#SeninCoaching: Memimpin Cara Douglas Bader - Analisa - www.indonesiana.id
x

Mohamad Cholid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 25 Februari 2019 00:41 WIB

#SeninCoaching: Memimpin Cara Douglas Bader

Dibaca : 620 kali

#Leadership Growth: Reaching the Sky

 

Mohamad Cholid

Practicing Certified Executive and Leadership Coach

 

Kecenderungan Douglas Bader membengkokkan aturan dia tebus dengan kedua kakinya yang harus diamputasi. Pada usia 20 tahun Douglas lulus menjadi pilot officer di Skuadron No. 23, berbasis di Kenley, Surrey. Pilot officer pangkat terendah di Royal Air Force (RAF) Inggris dan negara-negara Commonwealth.

Menerbangkan Gloster Gamecocks, lantas Bristol Bulldogs, Douglas Bader sering melakukan manuver ilegal dan menembus batasan. Pada tahun 1930-an itu Bulldogs dikenal terbang sangat cepat, hanya pada kecepatan rendah mengalami directional stability. Aturan ketat yang diberlakukan adalah: larangan keras melakukan unauthorized aerobatik di bawah ketinggian 2.000 feet (610). Bagi Douglas, itu dianggap unnecessary safety rule, bukan perintah yang harus ditaati.

Skuadron No.23 memenangi kompetisi di acara ganda Hendon Air Show 1929 dan 1930. Pada musim semi 1931, Douglas Bader bersama dengan Harry Day, komandan unit, sukses mempertahankan posisi tersebut. Akhir tahun 1931, sebagai persiapan untuk memenangi kompetisi aerobatik 1932, Bader dan para koleganya melakukan latihan ekstra. Dua pilot meninggal kecelakaan dalam latihan itu. Mereka sebenarnya sudah diwanti-wanti untuk tidak melakukan manuver aerobatik di bawah 2.000 meter. Bader selamat.

Pada 14 Desember 1931, saat datang ke Reading Aero Club, dia tidak tahan dikompori untuk memperlihatkan ketrampilannya, lantas mencoba aerobatik ketinggian rendah di Woodley Airfield dengan Bulldog Mk. IIA. Dalam aerobatik itu, ujung sayap kiri pesawat yang dipilotinya menyentuh tanah, lalu crash.

Douglas Bader dilarikan ke Royal Berkshire Hospital. Dokter bedah termasyur J. Leonard Joyce (1882 – 1939) melakukan amputasi kedua kaki Bader, satu di atas lutut, satunya di bawah lutut. Kondisinya sangat kritis.

Setelah menjalani proses pemulihan dan sederet latihan menjalani kegiatan normal bertumpu sepasang kaki palsu – antara lain latihan dansa, main golf, dan nyetir mobil – Douglas Bader, yang sangat gigih menempa diri, akhirnya memenuhi syarat menerbangkan pesawat lagi.

Berdasarkan endorsement Marsekal Muda Halahan dan sejumlah evaluasi plus pembuktian kemampuannya di pelbagai level, Douglas Bader pada 27 November 1939 akhirnya terbang solo, dengan Avro Tutor. Begitu melesat sendirian, ia tidak tahan untuk melakukan manuver aerobatik.

Latihan berikutnya adalah menerbangkan Fairey Battle, pesawat ringan pengebom bermesin tunggal, dan Miles Master, pesawat latih advance dengan dua tempat duduk. Ini merupakan latihan tahap terakhir sebagai syarat menerbangkan Spitfires dan Hurricanes, dua jenis pesawat tempur RAF.

Ketrampilan mengemudikan pesawat, keberaniannya melakukan manuver bervariasi, dan inovasi terbang bersama tim dalam menghadapi pesawat-pesawat tempur Jerman, memungkinkan Douglas Bader sering unggul.

Di teater udara Perang Dunia II itu, suatu hari pesawat Douglas Bader tertembak, sehingga ia harus lompat dari cockpit. Itu dilakukannya dengan susah payah karena salah satu kaki palsunya nyangkut dan akhirnya dia tinggalkan. Ketika berhasil mendarat dengan parasut di daerah Prancis yang dikuasai Jerman, ia menjadi tawanan perang tanpa kaki palsu komplit. Sebagian perwira Jerman respect pada Douglas Bader, penerbang pesawat tempur dengan kaki buatan.

Beberapa kali ia mencoba meloloskan diri, namun tertangkap lagi, dan akhirnya dipindahkan ke Colditz Castle di wilayah Jerman selama hampir tiga tahun. Sampai akhirnya pada 15 April 1945, tentara AS berhasil membebaskan Bader dan para tawanan perang lainnya.

Pasca perang, setelah pensiun 21 Juli 1946 dengan pangkat group captain di RAF, Douglas Bader sempat aktif di politik, menjadi anggota House of Commons. Karena merasa para politisi dari semua partai cenderung “memanfaatkan” veteran perang untuk tujuan-tujuan praktis mereka, ia mengundurkan diri dan memilih berkarir sebagai profesional di perusahaan.

Pilihannya adalah Royal Dutch Shell, sebagai balas budi atas kesediaan perusahaan tersebut menerimanya bekerja ketika ia – dalam usia 23 tahun itu -- baru sembuh dari kecelakaan pesawat. Di Shell ia mendapatkan peluang terbang kemana-mana. Jabatan terakhir sebelum pensiun 1969 adalah Managing Director Shell Aircraft.  

Biografi Douglas Bader, Reach for the Sky yang ditulis Paul Brickhill dan terbit 1954, dalam beberapa bulan laku 172.000 jilid. Kisah hidupnya pada 1956 juga difilemkan dengan judul sama. Tapi ia baru bersedia menonton film tersebut sebelas tahun kemudian, di televisi.

Sejumlah penghargaan diterima Douglas Bader, dari publik antara lain berupa nama jalan, nama gedung, etc. Dari RAF satu di antaranya Distinguished Flying Cross. Dari kerajaan antara lain Commander of the Most Excellent Order of the British Empire dan Knight Bachelor, atas jasa-jasanya pada kalangan disabilitas. Ia meninggal 5 September 1982, serangan jantung. 

Kegigihan Douglas Bader, yang bertumpu di atas dua kaki buatan berhasil menjadi perwira pesawat tempur RAF, sukses berkarir di korporasi, serta aktif dalam kegiatan membantu kalangan disabilitas, telah memberikan inspirasi banyak orang di Eropa, utamanya di Inggris.

Richard Branson, pendiri dan pemilik Virgin Group (menaungi ratusan perusahaan), mengaku memperoleh inspirasi dan daya dorong hidup utamanya dari Douglas Bader – kebetulan keluarganya kenal dekat.

Richard Branson berasal dari kelas menengah bawah seperti kebanyakan orang. Saat sekolah dia didiagnosis mengalami disleksia dan terkena ADD, beberapa kali juga gagal merintis bisnis. Dalam serba keterbatasannya, ia terus menempa diri dan sukses memimpin Virgin Group berkembang.

Orang-orang dengan keterbatasan fisik, didera oleh lingkungan yang tidak selalu ramah, dan sederet tantangan lain namun tetap tumbuh mengatasi semua itu, selalu memberikan inspirasi banyak orang, menambah energi hidup.

Di sekitar kita sesungguhnya bisa kita temui orang-orang dalam keterbatasan – apakah itu fisik, uang, pendidikan formal, akses sosial, etc. – yang kemudian jadi hebat, menjadi pahlawan keluarga dan memberikan manfaat bagi komunitasnya.

Mereka mengubah apathy menjadi imminent possibility. Melakukan transformasi dari mundane ke magnificent – dalam ketidaklengkapan fisik. Mereka berupaya terus menjadikan diri mereka lebih baik, gigih meningkatkan kompetensi.

Para eksekutif dan leader yang (serius ingin) sukses lazimnya berperilaku begitu.

Douglas Bader, dan orang-orang di sekitar kita yang gigih mengolah keterbatasan diri lalu meraih prestasi hebat, cenderung memiliki courage (berani mendobrak self-limiting belief, batasan semu, menjelajah ke wilayah pemikiran baru); humility (rendah hati menerima masukan dari orang-orang kunci di sekitarnya, menempa diri); dan discipline. Tiga kebajikan itu – courage, humility, dan discipline – menjadi pijakan pengembangan kepemimpinan yang dipraktikkan di Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching (MGSCC). Itu proven telah membantu puluhan ribu eksekutif menemukan diri jadi lebih dari yang sebelumnya.

Bagi kita yang diberi anugerah fisik komplit dan indera lengkap, bangun tidur dalam keadaan sehat, sesungguhnya telah mendapatkan privilege luar biasa dari Pencipta Alam Semesta.

Beranikah kita selalu menanyakan diri, apakah kelengkapan indera yang diberikan Tuhan, termasuk kecerdasan kita, sudah kita optimalkan untuk terus meningkatkan kompetensi – demi kepentingan diri sendiri dan stakeholder? Apakah kita setiap saat sigap mengatasi badai distraksi yang mengepung kita, utamanya bias informasi yang mengalami reinforcement media sosial? Ini dua contoh saja dari sejumlah pertanyaan mendasar untuk diolah dan dijawab dengan tindakan kongkrit, agar kita jadi lebih efektif.

 

Mohamad Cholid  adalah Head Coach di Next Stage Coaching.

n  Certified Executive Coach at Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching

n  Certified Marshall Goldsmith Global Leadership Assessment

Alumnus The International Academy for Leadership, Jerman

(http://id.linkedin.com/in/mohamad-cholid-694b1528)

(https://sccoaching.com/coach/mcholid1)

Kontak Nella +62 85280538449 untuk jadwal konsultasi Anda.

 

  • didi kempot

Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.