ajang pemilihan kepala daerah, seperti Pilkada Jawa Barat atau Pilkada DKI Jakarta.  Selain itu  ia pun  tidak masalah melanjutkan jilid dua, atau memenuhi keinginan keluarganya untuk jadi arsitek lagi.

Tak lagi jadi salah satu peserta di Jakarta, Ridwan Kamil berharap pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta bisa berjalan lancar. Emil mempersilakan untuk  melanjutkan kontestasi di DKI Jakarta tanpa dirinya sembari mendoakan warga Jakarta bisa memilih gubernur yang cocok dan pas. Jika mau maju, Ridwan Kamil  dipastikan akan bersaing dengan Basuki Tjahaja Purnama. Gubernur DKI Jakarta ini sudah jauh-jauh hari menyatakan kesiapannya. Bahkan ia menggadang-gadang diri akan maju melalui jalur independen, walau belakangan Nasdem dan beberapa partai lain terlihat sudah mulai mencondongkan badan kepadanya. 
 
Ada beberapa ucapan yang menarik untuk dicermati dari seorang Emil. Menurut beliau,  yang terberat baginya ketika harus maju menjadi calon Gubernur DKI Jakarta adalah bahwa warga Bandung mayoritas tidak mengijinkannya untuk  pergi sebelum menyelesaikan tugas. Di dalam kata ‘warga Bandung’ terepresentasikan suara relawan yang dulu berjibaku memenangkannya, suara keluarga dan suara mentor hidupnya, yaitu ibu kandung Emil sendiri, yang tidak merestui kemanapun sebelum menyelesaikan periode pertama kewalikotaan Bandung ini.

Pernyataan ini menarik, karena secara substansial Emil nampaknya memberanikan diri untuk  berseberangan dengan perjalanan politik Jokowi yang benar-benar memanfaatkan popularitas mulai dari posisi walikota Solo sampai ke DKI Jakarta. Dengan kata lain, Emil berusaha meyakinkan publik bahwa keputusan politik untuk maju atau tidak pada pilkada DKI Jakarta adalah keputusan yang bersifat “Bandung Raya” alias bukan keputusan personal  karena masih terdapat keterikatan politik dan temali tanggung jawab dengan Ibu Kota Jawa Barat. Artinya, Emil sedang bersuara atas nama masyarkat Bandung, bukan atas nama dirinya sendiri.

Pernyataan menarik lainya adalah ketika Emil mencoba mendobrak mitos bahwa Indonesia tidak hanya Jakarta. Mitos pusat dengan segala turunanya menurut Emil harus dibongkar. “Saya yakin Indonesia bisa maju jika di daerah juga dipimpin orang-orang terpercaya dan progresif secara merata. Indonesia bisa hebat dengan kepemimpinan orang-orang hebat seperti Ibu Risma di Surabaya atau Prof. Nurdin Abdullah di Bantaeng”, ungkap Emil.

Saya mencoba memahami isi pernyataan ini, secara redaksional tentu sangat berseberangan dengan logika publik paska masuknya Jokowi ke Istana. Jokowi dianggap sebagai salah satu prototype yang berhasil melenggang ke istana setelah menduduki posisi Jakarta Satu, walaupun  hanya lebih kurang dua tahun. Tapi ini tidak hanya berupa gertak sambal seorang Emil, karena jika logikanya kita perlebar, misalnya jika Emil ingin melanjutkan karir sampai ke istana, maka secara politik pernyataan ini sangat beralasan lantaran Jawa Barat adalah kantong suara terbesar se-Indonesia, bahkan digadang-gadang sebagai salah satu kantong suara penentu dalam pemilihan presiden.
 
Kalkulasi politik ini akan semakin terkonfirmasi jika Emil ingin melanjutkan karir ke Gedung Sate misalnya. Sudah hampir bisa dipastikan beliau akan menjadi calon yang ditunggu-tunggu di arena tanding pilkada Jawa Barat.  Artinya, boleh jadi kemungkinan kalah dan menang di pertarungan DKI satu masih 50:50 untuk Emil, tapi persentase itu akan bergerak naik, bahkan mungkin sangat tinggi saat beliau memutuskan maju pada Pilkada Jawa Barat dan kemungkinan membuka peluang ke Istana juga semakin lebar, tanpa harus menanggung risiko kalah di Jakarta.

Dengan posisi politik yang diambil saat ini, Emil mengamankan kakinya di zona yang confortable, zona yang membuat gerak langkahnya tak terkekang oleh satu pilihan menggiurkan tapi memiliki risiko masa depan yang kurang pasti. Apa jadinya jika Emil kalah di Jakarta? Ini sebuah resiko yang terlalu mahal yang harus dibayar jika dibanding dengan kredibilitas, akseptabilitas, dan popularitas  yang kadung terbentuk. Logika ini sangat cerdas dan rasional bagi seorang Emil yang masih memiliki banyak peluang untuk masa depan.
 
Pilihan ini akan membuat Jakarta semakin panas. Satu diantara beberapa calon Gubernur yang sudah muncul ke permukaan akan melenggang menjadi Gubernur, sisanya akan redup persis seperti lawan-lawan Jokowi- Ahok tempo hari. Proyeksi hasil pilkada Jakarta ini akan semakin membawa sinaran politik bagi Emil yang sedari awal tidak lebaydan gegabah mencemplungkan diri ke Jakarta. Emil bisa fokus dua tahun mendatang untuk semakin memoles Bandung dan semakin menuai decak kagum dari banyak kalangan. Sementara itu, para pihak di Jakarta malah sibuk bersiap-siap untuk bertarung, siap-siap disanjung dan dicaci-maki,  siap-siap energy politik dan finansial, dan efek negative  Pilkada Jakarta akan membuahkan kerinduan kepada kota yang tenang seperti Bandung dan memberi ion-ion positif bagi perkembangan politik Emil.

Dengan tetap berdiri diluar Jakarta yang kian konstelatif, saya kira Emil akan menangkap ikan yang banyak tanpa harus menjala di Jakarta, cukup dengan memaksimalkan semua wewenangnya sebagai walikota Bandung untuk terus memajukannya alias beliau bisa tetap fokus dengan kota Bandung.  Disisi lain,  tanpa menceburkan diri di Jakarta, beliau juga sebenarnya sedang  membangun intsalasi penyerap ion-ion positif dari Pilkada Jakarta mendatang karena ekspektasi yang mengharapkan beliau naik ke level yang lebih tinggi akan semakin bertambah tanpa harus bersusah payah mengotori tangan di Arena Jakarta.  Dan inilah salah satu strategi cerdas menurut saya, terlepas apapun pilihan beliau selepas masa tugasnya habis di Bandung. Setidaknya, beliau mempunyai keleluasaan yang luas pasca keputusan ini dan keleluasaan itu akan memiliki fundamental politik yang cukup kuat dan rasional.

Ikuti tulisan menarik Ronny P Sasmita lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler