x

Ilustrasi krisis iklim akibat industrialisasi. Foto: aliansi zero waste id

Iklan

purwanto setiadi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 27 Juni 2023 20:16 WIB

Dear Capres, Gausa Banyak Janji!

Aspirasi Gen Z seputar kondisi iklim untuk para bakal capres 2024. Mereka mengekspresikan kegundahan dalam forum Indonesia Net-Zero Summit 2023. Mereka berhak karena kelak mesti menghadapi konsekuensi dari keputusan-keputusan yang dibuat saat ini--yang pembuatnya adalah kaum Baby Boomers. Semoga mereka lebih aktif mendesakkan tuntutan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Oleh Purwanto Setiadi

 

“Katanya hindari rumah kaca. Ko kantornya kaca semua?”

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Dear capres, gausa banyak janji. Muak denger-nya. Butuh aksi nyata. Mudeng po rak?”

“Jangan lagi ada proyek berkedok solusi energi terbarukan.”

LGBT is not part of climate crisis!!!

Sindiran, permintaan, tuntutan, dan gugatan itu merupakan pesan-pesan yang dituliskan dengan spidol pada sebidang papan putih berukuran lebih kurang 2 x 6 meter. Hanya sebagian pesan; masih banyak pesan lain, dengan nada bermacam-macam. Papan ini diberi judul berupa ajakan: “Tuliskan aspirasi iklim kamu untuk para bakal capres 2024!”

Papan pesan tersebut dihadirkan dalam Indonesia Net-Zero Summit 2023. Saya mendatangi event pada akhir pekan lalu ini berkat ajakan seorang teman. Tanpa ajakannya, saya malah tak tahu ada acara yang diadakan di Djakarta Theater ini.

Penyelenggara Indonesia Net-Zero Summit 2023 adalah Foreign Policy Community of Indonesia. Summit ini merupakan forum tahunannya, yang diharapkan menjadi “ruang pertemuan bersama bagi menteri, pejabat, diplomat, aktivis, musisi, selebriti, pemuda, masyarakat sipil, dan berbagai kalangan lainnya untuk membicarakan isu iklim…dan menyampaikan aspirasi mereka terkait pencapaian net-zero emission Indonesia”.

Aspirasi iklim untuk para bakal capres di Indonesia Net-Zero Summit 2023/Purwanto Setiadi

Melihat agendanya, ada sejumlah sesi diskusi dengan panelis-panelis yang beragam latar belakangnya--unsur pemerintah, swasta, peneliti, organisasi masyarakat sipil, pesohor. Saya sempat mengintip lebih dulu daftar agendanya di website penyelenggara. Sebelum tiba di venue saya sudah punya preferensi tema-tema yang akan saya ikuti. Tapi teman saya rupanya punya daftarnya sendiri. Ya, sudah, saya menyesuaikan diri, ikut saja.

Untungnya sih semua pilihan dia memang menarik. Ada yang membahas hal ihwal pendanaan atau cara membiayai upaya menegah suhu global naik melampaui 1,5° C. Ada tentang potensi alam untuk solusi iklim. Ada pula perihal mana teknologi yang benar-benar merupakan solusi untuk mencapai net-zero atau “nol emisi”--yakni kondisi ketika karbon (dan gas-gas rumah kaca lain, sebetulnya) yang dilepaskan ke atmosfer tidak melebihi kemampuan bumi menyerap kembali karbon dan gas-gas lain itu.

Saya tidak setuju dengan satu-dua pendapat yang mengemuka dari beberapa panelis. Misalnya tentang carbon offset. Sebagai bisnis mungkin hal ini layak digeluti. Tapi sukses menjual carbon offset tidak serta-merta berarti emisi pasti berkurang. Tidak berlaku garis linear. Bukan tidak mungkin pembeli carbon offset justru malah merasa tak perlu berupaya menurunkan karbon yang dihasilkan dari kegiatannya karena toh sudah ada pihak lain yang mengurangi kontribusi karbonnya dan karena itu menjadikan “utang” karbon si pembeli impas.

Dalam sesi tentang potensi alam untuk solusi iklim yang menghadirkan panelis yang sukses berbisnis carbon offset itu bagusnya tiga panelis lain cukup kritis. Mereka dengan merdesa mengingatkan tentang adanya potensi kesembronoan tersebut. Seorang di antaranya adalah Laksmi Shari De-Neefe Suardana, Putri Indonesia 2022. Dia mengemukakan hal lain yang sebetulnya tak kalah pentingnya untuk dipertahankan: biodiversitas atau keanekaragaman hayati Indonesia.

Terlepas dari adanya pandangan-pandangan yang di luar area keyakinan saya, dari diskusi-diskusi yang saya hadiri paling tidak saya jadi memperoleh informasi yang semula saya tidak tahu. Buat saya, ini saja sudah merupakan food for thought yang berharga.

Yang paling mengesankan dari yang bisa saya saksikan siang itu adalah audiens yang memenuhi ruang yang digunakan (teater-teater dan ballroom di Djakarta XXI): mayoritas merupakan Generasi Z. Saya dan teman saya termasuk di antara sedikit dari hadirin yang dari segi usia jauh lebih tua daripada mereka. Lebih tua: Baby Boomers atau, ya, Generasi X-lah kalau mau di-”korting” sedikit. Dan Generasi Baby Boomers ‘kan sebetulnya termasuk yang paling “berdosa” dan layak digugat menyangkut krisis iklim.

Kalau ada yang membayangkan komunikasi di forum itu berlangsung dalam bahasa campur-campur, Indonesia dan Inggris (atau Inggris dan Indonesia?), “bahasa anak Jaksel” gitu, tidaklah salah. Meski demikian, yang membesarkan hati adalah passion anak-anak muda itu terhadap isu yang dibahas. Sebagian dari passion ini tertera di papan pesan “tuliskan aspirasi iklim” tadi. Sebagian lagi muncul dalam pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan kepada panelis.

Mereka punya alasan untuk mengekspresikan segala kegundahan itu. Dan malah berhak. Merekalah, bagaimanapun, yang kelak akan menghadapi konsekuensi dari keputusan-keputusan yang dibuat saat ini--yang pembuatnya adalah kaum Baby Boomers.

Timbul angan-angan saya, yang sebetulnya tidak muluk: kegairahan itu muncul juga sebagai “kemarahan”. Dengan ini, lalu mereka jadi lebih aktif mendesakkan tuntutan, membawa pesan-pesan pada papan pesan tersebut, terus-menerus dan sedapat mungkin langsung kepada pembuat kebijakan, para politikus dan bakal calon presiden (capres), atau pelaku di sektor bisnis, bahwa mereka kelewat lamban bertindak atau harus punya rencana jelas kalau mau berkuasa. Seperti Greta Thunberg, atau Phoebe Plummer, Anna Holland, dan para penggerak aktivisme iklim di luar sana.

Atau, sekurang-kurangnya, anak-anak muda itu merealisasikannya sebagai aksi, personal maupun komunitas.

 

(*)

Ikuti tulisan menarik purwanto setiadi lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Senin, 10 Juni 2024 12:33 WIB

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Senin, 10 Juni 2024 12:33 WIB