Nikah Siri di Usia Dini - Urban - www.indonesiana.id
x

sulastri

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Nikah Siri di Usia Dini

    Kehidupan Rumah Tangga Wanita Muda di Bantar Gebang

    Dibaca : 6.587 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Perempuan itu berkulit putih dan berbulu mata lentik. Ia bernama Helen, usianya baru 20 tahun. Ia salah satu kembang di tengah tumpukan sampah Sumur Batu, Bantar Gebang, Bekasi. Di usia 14 tahun, seorang pria memetik dan menjadikannya seorang istri. “Pria yang menjadi suami saya itu belakangan ketahuan sudah pernah menikah,” kata Helen siang itu, 27 Juli 2016..

    Dengan nada suara datar, ia kembali menceritakan pernikahan dini yang terjadi enam tahun lalu itu. Perempuan berjilbab itu mengaku tidak tahu kalau calon suaminya ternyata sudah beristri dan beranak dua. Ia sempat menjadi istri muda. “Kabarnya suami saya itu sudah cerai dengan istri pertamanya,” kata Helen.

    Helen dan suaminya adalah pemulung di kawasan Bantar Gebang itu. Namun Helen sudah bertahun-tahun tidur tanpa ditemani suami. Sehari-hari ia ditemani Riski, 5 tahun, bocah laki-laki hasil pernikahan siri dengan suaminya itu. “Bapak saya sudah mati,” Riski menjawab dengan nada cuek.

    Suami Helen baru sering pulang setahun belakangan. Meskipun begitu, Helen masih kesulitan berkomunikasi dengan suaminya. “Jam dua belas malam baru pulang, pagi-pagi sudah pergi lagi,” begitu curhatnya. Saat tidur atau sarapan tidak bisa dimanfaatkan untuk berkomunikasi. Kalau ditemani sarapan, suaminya malah tidak mau makan. Ia tidak tahu kenapa suaminya sekarang menjadi dingin.

    Helen bahkan tidak berani menyampaikan persoalan akta kelahiran Riski. Padahal Ia kesulitan mengurusnya karena tidak punya surat nikah. Bahkan KK dan KTP saja tidak punya. Helen yang tidak tamat SD itu, bingung bagaimana prosedur mengurus surat-surat itu.

    Pernikahan yang rapuh membuat Helen tidak bergantung pada suaminya. Memulung menjadi pilihan yang terbaik menurutnya. Tidak perlu menunggu gaji di akhir bulan, tiap hari ia bisa dapat uang. Waktu memulung juga lebih fleksibel. Ia bisa mengatur waktu bekerja dan mengasuh Riski.

    Helen menerima uang belanja lima ratus ribu perbulan dari suaminya. Ia tidak bisa protes, suaminya hanya buruh serabutan. Sebagian pendapatan suaminya juga dibagi dengan anak dari istri pertamanya. Helenpun tak tahu berapa pastinya pendapatan suaminya.

    Untuk hidup sehari-hari, Helen memulung. Rp. 20.000-45.000 bisa ia dapatkan setiap hari. Jika beruntung, kadang ia menemukan uang di tumpukan sampah. Seperti minggu lalu, ia menemukan amplop berisi satu juta rupiah.

    Meski begitu, Helen bersyukur, sekarang suaminya pulang setiap hari. Ia sudah tidak lagi mendengar cibiran tetangga. Terlebih sekarang suaminya telah bercerai dengan istri pertamanya. Ia tidak harus menjadi janda seperti beberapa temannya yang punya kisah sama.

    Pernikahan dini masih menjadi pilihan keluarga pemulung Bantar Gebang ketika anak gadisnya tak lagi sekolah. Meski tidak menikah di KUA, di bawah tangan juga tak masalah. Sudah jadi resiko jika ternyata suaminya sudah punya istri. Nikah-cerai menjadi hal biasa. Anak Perempuan yang tidak ingin ikut dalam arus itu harus berjuang keras untuk melanjutkan sekolah.

    Bagi Helen, Riski adalah prioritasnya sekarang. Tahun ini, Riski mulai PAUD di Tunas Mulya, sekolah gratis untuk anak pemulung di Bantar Gebang. Helen tidak ingin Riski menjadi pemulung seperti dirinya. Ia ingin anaknya bisa sekolah, mengaji dan memiliki masa depan lebih baik.

    Ikuti tulisan menarik sulastri lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.