x

Iklan

Ende Pancasila

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Masyarakat Rendu Desak Kapolri Copot Kapolres Ngada

Warga Masyarakat Rendu Butowe,Ulupulu dan Labolewa Desak Kapolri Segera Copot Kapolres Ngada yang telah melakukan Tindakan Intimidasi terhadap Perempuan

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Mbay. Masyarakat Rendu Butowe,Ulupulu dan Labolewa  Mendesak Kapolri segera mencopot kapolres Ngada yang telah melakukan tindakan diskriminasi terhadap perempuan yang tengah mempertahankan tanah warisan leluhur. 

Hal tersebut di buktikan dengan aksi telanjang dada yang dilakukan oleh Perempuan Rendu Butowe, Kecamatan Aesesa Selatan, Kabupaten Nagekeo terhadap kehadiran aparat keamanan yang terdiri dari Polres Ngada dan Sat Pol PP Kabupaten Nagekeo.

Aksi yang di lakukan oleh Perempuan rendu merupakan ungkapan ketidakpuasan terhadap sikap arogan dan intimidasi aparat keamanan yang ada di lokasi saat pengamanan aksi para ibu yang menolak kehadiran truk pengangkut alat – alat survey menuju lokasi di Desa Rendu Butowe, Kecamatan Aesesa Selatan pada Selasa (08/11).

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Hadir dalam pengamanan itu Kapolres Ngada,  AKBP Andi Nurwandi SIK dan Kasat Pol PP Nagekeo, John Dou yang terjun langsung memantaukan situasi yang terjadi dimana warga memblokir jalan masuk menuju lokasi survey dengan menanam kembali pagar halaman yang telah dirusak oleh Pemda Kabupaten Nagekeo.

“Mereka telah melakukan penyerobotan terhadap hak milik masyarakat dengan merusak pagar pembatas yang ada disini” ujar Siti Nur Aisah, aktivis perempuan Nagekeo.

Menurut pengakuan Ibu Siti Nur Aisah saat aksi berlanjut Ibu Noben da Silva, aktivis  Komnas Perlindungan Perempuan dan Anak hendak mengabadikan moment itu dengan merekam lewat video HP dan mencoba untuk memotretnya namun seorang intel merampas HPnya dan memukul bahu kirinya.

“Ibu Noben terkena pukul saat hendak mengambil video dan memotret aksi yang sedang berlangsung namun pada saat itu seorang intel dari belakang merampas HPnya hingga jatuh dan langsung memukul bahu kirinya” tuturnya.

Melihat perlakuan aparat keamanan yang tidak terpuji serentak Perempuan yang mengikuti aksi itu membuka baju dan telanjang dada sebagai tanda protes keras terhadap kekerasan yang dilakukan oknum intel tersebut.

Lebih lanjut aktivis perempuan Nagekeo ini mengatakan bahwa saat itu ada kata - kata yang diungkapkan Kapolres Ngada yang membahasakan bahwa pihaknya sedang menonton film gratis di lokasi kejadian.

“Kami sedang menonton video gratis. Formatnya sama tapi beda sedikit dengan punya kami di rumah” katanya, seperti yang diucapkan Siti Nur Aisha di Rendu Butowe.(9/11).

Ibu Nur juga menambahkan kalau dirinya juga mendapat perlakuan yang sama seperti ibu Noben yakni tangan kirinya ditarik oleh salah seorang anggota Sat Pol PP Nagekeo dan dalam waktu yang hampir bersamaan Kasat Pol PP Nagekeo, John Dou mengancamnya dengan perkataan bahwa dirinya yang selama ini dicari.

“Kau ini yang saya cari selama ini. Kau lihat saja nanti” kata Dou seperti yang ditirukan ibu Siti.

Terhadap ancaman, arogansi dan kekerasan yang dilakukan oleh aparat keamanan, Ketua Forum Penolakan Pembangunan Waduk Lambo, Bernadinus Gaso saat ditemui di lokasi (9/11) menghimbau kepada aparat keamanan agar tidak melakukan intimidasi dan arogansi terhadap warga karena apa yang dilakukan warga saat ini merupakan satu perjuangan untuk mempertahankan hak – hak mereka sebagai warga negara yang memiliki lokasi tersebut.

“Saya harapkan agar aparat kepolisian maupun sat pol PP tidak melakukan tindakan arogan maupun intimidasi terhadap warga karena apa yang dilakukan warga merupakan perjuangan mereka untuk mempertahankan hak – hak mereka sebagai warga negara yang memiliki lokasi tersebut” tuturnya.(JFM)

Ikuti tulisan menarik Ende Pancasila lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler