#SeninCoaching: Presiden Itu Bekerja atau Berkuasa? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Mohamad Cholid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • #SeninCoaching: Presiden Itu Bekerja atau Berkuasa?

    Dibaca : 648 kali

    #Leadership Growth: To Lead or Building Power?

     

    Mohamad Cholid

    Practicing Certified Executive and Leadership Coach

     

    Empat ribu dua ratus trliyun rupiah atau US$ 300 milyar (billion) diestimasikan setiap tahun dibelanjakan perusahaan-perusahaan di AS untuk mengatasi stress.

    Menurut Dr. Marshall Goldsmith, berdasarkan hasil penelitian terlihat, 80% dari seluruh karyawan (dari pelbagai organisasi) mengalami stress dalam pekerjaan mereka. Empat puluh persen melaporkan pekerjaan mereka sangat stressful atau extremely stressful, dan 25% menyadari pekerjaan mereka jadi penyebab utama stress dalam kehidupan. Dampaknya adalah penyakit, dari yang ringan seperti pening dan nyeri punggung sampai serangan jantung.

    Dr. Marshall Goldsmith, 70 tahun, adalah world-renowned business educator and coach. Kliennya antara lain direktur Bank Dunia dan tokoh sekaliber Alan Mulally, mantan direktur Boeing yang ketika jadi CEO Ford Motor Company berhasil memimpin perubahan signifikan, dari merugi belasan milyar dolar menjadi profitable – tanpa bantuan uang pemerintah dan dengan personel sama (kecuali dua direktur yang diminta mengundurkan diri karena mereka ogah-ogahan kerja sama untuk pembaharuan cara kerja lebih efektif).

    Data lain menyebutkan, jutaan dolar AS setiap hari terpakai sia-sia di perusahaan-perusahaan akibat para karyawan produktivitasnya rendah, tidak fully engaged. Tingkat engagement yang rendah tersebut akibat stress atau disebabkan oleh distraksi media sosial dan disorentasi setiap anggota tim, atau perilaku kepemimpinan bos, atau disebabkan oleh semua itu, belum ada kesimpulan.

    Kenyataannya, kondisi karyawan yang tidak atau kurang engaged – kurang dalam ownership, tidak akuntabel dan minim tanggung jawab sesuai fungsi dan tugas masing-masing – merupakan gejala yang terjadi di banyak negara.

    Hasil survei Gallup, sesuai data yang dikumpulkan selama tiga tahun (2014, 2015, dan 2016) di 155 negara, memperlihatkan bahwa 85% karyawan tidak engaged – mereka hadir di tempat kerja, tapi energi dan kecerdasan yang mereka curahkan untuk organisasi hanya 15%. Itu hasil rata-rata.

    Bukankah sering kita lihat orang-orang berpenampilan sehat datang ke tempat kerja tanpa ketajaman pikiran sesuai tanggung jawabnya? Bahkan ada yang masuk kantor sekedar supaya tercatat di daftar hadir. Sebagian jam kerja mereka gunakan pula membuka media sosial, di smart phone masing-masing, bahkan ada yang tega menggunakan komputer perusahaan untuk entertainment, bukan kerja. 

    Fisik mereka hadir di tempat kerja, tapi pikiran, hati, dan energinya yang diberikan untuk organisasi masih di bawah 50%. Lantas pada saat tanggal gajian, mereka merasa sah terima gaji penuh. Ini gejala di banyak perusahaan dan organisasi.

    Tingkat engagement rendah seperti itu menjadi gawat jika mereka punya tanggung jawab memimpin tim, di level supervisor, asisten manajer, sampai GM, apalagi sudah setingkat VP – lebih tak pantas lagi jika anggota direksi.

    Mudah-mudahan di tempat Anda situasinya lebih baik dari gambaran umum itu.

    Jika di tempat Anda ada seorang GM atau VP membuka WhatsApp saat meeting, tinggal ingatkan. Atau jika Anda memimpin rapat, stop dulu rapatnya dan seluruh ruangan diajak melihat yang sedang buka smartphone-nya. Cara ini antara lain dilakukan Alan Mulally dalam memimpin rapat Business Plan Review (BPR) di Ford Motor Company, sekali sepekan pada jam yang sama (untuk membangun irama dan disiplin memimpin perubahan).

    Tugas para CEO sekarang bertambah, selain mesti mampu sebagai leader, mereka diharapkan layak jadi role model dan berkompetensi pula memberikan coaching kepada direct reports. Maka perlu berbesar hati menerima perspektif lebih baik.

    Di negeri-negeri maju, seperti AS dan Inggris, 20 tahun belakangan ini para direktur dan CEO organisasi-organisasi yang tumbuh sehat sudah lazim didampingi coach (bahkan ada yang lebih dari satu coaches).

    Richard Branson, pendiri dan pemilik Virgin Group yang menaungi ratusan perusahaan, juga didampingi coach dan tim konsultan. Contoh lain misalnya Eric Schmidt, Executive Chairman Google (2001 - 2015) dan Alphabet Inc. (2015 - 2017). Mereka, termasuk Alan Mulally, memberikan contoh sebagai pemimpin yang terbuka hati dan pikirannya, atau legowo, menerima perspektif baru dan siap menguji asumsi-asumsi mereka agar mendapatkan landasan lebih kuat dan efektif memimpin, melakukan eksekusi dengan lebih baik.

    Hukum alam tersebut, bahwa pemimpin sepantasnya jadi role model dan terbuka hati plus pikirannya untuk selalu siap menguji asumsi-asumsinya sebelum melakukan eksekusi, makin mutlak untuk seorang presiden atau kepala negara. Nasib puluhan atau ratusan juta manusia dipengaruhi oleh keputusannya. Selalu waspada dan rendah hati untuk menguji asumsi-asumsi tim, serta informasi sumir, memperlihatkan seorang kepala pemerintahan benar-benar bekerja untuk membangun manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat; bukan untuk egonya.

    Perilaku kepemimpinan seperti itu bisa kita jadikan salah satu ukuran membedakan presiden dengan penguasa. Kalau penguasa, dengan ego yang menggelembung dan sibuk membangun karisma semu (melalui tekanan, manipulasi, dan menjadikan agama komoditas politik), terbukti dalam sejarah menimbulkan malapetaka kemanusiaan, minimal menyebabkan rakyat stress.

    Contohnya Hitler, Stalin, dan Mao Zedong (utamanya saat dia menggunakan Revolusi Kebudayaan – yang bisa disebut sebagai mimpi buruk kemanusiaan – untuk memperkuat kekuasaannya). Mereka bertiga contoh yang mengaku pemimpin tapi kenyataannya menyebabkan rakyat stress, hidup cemas.

    Leadership, sebagaimana kata Peter Drucker, “bukan magnetic personalitythat can just as well be demagoguery.” Demagoguery adalah aktivitas atau praktik-praktik politik menggali dukungan publik dengan mengeksploitasi keinginan-keinginan dan prasangka-prasangka masyarakat umum dan menutup pertimbangan rasional. Ini membelenggu kecerdasan dan potensi manusia.

    Kepemimpinan adalah upaya mengangkat martabat manusia, meningkatkan performance manusia ke standar yang lebih tinggi, mengatasi batasan-batasan normal. Landasan kepemimpinan seperti itu tidak ada yang lebih baik kecuali berpijak pada ruh manajemen (the spirit of management), yang dipraktikan dalam kegiatan sehari-hari sesuai prinsip-prinsip ketat dalam bertindak dan tanggung jawab organisasi, high standard performance, serta menghormati individu dan hasil kerjanya. Demikian kata Peter Drucker, guru manajemen kelas dunia.

    Kepemimpinan seperti itu jika dipakai mengembangkan organisasi (bisnis dan nonprofit) dan dipraktikkan pula oleh pejabat publik, diyakini akan mengurangi atau meminimalisir para pelaksana (karyawan) mengalami stress.

     

    Mohamad Cholid  adalah Head Coach di Next Stage Coaching.

    n  Certified Executive Coach at Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching

    n  Certified Marshall Goldsmith Global Leadership Assessment

    Alumnus The International Academy for Leadership, Jerman

    (http://id.linkedin.com/in/mohamad-cholid-694b1528)

    (https://sccoaching.com/coach/mcholid1)

    Kontak Nella +62 85280538449 untuk jadwal konsultasi Anda.

     

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.