x

Iklan

Kamaruddin Azis

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Menjaga Trimulyo, Sabuk Hijau di Pantura

Tentang pentingnya menjaga ekosistem mangrove di Jawa Tengah

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Jelang pesawat Lion Air penerbangan JTO797X mendarat di atas Kota Semarang, pandangan saya tersita pepohonan rimbun di antara pematang dan laut, (09/08/2016). Sebagian pohon numpuk di tengah kolam besar, sebagian berjejer di tepi pantai. Inilah penggalan ekosistem mangrove, sabuk pengaman pantai Kota Semarang yang masih tersisa.

(Foto: Bersama membahas langkah-langkah perbaikan mangrove Trimulyo, foto oleh: Kamaruddin Azis/DFW)

***

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Di Bandara Ahmad Yani, Semarang, Raditya, fasilitator pendamping desa program restorasi mangrove di Kota Semarang telah menanti. Waktu menunjuk 16.00 wib. Dengan menunggang sepeda motor kami bergegas ke kawasan Kota Tua Semarang. Di sudut satu kafe, persis di sisi barat gereja, kami mengaso dan bercerita.

“Semarang panas pak ya,” katanya memulai obrolan. Saya mengangguk. Kami memesan es teh plus kudapan ubi goreng dan gorengan serupa bakwan mini. Dua gelas es teh Tongjie yang tandas di hadapan saya menjadi bukti bahwa atmosfer di atas Kota Semarang memang panas.  Sebelumnya, saat menunggu bus, saya merasakan serangan hawa panas. Persis anggapan orang-orang yang pernah bertandang ke kota pantai ini, mendaulat Semarang sebagai kota berhawa panas.

 “Trimulyo ini salah satu kelurahan dalam wilayah administrasi Kota Semarang. Awalnya bagian Kelurahan Terboyo Wetan,” tutur Radit, pemuda kelahiran Pemalang, alumni Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Menurut Radit, Trimulyo berada di sempadan Sungai Babon dan Sungai Sringin. Di sepanjang sungai inlah Trimulyo yang masuk Kecamatan Genuk membentang.

Menurut beberapa rilis riset dan kajian cepat, Trimulyo adalah perkampungan yang tanah-tanahnya cocok bagi pertumbuhan jenis Rhizophora. Disebut demikian sebab tumbuh banyak jenis ini dengan daun hijau terang meski tidak terlalu padat.

Hasil riset DKP Kota Semarang dan FPIK Undip tahun 2015 menyebutkan ada tiga kecamatan yang masih mempunyai hamparan ekosistem mangrove relatif beragam yaitu Tugu, Genuk, dan Semarang Barat. Mangrove yang tersebar di pesisir Semarang masuk kategori mayor atau dominan, minor, dan komponen asosiasi atau campuran. Beberapa di antaranya adalah Acanthus ilicifolius (Jeruju), Api-api atau Avicennia alba , Avicennia marina (Api-api), Bruguiera gymnorrhiza (Lindur) dan lain sebagainya.

***

 “Mereka petambak bandeng dan ikan nila. Kalau bandeng sudah lama sejak udang tak lagi bagus harganya. Kalau budidaya ikan nila diperkenalkan Bintari, sebuah LSM lingkungan,” papar Radit mengenai kondisi masyarakat di Trimulyo. Meski petambak, warga Trimulyo hanya petambak penggarap atas tambak orang-orang kota.  Berdasarkan observasi Radit di sekitar kelurahan Trimulyo, termasuk sepanjang pesisir kelurahan di Kota Semarang, ada beberapa LSM yang pernah teribat dalam rehabilitasi pesisir kota Semarang termasuk Bintari.

“Mereka dapat bantuan program CSR perusahaan,”  ucap Radit. Ketertarikan banyak pihak mengambil bagian di pesisir Semarang ini karena kerentanan ekosistemnya, rendahnya kapasitas sosial ekonomi warga. Butuh banyak tangan-tangan untuk membantu Trimulyo menangani permasalahan lingkungan pesisirnya ini termasuk Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Dinas terkaita.

Persoalan sudah sedemikian kompleks, industrialisasi, kapasitas sosial yang rendah, tumpang tindih pengelolaan kawasan, drainase yang buruk, hingga permukiman warga yang semakin padat. Trimulyo diancam Rob, juga karena perkembangan kota yang semakin menggerus kawasan hijau di pesisir. Tambak dan permukiman jadi biangnya oleh sebab itu pilar-pilar sosial dengan meningkatkan kesadaran untuk melestarikan mangrove adalah pilihan utama.

Menurut Mangrovemagz (2015), berdasarkan hasil pemantauan citra landsat 7 perekaman tahun 2010 (a) dan citra landsat 8 perekaman Februari 2015 (b) di tiga Kecamatan di Semarang tersebut, yaitu Genuk, Tugu dan Semarang Barat, ditemukan perubahan luasan lahan dari 33% hingga 158%. Khusus untuk Kecamatan Genuk berubah hingga 95%, yaitu dari 15,9 hektar menjadi 8,2 hektar. Inilah tiga kecamatan pelindung pantai Kota Semarang dimana Trimulyo ada di dalamnya. Kelurahan yang berpenduduk tidak kurang dari 4.500 jiwa.

Trimulyo, adalah kampung atau kelurahan yang saban hari selalu direndam Rob. Meski ada bakau ancaman ini terus datang sebab selain abrasi yang mengancam juga karena pohon-pohon mangrove yang lambat laun semakin punah. Trimulyo, desa pengaman Pantura atau Kota Semarang ini harus segera direstorasi, sekarang atau lidah laut akan semakin jauh merangsek ke daratan dan perkampungan.

Di mata Radit warga Trimulyo adalah warga yang kerap diterjang Rob, yaitu situasi ketika air laut naik menggenang perkampungan. Ini dialami sejak beberapa tahun terakhir, selain karena topografi landai kawasan pantai Kota Semarang ke utara dan ke timur juga karena semakin lempangnya laut hingga ke darat. Pohon mangrove semakin menipis karena pembukaan lahan tambak dan permukimam.

Perkembangan Kota Semarang yang menuntut adanya kawasan industri dianggap juga sebagai salah satu pemicu tidak normalnya pelepasan air.  Bangunan-bangunan beton, saluran air yang macet karena sampah menumpuk, permukiman, kosa-kosan yang mengambil sempadan kali dan merampas resapan air menjadi penyebab Rob yang semakin menggelisahkan warga ini.

“Trimulyo merupakan kawasan industri juga, ada dua RW yang persis di sisi kawasan mangrove, inilah yang akan menjadi lokasi rehabilitasi, nanti jika sudah ada kepastian dari KKP,” lanjut Radit. Menurutnya, warga Trimulyo telah membangun komunikasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Semarang.

“Sudah ada kelompok pengelola kegiatan pesisir yang diketahui oleh dinas, namanya Kelompok Sringin. Anggotanya 20 orang dan telah mendapat persetujuan dari Dinas tahun lalu,” katanya.

Lantaran ingin memperoleh gambaran kapsitas kelompok tersebut terkait agenda pengelolaan pesisir Kota Semarang terutama perlindungan ekosistem mangrove, Radit berkoordinasi dengan pengurus kelompok Sringin dan pemerintah kelurahan Trimulyo untuk membahas realitas lingkungan pesisir di sepanjang sempadan sungai muara Sringin dan Babon.

“Sebanyak 21 orang telah kita undang untuk persiapan pertemuan besok. Ada 13 perwakilan kelompok atau dari kelurahan dan ada 8 orang dari iinstansi terkait seperti Dinas Kelautan dan Perikanan,” tambah Radit.

Di skenario Radit, setidaknya ada dua yang bisa dipetakan terkait kelompok-kelompok pengelola lingkungan pesisir Semarang. Pertama, kapasitas kelompok tersebut, seperti tingkat pengetahuan, keterampilan dan pengalaman mereka melaksanakan program rehabilitasi, dan yang kedua adalah menjajaki kesungguhan mereka dalam membangun kerjasama dengan pihak luar seperti Kementerian Kelautan dan Perikanan yang saat ini sangat antusian merestorasi pesisir Pantura.

Bagi Kementerian Kelautan dan Perikanan restorasi sangat mendesak, selain karena perubahan ekstrem seperti di Kecamatan Genuk itu juga karena secara umum mangrove nasional sedang terancam. Data KKP menunjukkan kerusakan pesisir akibat abrasi mencapai angka 29.268, 21 hektar. Luas mangrove seluas 3,7 jt ha dan yang rusak telah ada 1,08 jt hektar. Jawa Tengah, termasuk Kota Semarang adalah salah satu kawasan yang juga terpapar persoalan tersebut.  

Jika demikian, merestorasi dan menjaga mangrove di Trimulyo sungguh sangat dibutuhkan, bukan?

Ikuti tulisan menarik Kamaruddin Azis lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan