Review Buku: Penari dari Serdang - Analisa - www.indonesiana.id
x

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 26 Mei 2019 15:29 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Review Buku: Penari dari Serdang

    Dibaca : 354 kali

    Judul: Penari Dari Serdang

    Penulis: Yudhistira ANM Massardi

    Tahun Terbit: 2019

    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

    Tebal: 322

    ISBN: 978-602-06-2237-8

     

    Novel ini menyuarakan kegalauan akan memudarnya kebudayaan Melayu. Kebudayaan Melayu yang menyumbang banyak bagi lahirnya negeri bernama Indonesia, ternyata bagai batang yang terendam. Tak terlihat karena terendam air. Padahal budaya ini dulu pernah berkuasa. Budaya Melayulah yang memperkenalkan tiga agama besar, yaitu Hindu, Budha dan Islam di kepulauan Nusantara. Melayu juga pernah sangat berjaya di laut, di era perdagangan lama. Bandar-bandar besar, khususnya di wilayah selat Malaka dikuasai oleh raja-raja Melayu. Yudhistira ANM Massardi (Yudhistira) menyajikan betapa perkasanya Budaya Melayu sejak Abad 8 di Pantai Utara Jawa, abad 9-14 di Sumatra dan setelah Melayu bertemu Islam. Kekuasaan orang Melayu di era itu bahkan meluas jauh ke utara sampai Thailand dan ke timur sampai Kamboja.

    Dalam hal lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia, Kebudayaan Melayu menyumbang bahasa. Bahasa Melayulah yang menjadi cikal-bakal Bahasa Indonesia. Namun kini budaya tersebut melempem, loyo tak percaya diri.

    Orang-orang Melayu juga berperan besar di era perjuangan kemerdekaan. Tokoh-tokoh Melayu seperti Tengku Amir Hamzah, Muhammad Hatta, Syahrir, Tan Malaka, Haji Agus Salim dan lainnya sangat aktif dalam perjuangan mengupayakan kemerdekaan. Sumbangan pikiran dan tenaga para pejuang asal Melayu ini seperti batangan batu bata yang ikut menyusun bangunan bernama NKRI.

    Melayu juga kaya dengan kesenian, baik musik maupun tarian. Melayu juga kaya dengan karya sastra. Namun sepertinya semua kejayaan itu tenggelam, meredup bagai pelita yang kehabisan minyak. Saat budaya sedang lesu, justru banyak pihak mengklaim sebagai pihak yang paling Melayu. Hal ini menyebabkan revitalisasi budaya Melayu menjadi semakin rumit.

    Budaya Melayu memang dihadang berbagai masalah. Dengan lahirnya NKRI maka posisi penguasa di kesultanan-kesultanan Melayu menurun menjadi hanya sebagai kepala adat. Hal ini menyebabkan kontrol pemimpin Melayu terhadap teritori menjadi sangat berkurang. Belum lagi Revolusi Sosial yang digerakkan oleh golongan kiri yang memporak-porandakan kepemimpinan para elite Melayu di tahun 1946. Apalagi nama Provinsi Sumatra Timur yang memberi identitas Melayu diganti namanya menjadi Sumatra Utara, yang hanya menunjukkan letak geografi saja. Sejak itu budaya Melayu seakan surut tenggelam bagai batang terendam. Budaya Melayu harus direvitalisasi supaya sumbangannya kepada kebudayaan Indonesia bisa kembali nyata.

    Yudhistira menggunakan kisah yang dijalin melalui roman antara Bagus Burhan dengan Putri Chaya, seorang penari dari Serdang dan Tengku Natasya untuk menuangkan gagasannya merevitalisasi budaya Melayu. Melalui kisah roman, Yudhistira menampilkan kondisi kebudayaan Melayu saat ini yang lesu. Ia mengandaikan budaya yang dulunya besar ini bisa bangkit lagi melalui kegigihan dua perempuan. Yudhistira mengungkapkan bagaimana kedua perempuan yang pandai menari ini bahu-membahu menegakkan kembali budaya Melayu.

    Yudhistira menawarkan konsep revitalisasi budaya Melayu dengan meningkatkan kesejahteraan rakyat Melayu. Dalam novel ini, ia memakai pengusaha bernama Barsihar Hamzah yang menghibahkan lahan perkebunannya kepada masyarakat. Dengan redistribusi lahan ini diharapkan rakyat Melayu memiliki kehidupan yang lebih baik. Selain dari redistribusi lahan, Yudhistira juga menawarkan peningkatan akses dan mutu pendidika dan, kesehatan serta penumbuhan kesenian di tanah Melayu.

    Tari dan lagu adalah sedikit dari budaya Melayu yang tersisa. Itulah sebabnya Yudhistira memilih tokoh utamanya adalah seorang penari. Putri Chaya adalah seorang penari Melayu dari Serdang. Putri Chaya masih memiliki pertalian darah dengan Sultan Serdang. Ia keturunan penari-penari istana. Putri Chaya adalah seorang janda muda beranak satu. Suaminya, seorang pilot meninggal dalam kecelakaan pesawat di Kalimantan. Putri Chaya aktif menari dan memiliki sanggar tari. Selain sebagai penari, Putri Chaya adalah seorang pejuang kebudayaan Melayu. Ia membantu Tengku Natasya, seorang keturunan Sultan Serdang yang berupaya membangkitkan kembali kebudayaan Melayu.

    Putri Chaya bertemu dengan Bagus Burhan dalam acara Lomba Aneka Cabang Seni Nasional yang dilakukan di Medan. Bagus Burhan adalah wartawan dari Jakarta yang sudah beristri dan memiliki dua orang putri. Ia menjadi juri lomba pidato, sementara Putri Chaya adalah juri tari. Mereka bertemu di lobby hotel dan segera menjadi kawan akrab.

    Bagus Burhan dan Putri Chaya saling jatuh cinta. Percintaan mereka digambarkan dengan membara, meski tidak norak. Pertemuan singkat itu telah membuat keduanya jatuh cinta.

    Yudhistira juga membumbui novelnya dengan cinta segitiga yang tidak terlalu rumit. Ternyata Bagus Burhan juga tertarik kepada Tengku Natasya. Demikian pun dengan Tengku Natasya yang juga jatuh cinta kepada Bagus Burhan. Di tengah-tengah mengerjakan proyek revitalisasi Budaya Melayu yang disponsori oleh Bersihar Hamzah, seorang muda yang kaya raya, pemilik perkebunan warisan ayahnya, cinta segitiga tersebut tumbuh. Tentu saja Putri Chaya sangat cemburu.

    Bersihar Hamzah dikenalkan oleh Putri Chaya kepada Bagus Burhan saat Bersiah Hamzah mencalonkan diri sebagai anggota DPR. Bersiah Hamzah memiliki darah dari Kesultanan Langkat, sebuah kesultanan besar suku Melayu. Bersiah Hamzah sangat tertarik dengan tulisan Bagus Burhan tentang budaya Melayu. Ia ingin menggunakan isu revitalisasi budaya Melayu sebagai bahan kampanyenya. Meski akhirnya ia gagal menjadi anggota DPR, namun ia sangat tertarik untuk merevitalisasi budaya Melayu. Ia menjadi sponsor utama perhelatan Budaya Melayu yang diadakan selama 2 tahun penuh. Bagus Burhan, Putri Chaya dan Tengku Natasya menjadi tim inti perhelatan ini.

    Seperti telah saya singgung di atas, percintaan antara Bagus Burhan dan Putri Chaya digambarkan dengan panas, meski tidak norak. Dalam berbagai kesempatan Bagus Burhan dan Putri Chaya tidur bersama di kamar hotel dan di rumah panggung di kampung Putri Chaya. Putri Chaya pun tak malu-malu tampil telanjang di depan Bagus Burhan. Melalui percintaan yang membara ini Yudhistira ingin menunjukkan bahwa Putri Chaya adalah seorang penari yang tidak hanya berbakat, tetapi jiwa dan raganya memang adalah seorang penari.

    Meski sangat singkat, percintaan antara Bagus Burhan dan Tengku Natasya juga tak kalah panas. Saat Putri Chaya sakit akibat kelelahan melaksanakan pentas seni sebagai bagian akhir dari perhelatan, Bagus Burhan dan Tengku Natasya justru memadu kasih di kamar hotel.

    Di akhir cerita, Yudhistira mengembalikan Bagus Burhan kepelukan istri dan kedua anaknya. Putri Chaya menyadari bahwa ia tak bisa merebut Bagus Burhan dari keluarganya. Demikian juga Tengku Natasya tak mau meneruskan petualangan cintanya.

    Saya sangat senang Yudhistira memilih dua perempuan Melayu sebagai tokoh utama yang sangat peduli kepada budaya Melayu. Dua perempuan ini bahu-membahu menegakkan kembali budaya Melayu. Sebagai seorang yang memiliki darah Sultan Serdang, Putri Natasya melanjutkan pengelolaan perpustakaan peninggalan Sultan di kota Medan. Tengku Natasya juga sangat aktif dalam memperkenalkan budaya Melayu baik di Indonesia maupun di luar negeri. Dua perempuan ini ditampilkan lebih kuat sebagai pejuang budaya, dibanding tokoh lelaki kaya bernama Bersiah Hamzah.

    Namun sayang, bumbu roman yang membara tersebut justru mengurangi makna dari revitalisasi budaya Melayu yang bersendi agama. Begitu bebaskah pergaulan perempuan Melayu? Satu lagi. Kenapa harus lelaki Jawa yang memicu gagasan dan menjadi aktor utama revitaslisasi budaya Melayu?

    Atau… Yudhistira AMN Massardi memang punya maksud lain tentang pemilihan dan karakter tokohnya? Siapa tahu?

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.