x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Guruku Bertebaran di Seantero Bumi

Para penulis hebat adalah sebagian guru yang mengajarkan pemahaman ihwal kehidupan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

Banyak alasan mengapa membaca buku. Bagi saya, membaca buku adalah salah satu jalan untuk menjumpai para penulis yang bertebaran di seluruh muka bumi. Sebenarnyalah, mereka guru—kepada siapa saya dapat belajar beragam kearifan tanpa terhalang oleh batasan waktu maupun rintangan geografis. Perbedaan bahasa kadang-kadang memang jadi tantangan, tapi selalu ada jalan untuk dapat membaca karya mereka.

Para guru itu senantiasa menyediakan waktu untuk merenung dan berimajinasi. Mereka menghimpun segala pengalaman dan pemahaman tentang hidup serta menuangkan pikiran ke dalam tulisan. Para guru itu berbicara melalui sudut pandang masing-masing. Satu cabang pengetahuan memiliki beragam aliran yang mencerminkan keragaman sudut pandang dan keyakinan para guru itu.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Dalam kesendirian, para guru itu berpikir—merenungkan alam semesta dan segala peristiwa yang berlangsung di dalamnya. Mereka mencari tautan, koneksi, interaksi di antara manusia, benda, lingkungan, dan peristiwa dalam ikhtiar menemukan pemahaman tentang alam, jiwa, masyarakat, sejarah, bahasa, hingga tubuh manusia. Mungkin mereka akan melangkah ke alam transenden, mungkin pula tidak.

Guru yang lain bergerak di ranah fiksi. Mereka para penulis yang berimajinasi untuk mengisahkan kembali apa yang ia pahami tentang dunia dan membayangkan yang mungkin belum atau tidak terjadi. Kekuatan mereka, kata Toni Morrison, terlihat pada kemampuannya dalam ‘membayangkan yang bukan dirinya, mengakrabkan sesuatu yang asing, dan memistifikasi yang sudah dikenal’. Para guru itu melihat yang tidak terlihat oleh kebanyakan orang, merasa yang tidak dirasakan oleh kebanyakan orang, mencium aroma yang tidak terbaui oleh kebanyakan orang.

Yang fiksi dan yang nyata lantas bersilangan dalam beragam cara. Guru manajemen menyerap inspirasi dari guru fiksi dan mengajarkan ihwal kepemimpinan dan sikap empatetik kepada murid-muridnya. Guru fiksi menyerap teori fisika ketika menuliskan kisah perjalanan ke masa depan.

Barangkali terkesan unik bahwa para guru itu bekerja di berbagai belahan bumi, sendiri-sendiri. Seperti dikatakan oleh Paul Aster: “Memang aneh menghabiskan hidup dengan duduk sendiri di suatu ruangan sepi dengan pena di tangan, jam demi jam, hari demi hari, tahun demi tahun, berjuang meletakkan kata-kata di atas secarik kertas.”

Ketika seorang penulis tengah menuangkan gagasannya di laptopnya di Surabaya, penulis yang lain sedang merangkai argumentasi bagi karya historisnya di Edinburg. Mereka bertebaran di seantero bumi, mungkin menulis pada waktu yang bersamaan: tentang tema yang sama namun dengan sudut pandang berlainan. Ini bukan untuk saling bersaing, melainkan saling melengkapi.

Begitulah yang dibayangkan David Grossman dalam Writing in the Dark: “Ada kalanya saat aku bekerja... aku berpikir: Sekarang, saat ini, duduk pula penulis-penulis lain, yang tidak kukenal, di Damaskus dan Tehran, di Kigali dan Dublin, di Israel dan Palestina, di Chechnya dan Sudan, di New York dan Kongo... yang, seperti aku, terlibat dalam kerja penciptaan yang asing dan mengherankan, dalam realitas yang mengandung begitu banyak kekerasan dan keterasingan, ketakacuhan dan kekurangan. Aku memiliki sekutu jauh yang tidak mengenalku dan bersama-sama kami merajut jejaring tanpa bentuk ini, merajut kekuatan untuk mengubah dunia dan menciptakan dunia, kekuatan untuk memberikan kata-kata kepada yang diam.”

Mereka—para penulis itu, para guru itu, pada dasarnya, mengajarkan ihwal kehidupan dengan cara masing-masing dan dengan kepakaran masing-masing. Mereka mengajar dengan hati, sedangkan buku hanyalah sarana. Sebagai murid, yang saya punya hanyalah hasrat untuk menemukan hikmah dan kearifan dalam pengajaran mereka. Seperti kata Hasan al-Bashri, hikmah yang baik dapat datang dari mana saja. (sumber ilustrasi: thehistoryblog.com) ***

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler