x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Berbakat Itu Bagus, Berlatih Makin Bagus

Berlatih teratur adalah cara sederhana untuk membangkitkan daya kreatif kita.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

“Manusia kreatif termotivasi oleh hasrat meraih sesuatu, bukan oleh hasrat mengalahkan orang lain.”

--Ayn Rand (Penulis, 1902-1985)

 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Untuk jadi kreatif, kata para empu, mula-mula diperlukan keyakinan bahwa kita, setiap orang, telah dibekali dengan bakat, kemampuan bernalar, kepekaan hati untuk merasa, kesukaan akan sesuatu, dan banyak lagi. Pendeknya, manusia tidak akan ‘diterjunkan’ ke dunia ini dengan bekal kosong melompong.

Bakat pada umumnya berbeda-beda, tapi kita seringkali memaksakan diri untuk mengikuti atau menjalani sesuatu yang mungkin kita tidak cukup punya bekal di dalamnya. Namun, terkadang penilaian terhadap bakat begitu berlebih atau boleh dibilang overrated. Maksudnya, ada anggapan bahwa setiap orang yang berbakat dalam bidang tertentu, ia pasti akan sukses.

Bakat, kata para empu dan orang-orang hebat, para penemu, inovator, jenius, hanyalah sebagian dari prasyarat. Terdapat unsur lain yang bahkan lebih penting, yakni berlatih. Kita memerlukan latihan-latihan untuk mengasah bakat agar menjadi bersinar—berlian pada dasarnya sudah memukau, tapi penggosokan yang hebat bisa membuat siapapun kehilangan kata-kata.

Bagaimana mengasah bakat agar lahir kreativitas? Ada banyak cara untuk mengusik bakat kita sehingga daya kreasi kita terpantik—cara yang praktis, yang sanggup membuat kita tergerak, yang mampu mengusik ketenangan kita, yang dapat kita lakukan sehari-hari.

Pertama, banyak orang hebat telah berkreasi dan berinovasi. Mereka melahirkan karya-karya mengagumkan dalam bidang yang sangat beragam: teknologi komputer, kimia, sastra, film, kuliner, lukis, dan sebagainya. Banyak buku telah ditulis mengenai sepak terjang mereka. Bacalah buku-buku inspiratif mengenai perjalanan hidup mereka.

Kedua, bacalah karya fiksi yang memprovokasi pikiran. Novel dan cerita pendek sejenis ini akan mengusik benak kita, membuatnya tidak bisa diam nyenyak, memaksa kita berpikir yang mengasyikkan. Karya penulis fiksi yang hebat mampu memperluas horison, membukakan kemungkinan-kemungkinan yang semula terkesan mustahil, membawa pikiran dan perasaan ke pengembaraan dunia antah berantah. Sebagai pembaca, kita juga bisa luas berimajinasi.

Ketiga, memperhatikan dunia sekeliling bukan hanya bagian dari kesadaran diri (self-awareness) terhadap lingkungan, tapi sekaligus menjadi proses belajar. Kita dapat memperhatikan bagaimana orang-orang hebat di sekeliling kita bekerja, mengapa ia melakukan ini dan bukan itu. Kita juga bisa mengamati kanak-kanak yang asyik dengan permainannya—kita dapat menemukan cara berpikir mereka yang unik, yang dulu kita juga memilikinya. Meskipun mengalami sendiri merupakan peristiwa luar biasa, tapi ada hal-hal tertentu yang kita cukup belajar dari pengalaman orang lain.

Keempat, lakukanlah hal-hal yang belum pernah kamu kerjakan. Pecahkan ‘balonmu’. Keluarlah dari zona nyaman. Melangkahlah keluar dari kandang. Lihatlah betapa dunia begitu luas dan berwarna. Jika kamu terbiasa dengan aktivitas tertentu, cobalah melakukan aktivitas lain yang berbeda dan menantang imajinasimu dan daya kreatifmu. Jika kamu terbiasa memasak, cobalah berlatih menari atau melukis. Bisa pula, kamu mengubah halaman depan menjadi taman bermain yang nyaman.

Kelima, selalulah bertanya mengenai apa saja, mulai dari kebiasaan kita sehari-hari, mengenai cara kita bekerja selama ini, hingga tentang kemungkinan terjadinya kembali zaman es di bumi. Ini bagian dari melatih kemampuan berpikir kritis—menanyakan sesuatu yang mungkin tidak terpikirkan oleh orang lain. Michael Dell pernah bertanya: “Mengapa harga sebuah komputer mencapai lima kali lipat harga seluruh komponennya sebelum dirakit?” Pertanyaan ini mendorong Dell untuk membuat komputer yang dirakit sesuai keinginan pembeli dengan harga lebih murah dari komputer pabrikan.  

Keenam, ajukanlah tantangan kreativitas terhadap diri sendiri—mulailah dari hal-hal kecil terlebih dulu. Ketika melihat kamar mandi berantakan, apa yang bisa kita lakukan agar terlihat seperti kamar mandi hotel; apa yang perlu kita singkirkan, dan apa yang sebaiknya kita tambahkan? Bagaimana membuat sendiri ravioli yang sangat lezat? Motivasi sangat penting agar kita mau melakukan praktik untuk meraih kemajuan. Motivasi adalah daya dorong  yang menggerakkan kita melangkah maju. Jangan biarkan rasa putus asa menghampiri kita.

Selanjutnya, ada baiknya saya kutip kata-kata penulis Ayn Rand: “Manusia kreatif termotivasi oleh hasrat meraih sesuatu, bukan oleh hasrat mengalahkan orang lain.” (foto: tempo) ***

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu