Bersahabatkah Teknologi Pendidikan?

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Seiring masifnya perkembangan teknologi saat ini, Indonesia dituntut untuk mengaplikasikan teknologi dalam pendidikan.

Sebagai agen perubahan dunia, pendidikan memiliki peran yang sangat vital untuk menciptakan para pemimpin masa depan. Hal ini digenapi oleh perkataan Nelson Mandela "Pendidikan merupakan senjata terampuh yang bisa digunakan untuk merubah dunia."

Lalu, apakah Indonesia sudah mengembangkan pendidikan berdasarkan perkembangan zaman? Sudah, namun dampaknya masih belum signifikan. Dengan anggaran 20% dari APBN, pendidikan Indonesia jauh tertinggal dari negara maju.

Seiring masifnya perkembangan teknologi saat ini, Indonesia dituntut untuk mengaplikasikan teknologi dalam pendidikan. Namun, yang terjadi sebaliknya. Indonesia, melalui pemerintah, terkesan ragu-ragu untuk melakukannya.

Di Indonesia, Youtube kebanyakan hanya menjadi media untuk menonton video atau hiburan. Hal berbeda justru terlihat di negara maju. Youtube juga menjelma menjadi sebuah media yang cukup luas untuk mengembangkan bakat dan belajar. Tak jarang, banyak anak-anak yang meningkat prestasinya.

Ini bisa menjadi gambaran bahwa negara maju sudah mengaplikasikan teknologi ke pendidikan, dimana Indonesia masih mengalami dilema untuk mengimplementasi hal itu.

Beberapa kalangan, terutama kalangan orang tua, menganggap teknologi sebagai lawan, kalangan lain setuju dengan implementasi teknologi di pendidikan.

Jika dilihat, teknologi dalam pendidikan menjawab banyak persoalan. Ketika anak-anak bosan dengan buku cetak, teknologi menghadirkan jenis pendidikan yang menghibur juga mengedukasi. Dimanapun dan kapanpun, Handphone atau gadget bisa menjadi media untuk belajar dan mengerjakan tugas. 

Implementasi ini juga membantu menyelamatkan alam. Pasalnya, teknologi di pendidikan mengurangi penggunaan kertas karena semua aktivitas dilakukan secara online dan realtime. Dengan kata lain, teknologi membuat tidak ada lagi pohon yang tumbang untuk dijadikan kertas.

Teknologi apa yang bisa digunakan? Sekarang ini, banyak aplikasi dan website yang menghadirkan wadah untuk siswa belajar. Wardaya College, Zenius, ataupun Khan Academy menjadi contoh dari teknologi tersebut. 

Beragam materi dihadirkan kepada siswa, mulai dari matematika hingga bahasa Inggris. Mereka juga bisa belajar pengerjaan soal matematika di video pembelajaran yang lebih mudah dimengerti. Ketika lupa rumus, mereka bisa mengakses dengan mudah. 

Youtube juga menjadi salah satu penyedia materi pelajaran yang cukup lengkap. Layaknya menonton video, siswa bisa belajar dan menyelesaikan contoh soal dan jawaban yang mereka hadapi di sekolah.

Sayangnya, baru-baru ini game di-block oleh pemerintah. Padahal, jika ditelisik, pengaruh game terhadap pola pikir anak cukup baik.

Dalam game petualangan, anak akan diajak untuk menggunakan logika untuk menyelesaikan misi yang diberikan. Ini juga membantu anak mengembangkan imajinasi untuk membuat game sendiri nantinya. 

Teknologi memiliki banyak sisi positif untuk pendidikan anak dan siswa. Sayangnya, para orang tua di Indonesia masih berpikir bahwa teknologi memberikan banyak dampak buruk bagi tumbuh kembang anak.

Padahal, dengan pengawasan yang cukup, teknologi bisa menjadi sahabat yang baik untuk menemani anak atau siswa belajar. Jadi, agak salah jika menyalahkan teknologi akibat penyimpangan anak. Kurangnya pengawasa orang tualah yang menyebabkan hal itu terjadi.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Oky Handoko

Seorang yang hobi menulis

0 Pengikut

img-content

Memimpikan Jakarta yang Bebas Macet

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua