Pencarian yang Hakiki - Analisa - www.indonesiana.id

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 5 Mei 2019 08:51 WIB

Pencarian yang Hakiki

Dibaca : 57 kali

Judul: Pencarian Yang Hakiki

Judul Asli: The Eternal Wonder

Penulis: Pearl S. Buck

Penterjemah: Lanny Murtihardjana

Tahun Terbit: 2016

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 382

ISBN: 978-602-03-3207-9

 

Novel berjudul “Pencarian Yang Hakiki” ini sungguh unik. Unik karena diterbitkan jauh hari setelah penulisnya meninggal dan tokohnya dikisahkan mulai sejak dari kandungan.

Novel ini adalah tulisan Pearl S. Buck di masa tuanya. Buck sendiri tidak pernah menerbitkannya. Anak angkatnya yang bernama Edgar Walsh yang menerbitkan buku ini. Naskah novel yang diperkirakan ditulis oleh Buck di Vermont pada tahun 1973 ini sempat hilang. Naskah ini hilang bersama naskah lain karya Buck bersama dengan kematiannya. Namun melalui sebuah peristiwa yang tak terduga – sebuah lelang barang dari sebuah Gudang di Texas, naskah ini ketemu. Pada tahun 2012 seseorang mengiklankan lelang barang di sebuah Gudang yang sewanya belum dibayar. Melalui sebuah negosiasi dengan Walsh, akhirnya pada tahun 2013 naskah tulisan tangan dan salinannya berupa ketikan bisa kembali ke tangan keluarga Buck. Walsh kemudian melakukan perapian naskah dan menerbitkannya.

Berbeda dengan kebanyakan novel dimana kisahnya biasanya saat tokoh utamanya sudah dewasa, atau setidaknya anak-anak, novel ini mengisahkan tokoh utamanya sejak ia berada di kandungan. Tokoh bernama Randolf Colfax adalah anak dengan kecerdasan tinggi. Kecerdasannya sudah terlihat saat ia masih berada di dalam kandungan. Melalui nalurinya ia sudah bisa memikirkan hal-hal yang dihadapinya. Ia juga bereaksi cepat untuk belajar hal-hal baru saat baru lahir.

Pada usia tiga tahun Rannie – demikian ia dipanggil, sudah mulai bisa membaca. Usia empat tahun sudah mempertanyakan tentang konsep-konsep abstrak seperti Yesus yang lahir dari perawan dan konsep tentang bagaimana kejadian manusia. Usia enam tahun sudah bisa membaca ensiklopedi dan mencari kata baru di kamus. Untunglah ayahnya yang seorang profesor mengajarinya dengan sangat terbuka.

Rannie bosan di sekolah umum. Pengetahuan yang didapat dari ayahnya dan dari membaca buku di rumah, membuat Rannie lebih dewasa dari murid-murid sebayanya. Ia merasa tidak belajar apapun di dalam kelas.

Rannie akhirnya dimasukkan ke sekolah yang dikelola oleh ayahnya sendiri. Sebuah sekolah untuk anak-anak hebat dan berbakat. Pada umur 12 tahun ia lulus ujian masuk perguruan tinggi. Sebagai keluarga yang berpandangan jauh, ayah dan ibunya tidak buru-buru memasukkan Rannie ke perguruan tinggi. Mereka merencanakan perjalanan keliling dunia untuk memberikan pengalaman lain kepada Rannie. Namun sayang sekali. Menjelang perjalanan mereka ayahnya meninggal. Sepeninggal ayahnya Rannie memutuskan untuk langsung masuk perguruan tinggi, meski usianya baru 12 tahun.

Ia seharunya bisa menyelesaikan doktor pada umur 16 tahun, jika tidak mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan dengan dosen yang dikaguminya. Rannie bertemu Donald Sharpe, seorang dosen yang sangat dikaguminya. Sharpe memanggilnya Rann daripada Rannie. Beberapa kali ia berkonsultasi dengan Donald Sharpe di rumahnya selepas kuliah. Bahkan ia sempat menginap di rumah Sharpe karena ada badai salju. Ternyata Donald Sharpe adalah seorang homo. Malam saat ia menginap di rumah Sharpe, ia digerayangi oleh Sharpe. Sejak saat itulah Rann mejadi tidak percaya kepada dosennya.

Alih-alih menamatkan kuliahnya, Rann memutuskan untuk pergi mencari pengalaman. Mula-mula ia pergi ke New York untuk belajar dari kehidupan. Di New York ia bertemu dengan kakeknya dari pihak ibu. Kakeknya di kemudian hari mewariskan apartemennya di New York kepadanya. Dari kakeknya ini ia mengetahui cerita tentang negeri China. Ia tertarik untuk mengunjungi China. Saat dalam perjalanan kapal dari New York ke London, ia bertemu dengan seorang janda kaya bernama Lady Mary. Rann diajak tinggal di kastil milik suami Mary yang sudah meninggal. Di kastil di luar London inilah Rann belajar tentang bagaimana menjadi lelaki dewasa. Ia belajar kenikmatan seks dari Mary yang lebih tua. Namun hubungan mereka tidak berlanjut.

Rann melanjutkan perjalanannya ke Paris. Dalam sebuah pertemuan tak sengaja, ia berjumpa dengan Stephanie. Stephanie adalah gadis berayah China dan beribu Amerika. Ayahnya seorang pengusaha barang antik dan memegang teguh budaya China. Ia ditingal pergi ibunya saat berumur 6 bulan. Ibunya lari dengan pemuda Amerika. Kepergian ibunya ini membuat Stephanie menjadi gadis yang galau terhadap budaya. Pertemuannya dengan Stephanie menimbulkan rasa cinta di antara keduanya. Ayah Stephanie juga suka kepada Rann. Namun sayang, Stephanie telah memutuskan untuk tidak menikah. Selain ia kecewa terhadap ibunya, ia juga tidak bisa memenuhi keinginan ayahnya yaitu harus melahirkan anak laki-laki.

Berita tentang memburuknya kesehatan kakeknya, membaha Rann kembali terbang ke New York. Kakeknya meninggal. Rann pun kembali ke Ohio dan tinggal bersama ibunya.

Rann memutuskan untuk mengisi hidupnya dengan mengikuti wajib militer. Ia dikirim ke Korea. Di Korea ia menjumpai kehidupan yang lain sama sekali. Di Korea inilah ia melihat gadis-gadis miskin yang menjajakan diri kepada para tentara Amerika dan kemiskinan masyarakat. Ia juga menyaksikan pasar gelap yang melibatkan militer Amerika. Melalui hal-hal yang dilihatnya ini, ia menulis sebuah novel berjudul “Choi.” Tanpa diduga novel ini menjadi best seller.

Karena novel ini memuat tentang pasar gelap dan melibatkan militer Amerika, ia dibebas tugaskan dari kedinasan. Ia kemudian pulang ke New York. Di New York inilah ia menjadi selebriti karena kesuksesan bukunya.

Ia bertemu lagi dengan Stephanie dan ayahnya yang sedang berada di New York. Ayahnya ingin Rann membeli patung Dewi Kuan Yin. Rann setuju. Perbincangan selanjutnya adalah ayah Stephanie meminta Rann untuk menikah dengan putrinya. Rann memang mencintai Stephanie dan sudah melamarnya. Sayang sekali ayah Stephanie meninggal karena tahu bahwa keinginannya menikahkan putrinya dengan Rann tidak akan berhasil. Malam itu Rann pulang ke apartemen, setelah mayat ayah Stephanie disiapkan. Stephanie tidak mau ditemani. Stephanie bunuh diri dengan meminum obat penenang.

Rann menyadari bahwa panggilan hidupnya adalah untuk menjadi penulis. Maka ia menyiapkan dirinya menjadi seorang penulis.

Novel ini membahas pentingnya imajinasi. Imajinasi adalah hal yang sangat penting untuk menghadirkan kreasi. Kreatifitas. Sastrawan dan ilmuwan keduanya menggunakan imajinasi untuk mencipta. Imajinasilah yang menjadi awal mula penciptaan. Seseorang yang penuh dengan imajinasi akan menghasilkan sebuah karya yang otentik.

Berbeda dengan triloginya yang memenangkan nobel, dalam novel ini Buck melihat perjumpaan budaya sebagai sebuah tragedi. Di triloginya Buck menggambarkan perjumpaan budaya sebagai sebuah harmoni dimana masing-masing budaya yang berjumpa bisa saling mengambil. Dalam novel ini perjumpaan budaya yang ditokohkan dalam diri Stephanie justru menimbulkan kegalauan dan keputus-asaan. Stephanie bahkan memilih untuk bunuh diri karena merasa tidak akan berhasil menyelaraskan budaya China dari ayahnya, Amerika dari ibunya dan budaya Perancis dari tempat dimana ia dibesarkan. Apakah di masa tuanya Buck berpikir lain tentang perjumpaan budaya?

Novel ini juga merefleksikan pengalaman hidup Buck sendiri. Di banyak bagian di novel ini Buck bercerita tentang kehidupan gereja, pekerjaan menulis, kehidupan di New York, Vermont, London dan Paris, kota-kota yang pernah dikunjunginya. Ia juga memasukkan banyak kegiatan di dapur. Ia berkisah tentang memasak daging irlandia, selai jahe, dan orang-arik telur dengan ham masakan-masakan yang tidak asing bagi Buck. Ia juga memasukkan halaman rumanya di Vermont yang memiliki kebun kecil. Tentu saja Buck memasukkan banyak pengetahuan dan budaya China yang sangat dipahaminya.

 

  • John Wick

Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.