Kapan Ya, Fadli Zon Pakai Rompi Orange KPK

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ungkapan politisi yang mirip doa atau nazar itu sering sekedar sindiran, harapan, atau rasa putus asa. Jangan terlalu serius menanggapinya.

(Mas/Mbak admin, mohon jangan diberi foto fadli zon)

Jangan senewen atau berharap lebih membaca judul tulisan ini. Itu hanya ungkapan yang bisa muncul kapan saja, jika situasi psikologis seseorang memungkinkan menyatakannya. Dan ungkapan itu, juga bukan sesuatu yang terlalu istimewa jika berhenti hanya sebatas ungkapan, seperti yang saat ini lagi ngetrend di kalangan politisi kita.

Masih hangat, pernyataan Fadli Zon, ‘’mudah-mudahan kita  diberi umum panjang sehingga bisa melihat Ahok pakai rompi orange”. Ungkapan Fadli Zon itu menanggapi ungkapan Ahok, ‘’Saya doakan pimpinan BPK panjang umur, bisa lihat saya jadi presiden.” Inilah ungkapan politis. Ada sindiran, harapan, dan juga keputus-asaan.

Nah, ketika mendengar ucapan Fadli Zon itu, sangat mungkin akan muncul ungkapan balasan dari pihak lain, seperti judul tersebut, “kapan ya Fadli Zon pakai rompi orange KPK”.  Situasi lain, juga mungkin akan memunculkan ungkapan seperti itu. Misalnya saja, saat mendengar kesaksian Damayanti soal suap proyek di Kementerian PUPR, terkait dana aspirasi. Seseorang bisa saja begitu antusias dan menganggap semua anggota DPR kecipratan. Karena sebelumnya dia punya penilaian khusus pada Fadli Zon, bisa saja muncul ungkapan itu.

Ungkapan politis memang terkadang datar saja, seperti “tak ada makan siang gratis”. Namun, sering pula menyodok langsung ke sasaran. Meski demikian, ungkapan itu punya satu ciri khusus yaitu menarik perhatian massa. Ini sesuai dengan sifat politisi yang selalu ingin menarik perhatian konstituennya. Ya, mirip artis lah. Artis hidup hidup dari perhatian penggemarnya. Politisi pun sama juga, hidup dari dukungan konstituennya.

Karena itulah, tak perlu kaget kalau ada politisi yang siap digantung di Monas. Itu ucapan Anas Urbaningrum mantan ketua umum Partai Demokrat, 9 Maret 2012 lalu, menanggapi pemeriksaan dirinya oleh KPK . “Jika Anas terbukti melakukan korupsi satu rupiah saja, saya siap digantung di Monas.”

Ada juga politisi yang siap terjun dari monas. Kalau ini, Habiburrokhman ketua DPP Partai Gerindra, yang menyatakan siap terjun dari Monas kalau pengumpulan KTP oleh Teman Ahok jumlahnya memenuhi syarat. Saat ini, pengumpulan KTP telah melebihi jumlah minimal seperti yang telah diputuskan MK tapi Habiburrokhman masih tenang-tenang saja. Padahal Ahok pernah bilang, “Saya siapkan ambulannya.”

Masih ada lagi yang siap dipotong “titit-nya”. Yang satu ini pasti gampang diingat. Ya itu bunyi tweet saat pilpres lalu. Bunyi tweet 23 Juni 2014 itu sederhana,  “Saya akan potong kemaluan saya kalau Jokowi bisa menang dari Prabowo Subianto. Itu Sumpah saya”. Namun, Achmad Dhani yang punya akun tweeter itu membantah, kalau ia menulis seperti itu. “Tweet saya di-capture terus diedit.”

Nah, yang terakhir, tak perlu kaget juga kalau Abraham Lunggana ketua DPW PPP Jakarta, yang biasa dipanggil Lulung itu bilang, “kalau Ahok berani tuntut KPK, potong kuping gue”.  Ini terkait perseteruan Ahok dan BPK yang kian memanas. Dan Ahok pun membalas, “Potong satu kuping atau dua kuping ya”. Besok, mungkin akan muncul ungkapan lain yang tak kalah menariknya.

Ungkapan politis memang akan terus sambung-menyambung sesuai situasi politik yang ada, dengan ciri khasnya, menarik perhatian massa. Ia bisa berisi sindiran, harapan, atau bahkan rasa putus asa. Putus asa karena lawan politiknya hoki terus, putus asa karena manuvernya kandas terus. Masalahnya adalah, apakah ungkapan politis ini harus ditanggapi sebagai kebenaran atau hanya sekedar ungkapan kosong belaka.

Melihat kenyataan selama ini, ungkapan yang muncul  dari politisi itu tak lebih dari sekedar ungkapan untuk menarik perhatian. Meski kalimatnya sangat mirip dengan nazar seseorang, realitasnya bisa jauh  berbeda. Seseorang yang bernazar, umumnya meyakini nazarnya itu didengar Tuhan dan apa yang akan dilakukan jika nazarnya terbukti adalah kewajibannya terhadap Tuhan. Di dunia politik  tak ada nuansa seperti itu.

Karena itulah, mengharapkan seorang politikus melakukan apa yang telah diungkapkannya  malah akan membuang waktu saja. Anggap saja itu pantun berbalas pantun, ungkapan berbalas ungkapan untuk meramaikan dan menarik perhatian massa. Meski demikian, para politikus tak selamanya bisa mengandalkan kebaikan hati masyarakat untuk memahami ungkapannya seperti itu.

Berkaca pada pengalaman sendiri. Kita mungkin juga pernah mengalami situasi, saat jomblo, melihat kawan punya pacar cantik dan siap menuju ke perkawinan. Tiba-tiba saja muncul bisikan di hati, “kapan ya, saya punya pacar cantik dan mau menikahi lelaki jomblo model saya ini.” Atau, kalau anda tergolong religius, “Ya Rab, berilah saya pacar cantik dan mau saya ajak menikah.”

Bagi yang terlanda kesulitan ekonomi, karena hutang atau bayaran yang pas-pasan, mungkin juga ada bisikan di hati “kapan ya saya punya uang miliaran sehingga bisa bayar utang, beli rumah, mobil, dst.” Atau, kalau anda religius, “Ya Rab, beri hambamu ini rezeki yang banyaaaaak sekali, uang yang banyaaaak sekali, dst.”

Dua contoh soal jomblo dan kekurangan uang itu memunculkan ungkapan berisi harapan. Tentu, harapan itu bisa dipenuhi sehingga bisa mengubah keadaan. Namun, bisa juga ungkapan itu muncul akibat rasa putus asa karena muskilnya keinginan itu. Misalnya saja, punya tampang pas-pasan atau bahkan minus pingin punya pacar cantik, sementara modal juga kupret.

Namun, patut diingat pula ungkapan yang berwujud doa kepada Tuhan selalu mungkin terwujud. Nah, inilah yang perlu dipertimbangkan oleh para politisi saat mengeluarkan ungkapan yang aneh-aneh itu, yang mirip nazar, doa, atau sekedar seloroh. Warga biasa yang menganggap pemimpinnya yang terbaik,  bisa saja menerima ungkapan politisi itu dengan serius.

Jika dia mendapati ungkapan terlalu sombong, menyerang idolanya, atau bahkan mengusik rasa keadilannya, dia bisa mengeluarkan ungkapan doa kepada Tuhan. Misalnya, “Ya Rab, buktikan Anas itu bersalah sehingga mau digantung di Monas.”

Bisa juga, “Ya Rab, jadikan Jokowi-JK presiden dan wapres kami, sehingga titit si Anu dipotong.”

Atau, “Ya Rab, beri kekuatan Teman Ahok untuk mengumpulkan KTP, sehingga Habiburrokhman mau terjun dari Monas.”

Atau lagi, “Ya Rab, beri kekuatan Ahok untuk menggugat BPK agar Lulung telinganya dipotong, entah kiri atau kanan, Yang penting dipotong.”

Jika muncul ungkapan doa semacam itu dari rakyat akibat model komunikasi politisi dengan ungkapan-ungkapannya yang “khas” itu, tentu akibatnya bisa fatal bagi politisi bersangkutan. Karena itu, lebih baik berkomunikasi yang wajar saja, tak perlu terjun dari Monas, potong titit, atau potong telinga. Itu kurang bagus, apalagi kalau anak-anak yang pikirannya masih lugu itu mendengar atau membacanya. Masyarakat kita pun sebagian masih lugu dan bisa serius menanggapi ucapan politisi itu apa adanya.

Kembali ke judul tulisan ini, “Kapan ya, Fadli Zon pakai rompi orange KPK?” Ungkapan itu tak apa-apa kalau keluar dari Ahok misalnya, sebagai balasan atas pernyataan Fadli Zon sebelumnya. Atau, sebagai kelakar dari pendukung Ahok yang terusik. Namun, kalau ungkapan itu muncul dari doa orang kecil saleh, yang mengidolakan Ahok, tentu akan lain lagi.

 

Salam.

Bagikan Artikel Ini
img-content
mohammad mustain

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Ormas Intoleran Pasca Ahok Kalah

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua