x

Iklan

muthiah alhasany

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Regenerasi Mengerikan Perokok di Indonesia

Jumlah perokok selalu bertambah setiap tahun

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pernahkah kita menyadari bahwa jumlah orang yang merokok tidak pernah berkurang? Bahkan meningkat dengan pesat dari tahun ke tahun. Usia perokok semakin muda. Kita sudah sering melihat bahwa anak-anak yang masih duduk di Sekolah Dasar telah menjadi perokok aktif.

Adanya peringatan di bungkus rokok yang dilengkapi gambar tengkorak ternyata tidak mempan untuk menakut-nakuti perokok, hanya dianggap lelucon atau angin lalu. Merokok sudah menjadi bagian dari gaya hidup dan kebutuhan sehari-hari. Bagi perokok, rokok adalah hal yang wajib seperti makan dan minum.

Fakta menunjukkan terjadinya kontradiksi tentang regulasi pemerintah. Di satu sisi pemerintah menganjurkan untuk mengurangi rokok, di sisi lain pemerintah justru membiarkan industri rokok tumbuh berkembang semakin besar. Tak bisa ditampik bahwa pajak atau cukai rokok memberikan pemasukan yang cukup besar bagi negara. Tetapi pemerintah lupa akan kerugian yang bakal ditanggung negara jika memiliki bangsa yang rapuh akibat rokok.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Rokok adalah jembatan menuju narkoba. Walau tidak semua perokok adalah narkoba, pada umumnya anak muda yang sudah mencoba untuk merokok akan mencoba obat bius. Sifat anak-anak muda memang senang mencoba sesuatu yang baru. Semakin dilarang, malah semakin penasaran. Apalagi jika lingkungan pergaulannya sangat mendukung ke arah itu.

Sementara itu, dengan kelonggaran yang diberikan pemerintah, pengusaha rokok semakin merajalela. Mereka menggunakan setiap celah untuk meningkatkan pemasaran rokok. Semakin bertambah jumlah perokok, perusahaan semakin besar dan semakin diuntungkan. Mereka telah merasuk ke setiap lini dengan cara yang tidak terduga.

Kreativitas pemasaran

Hebatnya industri rokok ini mampu mengemas iklan dengan sangat baik sehingga menjadi iklan yang digemari. Misalnya saja iklan Malboro yang menampilkan kegagahan para koboi. Rokok seakan menjadi bagian dari kehidupan pria-pria penunggang kuda tersebut. Jadi iklan itu seolah mengatakan bahwa kaum pria akan tampak gagah seperti koboi jika merokok.

Begitu pula dengan iklan rokok di Indonesia. Iklan menggambarkan satu sosok pria yang 'macho', jantan dan perkasa. Walau tidak tampak bahwa model iklan itu merokok, tetapi pada bagian akhir iklan ada tayangan merek sebuah rokok yang sudah dikenal. Maka kesimpulannya, kalau mau tampak macho dan jantan, harus merokok seperti model tersebut.

Tipe masyarakat Indonesia adalah senang menelan mentah-mentah apa yang disajikan di layar televisi. Lihat saja bagaimana ibu-ibu yang sangat terpengaruh oleh sinetron. Padahal tidak ada hal yang positif dari sinetron tersebut, tetapi kaum ibu menyukai dan memercayainya. Karena itu, penggunaaan model iklan yang menjadi idola masyarakat, jelas akan memengaruhi pikiran masyarakat.

Indoktrinasi

Cara kerja iklan itu seperti pola indoktrinasi kepada orang-orang yang menontonnya. Kalau sudah tertarik pada suatu iklan, mereka akan menontonnya terus menerus. Tanpa sadar, apa yang diucapkan dan dikatakan di dalam iklan tertanam di otak dan alam bawah sadar. Hingga pada puncaknya, akan teringat pada produk yang ditawarkan setiap melihat tokoh atau suasana di dalam iklan.

Demikian pula dengan iklan rokok yang menarik, akan teringat di dalam otak. Ketika ada teman yang mengajak merokok, otomatis otak akan merekomondasikan produk rokok yang sering dilihat. Setelah mencoba merokok, akan ketagihan. Lama kelamaan ia menjadi perokok berat.

Bidang-bidang yang seharusnya terbebas dari pemasaran rokok, kini telah dirambah. Sebagai contoh adalah dunia seni. Misalnya konser-konser musik dari penyanyi dan band yang sedang digandrungi anak muda. Konser-konser tersebut dibiayai oleh industri rokok. Kita akan mendapati gambar-gambar rokok tersebut di dekat panggung, di gerbang atau di dinding sehingga mudah terlihat bagi penontonnya. Maka yang tertangkap dalam pikiran penonton, penyanyi atau band idola mereka adalah perokok merek tersebut.

Selain itu industri rokok juga telah memasuki ranah politik dan keagamaan. beberapa waktu yang lalu, ada sebuah organisasi keagamaan yang mendapatkan sponsor dari rokok. Bayangkan, bahwa dalam rapat tingkat nasional organisasi, dinodai dengan adanya spanduk-spanduk rokok atau SPG yang menjajakan rokok dengan gaun minim.

Mengerikan

Merunut semua hal di atas, tahulah kita bagaimana bisa terjadi regenerasi perokok. Dengan adanya iklan rokok dimana-mana dan dengan cara apa saja, maka setiap hari muncul perokok pemula.  Jumlahnya tidak hanya satu dua, tetapi ratusan. Jika ini dibiarkan maka kita bakal memiliki generasi muda yang sangat rapuh.

Kita tahu bahwa rokok sangat merusak kesehatan. Perokok kemungkinan  besar akan mengidap penyakit jantung atau paru-paru. Belum lagi jika dia juga terjerumus ke dunia narkoba, semakin lemah dan rusak. Apa yang bisa diharapkan dengan generasi mudah yang rapuh? Bagaimana mereka mewarisi negeri ini? Masa depan bangsa ini tentu suram, terlindas oleh negara-negara lain.

Ikuti tulisan menarik muthiah alhasany lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terkini