Petani Kaki Gunung Raung Pelopori Pertanian Organik Indonesia - Analisis - www.indonesiana.id
x

Andik Setyawan (PB)

Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Jember
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Petani Kaki Gunung Raung Pelopori Pertanian Organik Indonesia

    Petani Desa yang peduli dengan kelangsungan alam dan ekosistemnya

    Dibaca : 3.559 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

                 Jember - Menuju Pertanian Organik adalah kategori yang diperikan kepadapertanian di lahan kaki Gunung Raung, di Desa Rowosari Kabupaten Jember. Predikat tersebut diberikan berdasarkan penilaian yang dilakukan mahasiswa Fakultas Pertanian UNEJ terhadap data yang diperoleh atas sistem pertanian yang ada di tempat tersebut. Menurut Solikin (2014), hakikatnya sistem pertanian berkelanjutan adalah kembali kepada alam, yaitu sistem pertanian yang tidak merusak, tidak mengubah, serasi, selaras dan seimbang dengan lingkungan atau pertanian yang patuh dan tunduk pada kaidah-kaidah alamiah. Pengertian lain dari pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) adalah pemanfaatan sumber daya yang dapat diperbaharui (renewable resources) dan sumberdaya tidak dapat diperbaharui (unrenewable resources) untuk proses produksi pertanian dengan menekan dampak negatif terhadap lingkungan seminimal mungkin. Keberlanjutan yang dimaksud meliputi : penggunaan sumberdaya, kualitas dan kuantitas produksi, serta lingkungannya. Proses produksi pertanian yang berkelanjutan akan lebih mengarah pada penggunaan produk hayati yang ramah terhadap lingkungan (Kasumbogo Untung, 1997).

                Keberhasilan pembangunan pertanian selama ini telah memberikan dukungan yang sangat tinggi terhadap pemenuhan kebutuhan pangan rakyat Indonesia, namun demikian disadari bahwa dibalik keberhasilan tersebut terdapat kelemahankelemahan yang perlu diperbaiki. Produksi yang tinggi yang telah dicapai banyak didukung oleh teknologi yang memerlukan input (masukan) bahan-bahan anorganik yang tinggi terutama bahan kimia pertanian seperti pupuk urea, TSP/SP-36, KCl, pestisida, herbisida, dan produk-produk kimia lainnya yang berbahaya bagi kesehatan dengan dosis yang tinggi secara terus-menerus, terbukti menimbulkan banyak pencemaran yang dapat menyumbang degradasi fungsi lingkungan dan perusakan sumberdaya alam, serta penurunan daya dukung lingkungan.

                Adanya kesadaran akan akibat yang ditimbulkan dampak tersebut, perhatian masyarakat dunia perlahan mulai bergeser ke pertanian yang berwawasan lingkungan. Dewasa ini masyarakat sangat peduli terhadap alam dan kesehatan, maka muncullah teknologi alternatif lain, yang dikenal dengan “pertanian organik”, “usaha tani organik”, “pertanian alami”, atau “pertanian berkelanjutan masukan rendah”. Pengertian tersebut pada dasarnya mempunyai prinsip dan tujuan yang sama, yaitu untuk melukiskan sistem pertanian yang bergantung pada produk-produk organik dan alami, serta secara total tidak termasuk penggunaan bahan-bahan sintetik.

              Konsep tersebut coba diterapkan oleh para petani padi di Desa Rowosari, Kecamatan Sumberjamber Kabupaten Jember. H.Muzaki, Ketua Gapoktan Sejahter Desa Rowosari pada saat diwawancarai mengatakan bahwa “Penurunan kualitas lahan yang diindikasikan dengan meningkatkan kebutuhan pupuk dengan hasil tetap membuat kita sadar akan damapk buruh penggunaan bahan kimia seperti pupuk, sehingga kami mencoba beralih ke yang organik untuk pupuk dan pestisida hayati”. Hingga saat ini  Lahan pertaian milik petani di Desa Rowosari telah mendapatkan sertifikat dari Dinas Pertanian Jember, lahan tersebut berada pada satu lokasi yang memang sudah diproyeksikan oleh para petani untuk digunakan sebagai usaha budidaya padi organik. Lahan tersebut berada tidak jauh dari pemukiman warga sekaligus petani Desa tersebut. Hal tersebut memudahkan petani mengotrol lahan pertaniannya.

    FOTO atas : Ketua Gapoktan sejahtera H.Muzaki (tengah) Bersama Mahasiswa Fakultas Pertanian UNEJ Usai Wawancara. 

               Usaha pertanian, seperti pada umumnya meliputi pembibitan, pengolahan lahan, penanaman sampai dengan pemanenan Pembibitan padi pada sistem pertanian organik di Rowosari menggunakan benih bermutu, varietas adaptif, toleran hama/penyakit, seperti varietas IR-64 dan merupakan benih bersertifikat lainya yang didapat dari toko pertanian sekitar Desa Rowosari. Hasil padi organik yang produksi petani Rowosari tidak digunakan untuk pembibitan selanjutnya, benih tersebut dijual untuk dikonsumsi. Tahapan berikutnya dalam usaha tani setelah tahap penyemaian benih adalah pengolahan lahan. Pengolahan dilakukan lebih dari 5 hari setelah panen tanaman sebelumnya kemudian pemindahan atau transplanting bibit padi yang siap dilakuakan menyesuaikan ukuran dan usia bibit yang disemai, namun kebanyakan petani melakukan penanaman 1-2 minggu setelah tanah diolah. Pengairan untuk memenuhi kebutuhan tanaman yang telah ditanam di lahan diperoleh petani dari pegunungan raung dan sebuah waduk di Desar tersebut yang bersih dan bebas dari bahan kimia. Pertanian organik menggunakan air bersih dan bebas dari bahan kimia untuk pengairan, sedangkan pada pertanian organik menggunakan air yang sudah dicampur dengan pestisida dan bahan kimia untuk menjaga tanaman tetap sehat serta mempercepat pertumbuhan.

                Tahapan pemeliharaan dilakukan setelah padi ditanam di lahan pertanaman.  Pemeliharaan ini meliputi pemupukan dan pengendalian OPT (organisme pengganggu tanaman) yang terdiri dari hama, penyakit dan gulma. Pupuk yang digunakan pada sistem pertanian ini adalah pupuk kandang atau kompos. Pupuk tersebut diperoleh dari ternak masing-masing petani, bantuan dari pemerintah lewar dinas pertanian dan sebagian petani beli dari toko pertanian yang ada di sekitar Jember. Kompos dan pupuk kandang yang digunakan menurut PPL (penyuluh pertanian) yang bertugas di Desa Rowosari benar-benar memenuhi persyaratan untuk digunakan dalam pertanian organik. Pupuk kandang yang diberikan petani tidak selalu dalam bentuk kompos atau pelapukan alami, tetapi terkadang juga diolah menjadi bokashi dengan berbekal pengetahuan dan keterampilan yang di berikan PPL pada saat penyuluhan.

                 Beberapa kegiatan yang diharapkan dapat menunjang dan memberikan kontribusi dalam meningkatkan keuntungan produktivitas pertanian dalam jangka panjang, meningkatkan kualitas lingkungan, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat pedesaan sebagian sudah diterapkan oleh petani padi organik Desa Rowosari. Kegiatan tersebut adalah dalam pengendalian OPT. Petani telah mencoba menerapkan PHT (Pengendalian Hama Terpadu) dalam upaya pegendalian OPT meskipun belum sempurna. Pengendalian Hama Terpadu merupakan suatu pendekatan untuk mengendalikan hama yang dikombinasikan dengan metode-metode biologi, budaya, fisik dan kimia, dalam upaya untuk meminimalkan, biaya, kesehatan dan resiko-resiko lingkungan. Pengendalian yang dilakukan petani untuk mengendalikan gulma dilakukan secara mekanik atau dengan langsung mencabut gulma yang ditemukan di lapang, sedangakan pengendalian hama dan dilakukan menggunakan biopestisida (pestisida hayati) yang dibuat dari bahan yang berasal dari bagian-baigian tumbuhan seperti daun mimba dan umbi gadung. Berdasrkan pengalaman yang disampaikan narasumber pada saat wawancara penggunaan biopestisida cukup efektif untuk mengendalikan hama dan penyakit.

                Tahapan terahir dalam budadaya pertanian (on farm) dilahan adalah pemanenan. Petani Desa Rowosari melakuakn proses pemanen dengan menggunakan mesin perontok yang dilakukan secara berhati-hati untuk menghindari terjadinya kerusakan hasil panen dan menghindari terjadinya pelukaan sebagai upaya mencegah penyakit. Hasil panen pertanian organik lebih bersih dan sehat untuk dikonsumsi, sementara hasil  pertanian anorganik kurang baik dan kemungkinan sudah tercemar zat kimia. Pembersihan lahan dilakukan setelah panen selesai. Pembersihan dilakuka dengan dengan memebersihkan sisa-sisa tanaman, dikumpulkan untuk kompos, untuk makanan ternak atau dibenamkan kedalam tanah.

     

    Ikuti tulisan menarik Andik Setyawan (PB) lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.