Petani Jamur Kreatif, Untung Belasan Juta Per Bulan - Analisis - www.indonesiana.id
x

Andik Setyawan (PB)

Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Jember
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Petani Jamur Kreatif, Untung Belasan Juta Per Bulan

    Budidaya Tanaman Jamur

    Dibaca : 8.289 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Jember – Bisnis jamur tiram menjadi suatu bisnis potensial yang belum banyak dikembangkan khusunya di daerah Jember. Salah satu usaha jamur ini yang telah banyak dikenal oleh masyarakat Jember dan sekitarnya adalah usaha pembibitan jamur tiram milik Bapak Fanani yang terletak di Dusun Sepuran, Desa Sumberjari Silo Kabupaten Jember. Pebisnis jamur ini memerankan beberapa peran sekaligus  dalam kegiatan usahanya mulai dari Penyedia bahan tanam (bibit), petani jamur tiram, penyuluh dan pedagang pengepul jamur tiram. Usaha yang dirintis mulai tahun 2006 ini saat ini telah menjadi pemasok bibit jamr dan jamur siap konsumsi untuk daerah Jember dan sekitarnya. Bahkan telah berhasil mengirim produk jamurnya sampai ke Surabaya dan Bali.

    Usaha yang termasuk dalam bidang pertanian (Budidaya tanaman,red) awalnya didirikan karena melihat peluang pasar yang besar. Jumlah permintaan jamur dipasaran kian naik setiap tahunnya sedangkan penyedia jamur sendiri khususnya di daerah Jember masih belum mencukupi permintaan pasar tersbut. Alasan lain yang mendorong Pak Fani sapaan akrabnya untuk memulai usaha cukup mulia, yaitu keinginan untuk membuat dirinya bisa memberi manfaat bagi orang lain dimulai dari tetangga dan masyarakat sekitar. Pak fani, Bos Jamur Tiram Tapalkuda mengungkapkan “Alhamdulillah, usaha pembibitan dan budidaya jamur yang saya lakukan ini telah mampu memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar, baik sebagai petani mitra maupun sebagai pegawai pegolahan di tempat pembibitan”(15/5). Hingga saat ini Fani telah mempunyai 7 orang karyawan sebagai karyawan bagian pengolahan bahan baku pembibitan, sedangkan belasan petani telah menjadi mitra sebagai petani jamur tiram dibawah bimbingannya.

    Modal yang dikelurakan pada saat awal pendirian usaha pembibitan ini adalah sekitar 50 juta, modal tersebut digunakan untuk membeli perlengakapan dan bahan produksi serta renofasi beberapa tempat sehingga sesuai untuk kegiatan pembibitan dan budidaya jamur. Usaha ini oleh pak Fani dilakukan di sebuah rumah tinggal dekat tempat tinggalnya yang kebetulan tidak ditempati. Sedangakn modal yang harus dikeluarkan petani mitra untuk memulai bisnis ini adalah sekita 3 juta untuk keperluan pembelian bibit dan pembuatan rak untuk tempat budidaya.

    Hingga tahun 2016 ini perusahaan ini telah memiliki bangunan seluas 290 m2 yang terbagi menjadi beberapa bangunan seperti gudang penyimpanan media, gudang bahan baku, dan gudang budidaya. Usaha ini telah mampu memproduksi bibit jamur sebanyak 380 backlock setiap harinya. Backlock sendiri merupakan suatu media tempat penumbuhan jamur tiram berbentuk bulat lonjong yang berasal berbagai bahan yang telah diolah sedemikian rupa membentuk suatu media yangs sesuai untuk pertumbuhan jamur tersebut.

    Kegiatan dalam usaha ini terdiri dari 2 kegiatan utama yaitu pembibitan dan budidaya. Langkah yang dilakukan dalam pembibitan adalah dimulai dengan menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan, bahan tersebut terdiri dari serbuk kayu, dedak, kapur dan gilingan jagung serta air. Semua bahan tersebut dicampur menjadi satu kemudian ditambahka air secukupnya kemudian dipres menggunakan alat press hingga memadat, setelah media tercampur dan  memadat langsung dilakukan sterilisasi menggunakan autoclave selama 5-9 jam dengan suhu >100oC dengan tekanan 1 bar. Media yang telah di autoclave (Sejenis presto, red) selanjutnya dibiarkan sampai dengan dingin sebelum akhirnya diinokulasikan jamur Misselium kedalamanya. Media yang telah di inokulasikan jamur selanjutnya dibiarkan selama sekitar 1 bulan hingga akhirnya Mycelium akan tumbuh keseluruh media dan merubah media menjadi berwarna putih. Media yang telah berwarna putih tersebut telah siap dididtribusikan ke seluruh pertani mitra. Banyaknya pesanan yang datang membuat usaha ini terus berproduksi, namun tetap saja pembeli harus antri karena jumlah pemesan yang tidak hanya saja datang dari Jember namun dari berbagai daerah seperti Mojokerto. Hal tersebut terkadang menyebabkan pengambilan bibit oleh pemesan yang belum sempurna siap ditanam di rak dengan warna yang setengah putih sudah langsung dikirim ke pemesan.

     Kegiatan lain yang dilakukan adalah budidaya jamur hasil pembibitan tersebut, bibit yang telah siap selanjutnya diletakkan di rak dan dalam proses perawatannya hanya dilakukan penyiraman atau penyemprotan pada permukaan media setiap padi dan sore. Pada hari ke 15 setelah pemindahan bibit ke rak-rak budidaya, jamur tiram akan mulai tumbuh dan muncul. Pemanenan akan dilakukan setelah 3 hari jamur mulai tumbuh dengan kriteria diameter jamur telah mencapai 6 cm. Pemanenan dapat dilakukan 2 kali dalam sehari yaitu pada pagi dan sore hari. Petani dapat memproduksi dan memanen jamur tiram ini sebanyak 2-12 kg/hari per 1000 bibit.

    Hasil panen baik dari perusahaan maupun dari petani mitra selanjutnya akan di kirim ke pasar-pasar sekitar Jember, dan pengepul maupun konsumen langsung dari warga sekitar harga jual dari jamur tiram ini adalah sebesar Rp 12.000/kg.Keuntungan yang didapat oleh Fani mencapai Belasan juta rupiah dari hasil usaha ini (Andik PB)

    Ikuti tulisan menarik Andik Setyawan (PB) lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.