Ketika Indonesiana Banjir Komunis - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

TNI Dinilai Masih Dihantui Komunisme

Mukhotib MD

Pekerja sosial, jurnalis, fasilitator pendidikan kritis
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Ketika Indonesiana Banjir Komunis

    Dibaca : 2.817 kali

    Phobia terhadap komunis, yang selalu diterjemahkan sebagai ideologi anti Tuhan, tak percaya adanya Tuhan, masih cukup kuat terasa di negeri ini. Padahal, seorang yang mengaku dirinya atheis, pun tak serta merta ia seorang komunis.

    Seorang teman, dalam perbincangan santai, pernah mengatakan memang partai komunis telah mati, gagasan-gagasannya telah tumbang dan tak terbukti saat mengandaikan terjadinya pembusukan dalam sistem kapitalistik.

    Tetapi menurut teman itu, komunis sebagai ideologi tak akan pernah mati, ia akan terus hidup dalam pikiran penganutnya. Sebagai ideologi, ia juga akan terus disebarkan, disampaikan untuk kembali mendapatkan pengaruh dan pengikut.

    Kekhawatiran, ketakutan, permusuhan, dan tentu saja terkait dengan bangkitnya ideologi komunis di Indonesia, terepresentasikan dari banjirnya tulisan mengenai komunis di blog Indonesiana. Terutama setiap gerakan yang bisa dikaitkan dengan simbol dan penanda komunis: terma kiri, dan tuntuan permohonan maaf pemerintah Indonesia.

    Benarkah ideologi bakal mungkin bangkit di Indonesia? Tak ada yang bisa menjamin, tentu saja. Tetapi manakala ideologi komunis hanya sebagai aliran pemikiran, haluan politik, dan mereka yang menganut ideologi komunis tetap percaya adanya Tuhan, memeluk agama, dan beribadah sesuai dengan ajaran agamanya, seharusnya mereka tetap bisa hidup di bawah naungan PANCASILA. Sebab, mereka mengikuti prinsip Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa.

    Hanya saja, bangkitnya sebuah ideologi, sebenarnya sangat tergantung pada seberapa besar manfaat ideologi bagi kehidupan manusia pada umumnya. Ideologi akan mati dengan sendirinya, manakala gagasan-gagasan yang dikembangkan memang sama sekali tak lagi memiliki manfaat bagi kehidupan rakyat kebanyakan.

    Ideologi bisa bangkit kapan saja dan di mana saja, manakala haluan pemikiran itu, menemukan momentumnya bagi rakyat kebanyakan yang sedang membutuhkannya. Mungkin tidak bisa akan  bisa bangkit secara sempurna, mungkin saja yang hidup sekadar cabang-cabang pemikirannya, atau motivasi gerakannya.

    Artinya, tak hanya ideologi komunis, melainkan seluruh ideologi yang pernah hidup, sedang hidup atau bahkan yang akan hidup. Sebab ideologi pada posisi kehidupan rakyat, sesungguhnya sebuah ikhtiar dalam mencari tatanan kehidupan yang lebih.

    Lantas, apakah kita mesti masih tetap takut dengan ideologi, termasuk ideologi komunis? Latar pengetahuan dan pengalaman setiap orang yang berbeda akan melahirkan jawaban yang berbeda pula. Posisi Anda, kalau begitu di mana? Kalau saya, sama sekali tak takut dengan ideologi, sebab ia akan mati dengan sendirinya, manakala tak memberikan apa-apa dalam kehidupan masyarakat.***


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.













    Oleh: Admin

    3 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 807 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).