x

Pemain film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) 2, Dian Sastrowardoyo menjawab pertanyaan wartawan saat jumpa pers jelang peluncuran AADC 2 di Yogyakarta, 22 April 2016. ANTARA/Andreas Firti Atmmoko

Iklan

indri permatasari

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

AADC 2 yang Kurang Gurih (Review)

Setelah ratusan purnama berlalu tanpa kabar. Akankah Cinta menemukan cintanya kembali. Adakah Rangga, lelaki sesungguhnya yang ia cintai?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Saya yakin sekali dulunya banyak yang  deg-deg an saking antusiasnya menunggu penayangan film AADC2. Bahkan sampai ada yang baper cuma gara-gara dengar soundtracknya. Ya saya maklum saja sih, wong namanya orang kalau sudah ngefans sama sesuatu seringkali hal-hal yang ndak masuk akal menjadi wajar adanya.

Lha bagaimana tidak, AADC2 ini layaknya sebuah oase di tengah padang pasir maha luas, sudah ditunggu lebih dari satu dasawarsa lamanya, atau kalau meminjam istilah mas rangga, sudah dinanti melampaui ratusan purnama. Bayangkan saja betapa besar renjana yang tercipta di sana.

Sebenarnya saya sih biasa saja menyikapi fenomena heboh AADC2, karena kebetulan saya bukan jenis manusia pecinta genre film ini. Namun demi tegaknya harga diri agar tak disebut manusia yang ndak kekinian, maka saya sempatkanlah menengok film ini. Tak apalah toh saya bisa berdalih demi ikut memajukan dunia perfilman  Indonesia, meski hati berontak karena ingin nonton lagi Civil War. Untunglah saya masih bisa mengendalikan diri dan menjunjung tinggi nasionalisme hingga akhirnya mbak Cinta pun menang melawan Captain America.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

***

Antusiasme masyarakat Ibukota terbukti luar biasa menyambut film garapan sutradara Riri Riza ini. Lobby bioskop berjubel dan kursi penuh terisi meski bukan di hari pertama penayangannya. Dalam hati saya mbatin, hebat sekali. Masyarakat kita memang penikmat nostalgia sejati kalau bab hal yang menyenangkan. Tapi suka lupa diri kalau nyangkut hal-hal yang mbencekno.

Baiklah, review abal-abal akan saya mulai, mohon maaf jika banyak sampah spoiler tak berguna atau sinisme dan kritik tak bermutu yang mungkin saja muncul tanpa permisi.

***

Alkisah, mbak Cinta dan gengnya sudah menjelma menjadi perempuan dewasa yang cantik dan sukses dalam karier. Seperti jaman SMA dulu, ternyata mereka juga masih suka hang out bareng, dan galeri seni mbak Cinta dipilih sebagai salah satu lokasi. Ada Maura dan Milly yang masing-masing sudah menikah -seperti kehidupan sesungguhnya- dan Karmen yang rumah tangganya semrawut hingga menjebloskannya dalam kubangan narkotika.

Ahh padahal dulunya Karmen aktif berolahraga, koq ya masih sempat dibodohi pil setan to. Mbok ya mending njenengan itu main basket sampai lelah kalau sumpek hatinya mikirin bojo yang ndak nggenah. Syukur Alhamdulillah Karmen sadar dan bisa lepas dari ketergantungan. Mungkin ini semua ada andil dari sahabat-sahabat baiknya.

Mbak Cinta sendiri diceritakan habis lamaran. Tentunya yang berani ngelamar mesti pengusaha rupawan dan Sugih kaya raya.  Mulusnya hidup mbak Cinta memang semulus kulit wajahnya. Pingin iri sama dia, tapi tentu ndak mungkin wong ndak apple to apple.

Eh sebentar, kaya nya koq masih ada yang kurang ya. Lha iyo mesti. Dimanakah Alya, yang suaranya lembut, yang baik hati, yang sabar, dan pandai ngayem-ngayemi hatinya mbak Cinta kalau dia sudah ngamuk-ngamuk. Ahh, ndak usah saya ceritakan disini lah nanti mengganggu pikiran yang belum nonton. Maka mari kita anggap saja Alya sedang sibuk dengan pendidikannya di luar negeri. Beres to.

***

Singkat kata singkat cerita, untuk menghibur Karmen dan konsolidasi persahabatan mereka, mbak Cinta cs sepakat liburan di Jogja, kota yang sangat pas buat bernostalgia dan baper-baperan mengenang masa lampau. Tentu saja mereka tidak sedang memburu bahan mading sekolah.

Sebagai turis ibukota, mereka menikmati plesiran bareng dengan sebaik-baiknya. Jalan-jalan, maem enak, ngobrol-ngobrol, pokoknya mulia dan sejahtera hidupnya. Hingga keesokan harinya pas mbak Cinta sedang nonton pameran seni  -ingat ya, mbak Cinta sekarang menjelma menjadi wanita yang berkesenian dan melek budaya- , lha koq tiba-tiba, ujug-ujug, mak bedundug bertemulah ia dengan Rangga. Iya, Rangga yang itu, Rangga yang menjanjikan satu purnama untuk kembali kepadanya sebelum mblandhang ke New York, Rangga yang menurut hemat saya amat sangat mbelgedez.

Ternyata momen deg-deg ser itu ndak berakhir mengerikan seperti yang saya bayangkan. Tak kira mbak Cinta bakal melayangkan tinjunya ke hidung Rangga yang berlekuk sempurna, atau meneriakkan pisuhan dan sumpah serapah sambil. Syukurlah itu ndak terjadi. Mbak Cinta sudah lulus ngelmu pengendalian emosi.

***

Munculnya Rangga ternyata ndak tanpa sengaja. Ia balik ke Jogja karena didatangi adik tirinya di New York. Iyaaaa…ternyata Rangga punya adik, koq bisa dia tahu Rangga ada disana, koq bisa tiba-tiba adiknya njedul dan meminta Rangga pulang demi Ibundanya yang sedang sakit, koq Rangga yang spanengan itu mau begitu saja? Koq Rangga akhirnya bisa ketemu sama mbak Cinta di galeri seni yang sama? Hishh..crigis, sana mending tanya sendiri sama Mira Lesmana dan Prima Rusdi yang nulis scenario.

Terus bagaimana kisah selanjutnya, apakah mbak Cinta mau kembali kepada Rangga yang sudah sakpenake dhewe menggantung nasib wanita cantik ini selama lebih dari sepuluh tahun setelah mendengarkan penjelasannya yang sangat logis. Atau apakah mbak Cinta lebih memilih tetap setia pada tunangannya yang jelas ada, mencintai dan menemaninya dikala tak ada Rangga dalam kehidupannya? Apakah geng Cinta masih mendukung percintaan Cinta-Rangga hingga rela playon di bandara seperti zaman dulu? Masih adakah Mamet? Jadi gantengkah dia sekarang?

Nah, kalau itu sih mending njenengan tonton sendiri sana di bioskop. Kalau masih eman mbayar mahal karena njenengan pelit keluar uang ya sudah tunggu penayangannyya di tivi nasional tahun depan.

***

Saya akui, saya tak adil dalam memperlakukan film AADC2. Ketika saya menonton film Civil war, saya sudah menanggalkan semua nalar dan logika di pintu masuk sinema. Saya tak lagi peduli dengan alur tak masuk akal dan adegan janggal atau goof-goof lainnya. tapi karena AADC dulu sangat keren dan melegenda, maka harapan saya laksana terhempas dan memaksa bibir ini berkata…ohh begini saja to akhirnya setelah dinanti puluhan tahun.

Bukan semua ndak bagus di sini. Saya tetap terpukau dengan cara pengambilan gambar dan pemilihan lokasi film di Yogyakarta. Betapa kota ini menjadi sangat indah, orisinil dan menawan. Sebagai manusia yang pernah nunut hidup di kota jogja, sungguh visualisasi yang disuguhkan AADC2 memberikan nuansa yang berbeda, apik dan memanjakan mata.

Namun tentu saja semua kembali kepada selera. Saya yakin banyak yang tetap terpesona dengan garapan Miles Production. Tapi sepertinya saya kurang bisa menangkap pesona ruhnya. Atau mungkin saja saya yang salah karena terlalu memasang ekspektasi yang lain. Terlepas semua itu, saya sungguh berterimakasih kepada puisi-puisi Aan Mansyur yang begitu aduhai.

Akhirnya bagi saya, kisah mbak Cinta dan mas Rangga, seyogyanya tidak perlu dibawa jauh sampai ke Yogyakarta. Cukup saja dituntaskan di bandara Soetta dengan sun-sunan klomoh yang tetap terbayang sampai usia senja.

Ahhh..itu sih menurut saya. Orang yang sama sekali ndak bisa nulis skenario cerita apalagi acting dan mbikin film. Saya sih memang cuma bisa nyinyir. Selalu dan selalu ……

 

------------000--------------

resah di dadamu,

dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini.

dipisah kata-kata

begitu pula rindu.

lihat tanda tanya itu.

jurang antara kebodohan dan keinginanku

memilikimu sekali lagi….

Ikuti tulisan menarik indri permatasari lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu