x

Iklan

Irfantoni Listiyawan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Ngelmu Pring : Analogi Bambu dalam Falsafah Hidup Orang Jawa

Bambu tak luput dari penganalogian falsafah Jawa, selanjutnya falsafah bambu sebagai pedoman hidup ini dikenal dengan Ngelmu Pring (Belajar dari Bambu).

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Bambu memegang peranan penting dalam mata rantai tumbuhan, tanaman yang memiliki nama latin bambusea ini merupakan jenis rumput dengan rongga dan ruas di batangnya. Bambu juga merupakan salah satu  tanaman dengan pertumbuhan paling cepat di dunia. Di berbagai penjuru dunia, bambu memiliki aspek filosofis dalam beberapa kebudayaan bangsa di dunia. Bangsa Cina menjadikan bambu sebagai simbol keteguhan dan ketulusan. Sementara bangsa India menjadikan bambu sebagai tanda atau simbol persahabatan. Bambu seringkali pula dijadikan sebagai simbol sosok seorang kesatria, jagoan, pendekar bela diri bahkan senjata dalam mengusir para penjajah. Tak jarang apabila kita melihat adegan film pendekar Cina sering menggunakan bambu sebagai senjata, pun dalam film perjuangan di layar Indonesia. Konon, bambu runcing mampu mengalahkan musuh yang menggunakan senjata berteknologi canggih kala itu.

Bambu sebagai salah satu aspek dalam unsur kebudayaan dan kepercayaan masyarakat juga dapat ditemui dalam masyarakat Jawa. Sebagai salah satu etnis terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara, masyarakat suku Jawa memiliki berbagai filosofi hidup yang berkaca dari alam sekitar. Unsur alam inilah yang mewarnai hampir seluruh aspek filosofis kehidupan orang Jawa. Bambu sendiri tak luput dari penganalogian falsafah Jawa, selanjutnya falsafah bambu sebagai pedoman hidup ini dikenal dengan Ngelmu Pring (Belajar dari Bambu). Seiring perkembangan zaman, falsafah Ngelmu Pring tersebut kini dikemas dalam format sebuah lagu oleh Jogja Hiphop Foundation, salah satu  kelompok hiphop yang menjadikan falsafah Jawa sebagai inspirasi, sehingga dapat dengan mudah diingat tak hanya bagi masyarakat Jawa namun juga bagi semua orang.

Beragam Jenis Bambu dan Filosofinya bagi Orang Jawa

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Bambu atau Pring kata orang Jawa, memiliki berbagai jenis diantaranya bambu kuning (pring kuning), bambu cendhani, bambu apus, bambu wuluh, dheling, petung, dan bambu ori. Nama jenis bambu tersebut dalam falsafah hidup orang Jawa memiliki makna-makna filosofis tertentu. Adapun diantara filosofis diantaranya adalah :

  • “Pring Dheling tegese kendhel lan eling, kendhel mergo eling timbang grundel nganti suwing..”

(Memiliki arti bahwa orang hidup haruslah itu haruslah tau diri dan selalu mawas diri, jangan selalu menggerutu dalam menjalani kehidupan).

  • “Pring Ori, urip iku mati, kabeh seng urip mesti bakale mati..”

(Artinya adalah, hidup itu mati dan semua yang hidup pasti mati).

  • “Pring Wuluh, urip iku tuwuh ojo mung emboh ethok-ethok ora eruh..”

(Bagian ini memiliki artian bahwa hidup itu tuwuh, selalu dinamis, dan jadi orang janganlah bersikap acuh dan pura-pura tidak tahu menahu apa yang seharusnya kita ketahui).

  • Pring Cendhani, urip iku wani ngadepi ojo mlayu mergo wedhi..”

(Dalam menjalani hidup kita haruslah jadi seorang pemberani, berani menghadapi segala situasi dan jangan lari karena takut).

  • Pring Kuning, urip iku eling wajib podo eling marang sing peparing..”

(Pesan dari wejangan tersebut adalah, hidup harus selalu ingat pada Sang Maha Pengasih)

  • Pring Apus, urip iku lampus dadi wong urip ojo seneng apus-apus..”

(Walaupun hidup dinamis, namun hidup juga mudah rapuh atau lampus. Maka dari itu orang janganlah suka berbohong agar hidup kita tidak semakin rapuh).

  • “Pring Petung, urip iku suwung senajan suwung nanging ojo podo nganti bingung..”

(Hidup itu selalu dipenuhi masalah, dan terkadang masalah membuat kita semakin suntuk suwung. Namun, meskipun hidup penuh masalah kita hendaknya jangan selalu bingung).

 

Falsafah Ngelmu Pring juga menyebutkan bahwa “Pring kuwi suket, dhuwur tur jejeg rejeki seret ora usah podo buneg...”.  Artinya adalah, walaupun bambu adalah masuk dalam keluarga rumput namun dapat berdiri tegak, walaupun rejeki sedang seret hendaknya jangan terlalu suntuk. Selain itu dalam Ngelmu Pring, kita diajarkan bagaimana hendaknya kita selalu ingat akan mati sebagaimana pada bait “Menungsa podo eling yen tekan titi wancine bakal digotong anggo pring, bali neng ngisor lemah podo ngisor oyot pring...”. Hal tersebut memiliki arti yang sangat mendalam, apabila manusia sudah sampai waktunya (dalam hal ini mati) juga akan diusung dengan keranda dari bambu menuju ke tempat peristirahatan terakhir, sebagaimana hal ini dapat kita temui dalam upacara kematian masyarakat pedesaan Jawa. Setelah diusung dak dimakamkan, maka sang manusia tersebut kembali kepada bumi beriringan dengan akar-akar bambu.

Masyarakat Jawa juga memiliki prinsip bahwa hidup itu berjalan seperti air, dan kita mengalir bersamanya. Pun demikian dengan bambu yang memiliki sifat “Ora gampang tugel, mergo iso melur...”, (tak mudah patah, karena lentur). Bagi masyarakat Jawa sifat bambu yang sedemikian memiliki makna yakni “Urip kuwi ojo podo kaku, meluro lan pasraho. Ojo mangu-mangu, nging terus mlaku..”. Dalam menjalani hidup kita jangalah menjadi orang yang kaku, bersikaplah melur atau fleksibel dalam artian kita selalu bersikap terbuka dan membuka diri. Hidup juga hendaknya jangan berpangku tangan, terus berjalan dan berusaha hingga Tuhan menunjukkan hasilnya. Usaha tersebut juga dibarengi dengan doa agar hidup selalu dalam lindungan Tuhan yang mengatur seluruh hidup kita.

Hidup juga janganlah berelebihan harta, konsumtif dan hedonis, hiduplah secukupnya. Bagi orang Jawa, apabila hidup dalam keadaan “Cukup sandang pangan papan, urip bakal mukti pakarti..”. Dengan artian bahwa apabila kita hidup berkecukupan dari segi sandang, pangan, dan papan maka hidup kita akan selalu bermakna jika dibarengi dengan budi pekerti yang luhur. Demikianlah secuil falsafah hidup masyarakat Jawa dalam Ngelmu Pring. Ngelmu Pring sendiri merupakan local wisdom tidak hanya dapat diterapkan bagi masyarakat Jawa semata, namun juga bagi siapapun. Jika ini coba kita terapkan dalam kehidupan, bukan tidak mungkin menjadikan hidup kita berjalan selaras dan seimbang dengan kosmologi alam.

 

Ikuti tulisan menarik Irfantoni Listiyawan lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan