x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Penolakan yang Melecut Semangat

Sebagian besar karya pertama penulis mashur pernah ditolak penerbit sebelum ahirnya terbit dan dikenal dunia.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

Bagi banyak penulis, kemashuran adalah buah dari penolakan berulang kali. Sebagian penulis mengirim naskah yang sama berkali-kali hingga ada penerbit yang bersedia menerimanya. Sebagian lainnya memoles ulang manuskripnya sebelum mengirim ke penerbit. Stephen King,  J.K. Rowling, hingga ... pernah mengalami penolakan. Apa yang sama pada mereka ialah sikap pantang menyerah dan kegigihan untuk mewujudkan mimpi mereka, menjadi penulis yang diakui.

Bila kemudian karya mereka disukai masyarakat pembaca, tidakkah berlebihan bila dikatakan bahwa penciuman editor penerbit yang menolak itu tumpul, barangkali karena tengah mengidap virus flu? Bukankah karya-karya laris, yang semula pernah ditolak itu, merupakan bukti bahwa penerbit tidak selalu benar perihal apa yang akan disukai pembaca dan yang tidak?

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Agatha Christie harus menanti selama lima tahun karena penolakan terus-menerus, hingga akhirnya karya pertamanya terbit. Penjualan karya-karya Christie masih berlanjut hingga sekarang, diperkirakan hanya William Shakespeare yang mampu melampauinya dalam hal penjualan.

“Saya rekomendasikan naskah ini dikubur di bawah batu selama ribuan tahun,” kata seorang editor ketus. Lantaran ditampik oleh seluruh penerbit besar, Vladimir Nabokov pergi ke Prancis dan memperoleh kesepakatan dengan Olympia Press. Cetakan pertama sebanyak 5.000 eksemplar terjual habis dengan cepat. Dan kini, Lolita—novel pertama Nabokov itu diterbitkan dalam berbagai bahasa dengan penjualan sekitar 50 juta eksemplar.

Ketika menawarkan Harry Potter and the Philosopher’s Stone, Christopher Little Literary Agency terpaksa berulang kali menyampaikan penolakan penerbit kepada J.K. Rowling, penulis yang ia ageni. Lebih dari 10 penerbit menolak, hingga seorang bocah berusia delapan tahun anak perempuan editor Bloomsbury meminta ayahnya agar diizinkan membaca naskah Rowling. Rupanya anak itu sangat menyukai naskah Potter.

Akhirnya editor itu setuju menerbitkan karya perdana Rowling dan membuktikan bahwa penciumannya lebih tajam dibanding para editor senior yang sudah bertahun-tahun malang melintang di bisnis penerbitan. Serial Potter laku keras, diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa, difilmkan, dan diangkat ke panggung teater.

C.S. Lewis barangkali sempat bosan menerima surat penolakan yang serupa dari puluhan penerbit. Hanya saja, tekadnya bulat ingin berhasil dengan karyanya, The Chronicle of Narnia. Perlu beberapa tahun bagi Lewis untuk mendapat kepercayaan dari penerbit bahwa dongengnya akan disukai pembaca. Serial Narnia terjual lebih dari 100 juta eksemplar dalam sekitar 50 bahasa.

Setelah ditolak oleh banyak penerbit, The Alchemist akhirnya beredar. Para editor itu nyaris benar dengan penolakan mereka, sebab cetakan pertama karya Paulo Coelho hanya laku 800 eksemplar dalam waktu cukup lama. Coelho mencium ada yang tidak beres dalam cara kerja penerbit ini dan ia mencari penerbit lain. Hasilnya, The Alchemist terjual lebih dari 75 juta eksemplar. Karya-karya Coelho berikutnya selalu ditunggu pembacanya.

Andaikan J.D. Salinger langsung patah semangat menerima penolakan penerbit, kita mungkin tidak mengenal Holden Caulfield, karakter dalam novel The Catcher in the Rye. “Kami rasa, kami tidak mengenal cukup baik karakter utama naskah ini,” tulis editor dalam surat penolakan naskah Salinger. Menulis ulang akhirnya menjadi cara Salinger bahwa novelnya layak terbit, dan terbukti bukan saja laku puluhan juta eksemplar, tapi sekaligus membangitkan perdebatan.

Komentar menyakitkan bahkan diterima oleh Irving Stone ketika menyodorkan manuskripnya, Lust for Life. “Novel panjang yang menjemukan tentang seorang seniman,” begitu komentar editor terhadap novel tentang kehidupan tragis pelukis Vincent van Gogh, yang ia susun dengan susah payah itu.

Selama 6 bulan Stone menyusuri jejak-jejak van Gogh di Inggris, Belanda, Belgia, dan Prancis. Akhirnya, karyanya tentang pelukis mashur ini selesai pada 1931, tapi dalam tiga tahun berikutnya tidak satupun dari 16 penerbit yang dihubunginya bersedia mempublikasikan Lust for Life. Hingga kemudian Longmans, Green & Company membuka pintu bagi Stone setelah jumlah halaman naskahnya dipangkas agar, kata editornya, mencapai ‘ukuran keterbacaan’.

Stephen King juga mengoleksi puluhan surat penolakan atas karya pertamanya, Carrie. Salah satunya berisi komentar editor penerbit: “Kami tida berminat pada fisi sains tentang utopia negatif. Naskah ini tidak akan laku.” King tak mau menyerah, hingga akhirnya Carrie menemukan penerbitnya. Kini, King dikenal sebagai empu cerita-cerita suspense, supernatural,dan horor. Jutaan penggemarnya menunggu karya baru King.

Chinua Achebe, penulis kelahiran Afrika, mengalami kepahitan serupa. Ditolak berulang kali oleh penerbit lain, akhirnya penerbit Heinemann sepakat menceta dan mengedarkan novel pertama Achebe, Things Fall Apart. Berkat kegigihannya, Achebe mampu menyajikan karya yang dibaca jutaan orang hingga melampaui benuanya. Karya pertama Achebe ini diakui dunia sebagai magnum opus-nya.

Para penulis mashur yang pernah mengalami penolakan pahit itu menunjukkan spirit yang sama: kegigihan agar karyanya dikenal dunia. (sumber foto: pen-international.org) **

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler