x

Iklan

Kamaruddin Azis

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Anwar dan Harapan Baru Untia

Artikel dari Makassar ini merupakan narasi kegiatan warga yang berinisiatif membangun potensi lokal. Sebuah upaya keluar dari belitan persoalan ekonomi.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

“Tidak hanya membangun yang besar-besar, usaha skala kecil untuk peningkatkan pendapatan masyarakat pesisir dan pulau-pulau tetap jadi perhatian utama.” A. Rahman Bando, Kepala Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian dan Peternakan, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

(Keterangan foto: Anwar dan Dr. Rustam)

***

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Jarum jam menunjuk pukul 16.45 waktu Indonesia bagian timur Kota Makassar kala kami tiba di salah satu lokasi pembesaran ikan hias di Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanaya, 12/07/2016. Sore itu, lelaki Anwar telah berdiri takzim di sisi kolam ikan setinggi satu meter kebanggaannya. Pria usia 32 tahun inilah yang menyambut saya dan Dr. Rustam, konsultan pemberdayaan ekonomi masyarakat sore itu. 

Anwar yang mengaku tak lagi sebagai sales susu ini menyungging senyum saat memandangi ikan-ikan koi bercorak warna merah putih hitam cerah di tiga kolam yang terisi.  “Inimi yang dikerja sejak tak lagi jadi sales,” kata pria berputra dua ini. Matanya berbinar.

 “Dengan usia tiga bulan, koi sudah dihargai minial 50ribu tapi kami masih terus besarkan,” ujar bendahara Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Harapan Baru di Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanaya yang mendapat bantuan dari CCDP-IFAD tahun 2015 di Kota Makassar.

Bersama Anwar ada pula lelaki Umar Daeng Gassing sebagai ketua serta Buhari yang didapuk sebagai sekretaris. Ada lima anggota lainnya yaitu Mujo, Rusli, Sangkala, Matfa dan Daeng Tahir. Mereka berdelapan sebagai penerima manfaat program pemberdayaan masyarakat kerjasama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan The International Funds for Agricultural Development, lembaga keuangan internasional yang berbasis di Roma, Italia.

Dengan dana itu, bersama sembilan warga lainnya, Anwar memulai pembangunan kolam ikannya sejak bulan Maret. ‘Butuh waktu sebulan untuk menyelesaikan pembangunan kolam ikannya, menyiapkan peralatan seperti selang, pipa dan mesin aerator, setelah itu baru diisi bibit ikan maskoi yang dibeli di Kota Surabaya,” ungkap pria yang mengaku belajar teknik budidaya dari banyak sumber. “Termasuk ikut pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan CCDP,” katanya.

Kelompok Harapan Baru dimana Anwar sebagai bendahara mengelola tiga kolam berisi tidak kurang 200 ekor ikan maskoi berwarna cerah. Ikan koi yang kalau di pasaran dapat dihargai hingga 200ribu jika ukuran normal. Jika skenario bisnisnya jalan, maka investasi Rp. 40 juta yang telah dialokasikan oleh CCDP-IFAD akan kembali modal. Dalam sekali panen!

Jikapun ada yang menghantui Anwar maka itu adalah kualitas air yang ada di sekitar permukimannya. Untia adalah daerah pesisir sehingga dia begitu khawatir pada perubahan kualitas air.

“Di sini, kalau musim kemarau, air tawar sulit sekali,” katanya kepada saya dan Dr. Rustam, konsultan CCDP-IFAD Kota Makassar.

“Kami belum mau lepas, meski sudah ada yang tawar perekor seharga 75ribu, kita tunggu dulu sampai ukuran maksimal, atau harga jualnya lebih baik,” kata Anwar kepada Dr. Rustam.

Menurut pengakuan Anwar, bibit ikan koi di kolamnya ini dibeli harga 35ribu perekor dan merupakan jenis unggulan. Selain karena warna cerah juga datang dari penyedia bibit tenar di Surabaya.

Kepala kelurahan Untia, Andi Patiroi mengaku senang sebab selama tiga tahun terakhir Untia mendapat perhatian dari Pemerintah Kota melalui program CCDP ini. Dia mengaku terbantu dalam mengembangkan potensi sumber daya yang ada di kelurahan yang merupakan bauran pendatang dari Pulau Lae-Lae ini.

“Kami senang sekali, upaya membangun pesisir Untia terus didorong oleh Pemerintah Kota Makassar,” kata pejabat Lurah yang telah mengabdi selama 17 tahun di lingkup Kecamatan Biringkanaya ini.

***

Selain kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) Harapan Baru, terdapat empat kelompok lainnya yaitu Kelompok Pengolah dan Pemasaran produk pengolahan perikanan lainnya yang mendapat bantuan CCDP-IFAD yaitu, kelompok Jaring Juku, Umbu Juku, Mega Buana dan D Biharu. Masing-masing beranggotakan delapan orang. Kesemuanya perempuan. Jumlahnya 32 orang ditambah Harapan Baru yang beranggotakan pria.

Apa yang dirasakan Anwar dan warga Untia yang mendapat bantuan Proyek Pembangunan Masyarakat Pesisir (PMP) merupakan bukti bahwa meski masih dalam skala kecil proyek ini telah memberikan manfaat. Ini adalah anak tangga pertama untuk warga pesisir yang bermukim di Untia untuk dapat meningkatkan pendapatan rumah tangganya, memberi peluang bekerja bagi yang terputus harapannya karena menganggur.  

Jika agenda kelompok binaan terus berdenyut tanpa hambatan, maka upaya pengentasan kemiskinan dan pembangunan berkelanjutan di pesisir Makassar juga akan menuai kisah sukses. Mari doakan semoga harapan Anwar dan anggota Kelompok Harapan Baru berbuah manis.

Olehnya itu agar harapan mereka tercapai, jika Anda butuh ikan koi berwarna cerah dan berkualitas, ke Untia saja, ke kelompok Harapan Baru, ada Anwar menunggu di sana!

 

Makassar, 13/07/2016

 

Ikuti tulisan menarik Kamaruddin Azis lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler