x

Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono saat menyampaikan pemaparan dalam Penataran Pimpinan dan Kader Partai Demokrat di Bogor, Jawa Barat, 28 Maret 2016. Penataran pimpinan dan kader utama Partai Demokrat ini dihadiri pejabat utama DPP

Iklan

mohammad mustain

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Baret Politik Pak SBY

Pemakaian topi baret ternyata sarat makna, terlebih lagi saat Pak SBY yang mengenakannya. Masalahnya, sebaiknya baret itu miring ke mana?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Jadi figur panutan itu memang selalu menarik perhatian. Tingkah laku, ucapan, dan apa yang dikenakan bisa jadi bahan pembicaraan. Tulisan ini pun tak terlepas dari hal itu. Gara-gara melihat Pak SBY muncul di televisi dengan pakaian seragam Partai Demokrat lengkap dengan baret birunya (miring ke kanan lho), saya jadi penasaran mengapa Pak SBY suka mengenakan baret.

Ternyata, setelah saya baca banyak tulisan, tidak hanya Pak SBY yang suka pakai baret. Dulu saat kampanye Pilpres, Pak Jokowi suka juga pakai baret merah. Pak Prabowo juga begitu, pakai baret merah. Pak Surya Paloh ternyata juga senang pakai baret birunya Nasdem itu. Dan, semuanya miring ke kanan. Yang belum saya lihat, Pak Wiranto dan Pak Sutyoso apa juga suka pakai baret, ya.

Di Indonesia, pemakaian topi baret cenderung diartikan militeristik.  Kecuali Pak Jokowi, tokoh-tokoh di atas yang kini memimpin partai, semuanya berlatar belakang militer atau keluarga militer.  Di luar itu, topi baret sudah lama digandrungi di kalangan non militer. Banyak sekali ormas kepemudaan organisasi sayap parpol, menggunakan baret. Seragamnya pun juga “bersuasana” militer.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Namun, sejarah topi baret ternyata cukup panjang. Tak hanya dipakai kalangan militer, topi ini pernah juga menjadi trend di kalangan artis dan pesohor dunia, di Eropa hingga Asia. Saya kutip dari id.wikipedia.org;  penggunaan topi baret di kalangan militer sudah ada sejak abad ke-17 di kalangan militer Skotlandia. Volontaires Cantabres pasukan Prancis di Basque juga menggunakan baret biru antara tahun 1740 hingga 1760-an. Di Spanyol, pemberontak Carlisme menggunakan baret merah pada 1830-an.

Topi baret juga telah menjadi bagian dari stereotip lama di kalangan cendekiawan, sutradara film, seniman, penyair, dan hippi. Pelukis Rembrandt dan komposer Ricard Wagner juga mengenakannya. Di Amerika dan Inggris pada pertengahan abad dua puluh terjadi ledakan penggunaan baret. Di Cina juga demikian, untuk fashion atau pernyataan politik.

Che Guevara, tokoh revolusioner Argentina yang mengenakan baret hitam dengan bintang kuningan, menjadikannya simbol revolusioner. Tentara Republik Irlandia Sementara, gerilyawan ETA, Black Phanter Party di AS, Black Beret Cadre juga menggunakannya.

Namun, baret juga dipakai kalangan agama, yaitu penganut gerakan Rastafari yang mengenakan baret rajutan besar dengan warna khas merah, emas, hijau, di atas rambut gimbal mereka. Baret dan rambut gimbal mereka anggap simbol perjanjian Alkitab Tuhan dengan orang-orang yang dipilihnya, yaitu Israel Hitam.

Kalau dilihat dari kalangan pemakainya, baret bisa dinilai melambangkan keberanian, perjuangan, intelektualitas, kecendekiaan, sikap politik atau hanya sekedar fasion. Topi baret dengan aneka warnanya itu ternyata sarat dengan nilai, tak sekedar pelengkap pakaian dan peneduh kepala. Bahkan bagi kalangan Rastafari, topi baret sarat nilai keagamaan.

Pemakaian baret juga beragam di Indonesia. Tak hanya di militer, di kalangan sipil seperti polisi, pramuka, satgas partai hingga pimpinan partai pun menyukainya. Bagi kalangan militer, baret adalah simbol kehormatan, keberanian, dan perjuangan, profesionalisme. Untuk memperolehnya tidaklah mudah, perlu perjuangan dan pelatihan khusus. Demikian pula bagi korp kepolisian. Setelah dinyatakan layak, barulah seorang prajurit atau polisi berhak mengenakan baret.

Entah bagaimana kriteria pengenaan baret di kalangan luar militer dan kepolisian. Pemuda Panca Marga dan Pemuda Pancasila misalnya juga punya baret. Banser di bawah NU juga punya baret. Di kalangan parpol, Garda Pemuda Nasdem, Pemuda Ka’bah, Satgas Cakra Buana, juga punya baret.  Mereka juga menjalani pelatihan ala militer. Saya tak hendak mempermasalahkan seragam ala militernya, karena sudah ada undang-undang  yang mengaturnya.

Penggunaan baret memang tidak bisa dimonopoli oleh militer saja. Bisa saja besok atau lusa akan kembali jadi trend fashion seperti waktu-waktu yang lalu.  Lihat saja para penggemar Superman itu; mereka rela menonton film tokoh pujaannya dengan mengenakan kostum ala Superman. Kerabat saya yang mengidolakan Kanjeng Sunan Kalijogo, masih suka memakai baju surjan lurik dengan sarung hitam. Saat ini pun, beberapa anak muda yang mengidolakan Che Guevara, suka menggunakan topi baret hitam juga.

Meski demikian, pemakaian baret miring ke kanan atau miring ke kiri,  masih bisa diperdebatkan. Ada aturan tertulis atau tidak, pemakaian baret miring ke kanan atau miring ke kiri, memiliki makna tersendiri. Pemakaian baret miring ke kanan (emblem berada di kiri) diterapkan di kalangan TNI melambangkan fungsi tempur atau siap tempur. Sementara baret miring ke kiri (emblem berada di kanan) melambangkan fungsi penegakan hukum, pengamanan, dan ketertiban warga. Korp kepolisian, polisi militer menggunakan baret dengan posisi ini. Pramuka memakai baret dengan posisi miring ke kanan karena Pramuka dulunya memang pasukan cadangan milter.

Baret Politik Parpol

Bagaimana penggunaan baret di luar TNI, Polri, dan Pramuka, harus miring ke mana, kanan atau kiri? Mengacu kepada fungsi sebelumnya, yakni kanan ‘siap tempur’ dan kiri pengamanan, penindakan, ketertiban, jawabannya sebenarnya sudah jelas. Karena di luar fungsi tempur, ormas atau pun parpol jika menggunakan baret seharusnya miring ke kiri (amblem di sebelah kanan). Dengan demikian, ada pembagian yang jelas antara wilayah hukum, ketertiban, keamanan dan pengamanan warga, dengan wilayah pertahanan dan keamanan negara dengan satuan tempurnya.

Soal nanti negara dalam keadaan bahaya dan memerlukan bantuan tempur, baret dari ormas, satgas, atau parpol bisa berubah miring ke kanan atau siap tempur. Bukankan kewajiban warga negara untuk membela negaranya. Jangan sampai terjadi, saat damai baret miring ke kanan  saat negara membutuhkan justru miring ke kiri.

Kembali ke pemakaian baret di kalangan ormas, satgas, atau parpol. Kalau kita lihat foto-foto yang beredar di mbah Google, hampir semuanya miring ke kanan. Pak Jokowi, Pak Prabowo, Pak Surya Paloh juga mengenakan baret miring ke kanan. Terakhir, saat membuka pelatihan kader Partai Demokrat menyongsong Pilkada 2017 di Bogor Senin lalu, Pak SBY, Ibu Ani, dan pengurus partai itu kompak mengenakan baret biru lengkap dengan jas kebesarannya. Semua baret itu dikenakan miring  ke kanan (emblim di sebelah kiri).

Sebagai mantan militer, Pak SBY memang sudah akrab dengan baret yang tentunya juga miring ke kanan. Dan ketika Pak SBY kembali mengenakan baret di luar kemiliteran, yakni di Partai Demokrat dengan warna birunya, mungkin secara reflek pula akan mengenakannya miring ke kanan. Namun, bisa pula diartikan pengenaan baret itu menunjukkan kesiapan partai untuk memenangkan ‘pertempuran’ di Pilkada 2017.

Tidak bisa dipungkiri, ada yang menghayati hiruk pikuk politik kita selama ini sebagai medan pertempuran. Berpolitik dihayati sebagai bertempur untuk memenangkan pilihan rakyat. Karena penghayatan semacam itu, yang muncul adalah segala macam strategi dipergunakan untuk memenangkan pertempuran itu. Jadilah dunia perpolitikan kita sebagai medan pertempuran yang (maaf) kurang mengabaikan etika. Yang ada hanyalah siapa yang kalah siapa yang menang.

Pesta demokrasi, seperti yang tampak pada pemilu lalu, mempertontonkan show of force. Satgas partai dan juga para pimpinannya sering mempertontonkan parade yang militeristik dengan seragam bahkan kendaraan yang ala militer pula.  Memang ada ketetapan agar kampanye itu menjual program. Namun di tengah kerumunan massa yang begitu banyak, apa yang bisa dilakukan selain memompakan semangat ‘pertempuran’ untuk memenangkan pemilu.

Saya sendiri lebih condong memaknai berpolitik sebagai berjuang untuk mewakili, menyerap, dan menjalankan amanat rakyat. Pemahaman semacam ini lebih sejuk. Meski sama-sama berusaha meraih pilihan dan aspirasi rakyat, namun karena ‘berjuang’ dan bukan ‘bertempur’ maka cara dan hasil akhirnya pun tidak selalu kalah atau menang. Dan seperti tradisi kita selama ini, setelah pemilu selesai (baik pilpres, pileg, pilkada), para pimpinan parpol atau calon yang maju bisa saling bersalaman. Damai.

Partai politik memang mengemban tugas penting dalam menjamin berjalannya demokrasi. Partai poltik adalah pelaku utama, yang bertugas melaksanakan kaderisasi kepemimpinan nasional. Partai politik juga bertugas menyiapkan kader yang mampu menyusun undang-undang, taat hukum, dan  kader yang mampu menjembatani kepentingan rakyat dan negara. Tugas ini jelas tidak bisa dilakukan dengan cara-cara ‘pertempuran’.

Lepas dari penilaian baret bersifat militeristik, pemakaian baret dari sejarahnya mengandung makna semangat, keberanian, perjuangan, dan juga kebanggaan, atau hanya fashion semata. Pemakaian baret oleh parpol atau ormas tentunya juga tak lepas dari itu. Kalaupun toh ada ada nuansa militer di sana, itu lebih pada adopsi kedisplinan dan militansi. Parpol adalah wujud demokrasi dan ia akan berjalan sesuai fitrahnya, tak mungkin bisa menyamai atau disamakan dengan organisasi militer.

Akhirnya, lepas dipakai miring ke kanan atau miring ke kiri, baret tetaplah bukan sekedar penutup kepala. Ia sarat makna. Namun alangkah eloknya, di Indonesia ini baret di luar ketentaraan, dipakai miring ke kiri dengan emblim di sisi kanan. Lebih damai. Itu gampang kok, hanya perlu pembiasaan.

Teriring salam damai dari desa.

Salam.

Ikuti tulisan menarik mohammad mustain lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan