x

Iklan

purwanto setiadi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Debil

Sisi buruk media sosial: munculnya kerumunan orang, dari berbagai lapisan masyarakat dan derajat kecerdasan, yang menjadikan kebodohan sebagai kebajikan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Di media sosial, kegaduhan terjadi hampir tiap hari. Kegaduhan mutakhir, sejak akhir pekan lalu, timbul karena adanya reaksi negatif terhadap laporan utama majalah Tempo tentang aliran duit dari pengembang reklamasi Teluk Jakarta ke Teman Ahok melalui orang dekat Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Seperti keributan-keributan lainnya, yang bisa tampak dari pengamatan yang jernih adalah dominannya suara-suara bernada emosional, mengandung nafsu merisak dan memfitnah, yang mencerminkan betapa dangkal dan kalang kabutnya pikiran dari mana suara-suara itu berasal.

Sebagai reaksi terhadap suatu fakta, sebuah temuan dari penelusuran secara hati-hati terhadap sejumlah sumber yang nyata, suara-suara itu datang bertubi-tubi, secepat jemari menekan tombol klik, Enter, Like, dan sebagainya; seperti lampu neon yang tiada henti berkedip-kedip karena sekarat. Semua bersifat reaktif. Sebagian dari suara-suara itu bersumber dari tokoh publik serta kaum terpelajar dan cerdik cendekia. Sebagian yang lain, dalam jumlah yang lebih besar, berakar di orang-orang kebanyakan yang memang sudah merasa bahagia hanya dengan menjadi "tim hore".

Fenomena meluasnya respons-raba-rubu-nihil-substansi dan beropini-hanya-untuk-bising semacam itu bukan terjadi di negeri ini saja. Di Amerika Serikat, salah satu negeri yang kerap dianggap sangat menghormati kebebasan berpendapat dan sudah canggih berdemokrasi, misalnya, baru-baru ini juga menghamparkan gejala yang sama.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Risau melihat kemerosotan kualitas wacana publik yang digambarkan sebagai mengarah ke kondisi anti-intelektualisme itu, Presiden Barack Obama sampai merasa perlu untuk berkomentar. "Dalam politik dan kehidupan," katanya pada pertengahan Mei lalu, "kebodohan bukanlah kebajikan."

Saat berpidato di pembukaan kuliah angkatan 2016 di Rutgers University, New Jersey, itu Obama sesungguhnya sedang mengkritik kecenderungan yang timbul bersamaan dengan berlangsungnya pemilihan pendahuluan demi menentukan kandidat presiden untuk pemilu November nanti, terutama di lingkungan Partai Republik. Di partai kaum konservatif ini seorang calonnya, pengusaha real estat bernama Donald Trump, sukses merebut suara terbanyak melalui kampanye dengan isu dan gaya komunikasi yang mengalahkan akal sehat, bombastis, serta cenderung mendorong diskriminasi dan bahkan bermuatan rasisme.

Tanpa menyebut nama Trump, pada bagian ketiga dari isi pidatonya, Obama mengatakan bahwa berbicara tentang suatu hal tanpa pengetahuan sama sekali adalah tindakan norak. "Hal itu berarti (si pembicara) tak membuatnya nyata atau mengemukakannya apa adanya. Itu bukan kepatutan politik yang menantang. Itu semata-mata (menunjukkan) Anda tak paham apa yang Anda bicarakan, meski kita sudah jadi bingung karenanya," kata Obama.

Siapa pun yang waras di negeri ini yang mengikuti perkembangan pemilihan pendahuluan di Amerika itu pastilah sadar dan bagaikan diingatkan pada satu kesamaan gejala dalam lanskap politik dan sosial sejak pemilu presiden 2014: munculnya kerumunan orang, dari berbagai lapisan masyarakat dan derajat kecerdasan, yang takluk pada dan mengelu-elukan "Trump-isme" yang dijajakan para politikus dan atau pemandu sorak di sekitarnya. Orang-orang ini sama-sama tampil bagaikan kaum debil, mereka yang berdaya pikir rendah, dan menjadikan kebodohan sebagai kebajikan.

Mau diakui atau tidak, mereka itulah yang, tanpa rasa malu, berisik di media sosial asalkan ada dorongan yang sesuai--kali ini karena mau memberangus adanya kabar tentang aliran duit ke kelompok relawan pendukung Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Ikuti tulisan menarik purwanto setiadi lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Senin, 10 Juni 2024 12:33 WIB

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Senin, 10 Juni 2024 12:33 WIB