Benarkah SBY Berkhianat? - Viral - www.indonesiana.id

Rudi Fitrianto

Pengamat Kebijakan Publik, Politik dan Hukum
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 28 Mei 2019 10:01 WIB

Benarkah SBY Berkhianat?

Dibaca : 1.570 kali

Kita bersyukur Indonesia telah berhasil melaksanakan Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden dengan lancar walaupun masih banyak perbaikkan untuk demokrasi mendatang. Kita juga wajib berterimakasih pada pahlawan demokrasi yang gugur dalam menjalankan tugasnya, harapan kita semua tentunya Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa menerima amal ibadah para almarhum dan almarhumah serta beristirahat dengan tenang ditempat yang terbaik disisi-Nya.

Dinamika politik terus terjadi pasca pilpres dan pileg 2019, ada pihak yang merasa senang dan ada juga pihak yang merasa dirugikkan. Disamping itu semua sebagai warga masyarakat Indonesia saya merasa prihatin dan terenyuh melihat proses perusakan nama baik atau  karakter Presiden ke - 6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) oleh para buzzer Politik yang tidak bertanggung jawab. Beliau dinarasikan oleh para buzzer politik di linimasa twitter dan facebook sebagai sosok yang berkhianat dalam Pilpres kali ini. Narasi dari buzzer politik inilah yang sekarang banyak diperbincangkan oleh masyarakat awam pada umumnya dan perlu diluruskan oleh para sahabat sekalian. Benarkah SBY demikian? Kita semua tahu selama Pilpres dan Pileg berlangsung Ibu Ani Yudhoyono tengah terbaring sakit dan dirawat di National University Hospital (NUH), Singapura. Beliau didiagnosa oleh dokter terkena kanker darah dan perlu mendapat perawatan yang intensif. Sebagai seorang suami SBY memberikan contoh kepada kita bahwa dalam suka dan duka sosok suami harus ada disamping istri tercinta untuk memberikan semangat dan kasih sayang.

Dukungan Politik SBY

Sebagaimana kita ketahui bersama Presiden ke – 6 Republik Indonesia yang sekaligus juga ketua Partai Demokrat pada berbagai kesempatan secara terang – terangan mendukung Paslon Nomor 02 Prabowo Sandi. Komitmen SBY ini juga dibuktikan dengan para Caleg dari Partai Demokrat berkampanye dengan menggunakan foto pasangan Prabowo Sandi dalam Baliho ataupun Pamflet. Tidak hanya itu SBY juga menghadari serangkaian pertemuan dan kegiatan salah satunya Town Hall Meeting untuk mendengar pidato kebangsaan pasangan nomor urut 02 ini. Komitmen SBY juga dibuktikan dengan jelas di lini masa twitter dan facebook para kader berlambang mercy ini dalam berkampanye secara masif untuk Prabowo Sandi.

Para Kader Demokrat di twitter misalnya banyak dari mereka membantu perjuangan 02 dengan cara mengcounter berbagai macam isu negatif yang merugikan pasangan ini. Tidak hanya di media sosial kader - kader terbaik SBYpun dikirim sebagai anggota BPN Prabowo Sandi yang setiap talk show politik selalu ada menyapa masyarakat Indonesia untuk membela kubu 02 ini. Walaupun kita  juga tahu  SBY tidak dapat hadir dalam berbagai kesempatan dalam kampanye akbar Prabowo Sandi dikarenakan keterbatasan ruang dan waktu -- fokus mendampingi istri di Singapore--  tetapi AHY sebagai New Icon dari Partai Demokrat juga hadir dan menghimbau untuk para konstituen Partai Demokrat memilih 02.

Kita tahu ditengah dinamika kampanye Pilpres dan Pileg kala itu ada yang mengatakan Demokrat bermain dua kaki. Makna dua kaki itu langsung diluruskan AHY dalam konpresnya dengan wartawan—Satu kaki untuk Pileg dan Satu Kaki untuk Pipres—tidak ada partai manapun  yang hanya mengutamakan Pilpres dan meninggalkan urusan utama rumah tangganya masing – masing. Kedua kaki ini harus berjalan beriringan dan melengkapi satu sama lain. Terakhir hasil Real Count KPU Pileg tahun ini partai berlambang mercy ini mendapatkan suara yang relatif lebih kecil dari lima tahun yang lalu. Ini koreksi besar untuk SBY dan Demokrat kedepan untuk menentukan kebijakan partai.

Rakyat yang Menentukkan

Setelah rezim Orde Baru runtuh negara kita mengalami perubahan yang signifikan. Presiden Bj Habibie misalnya membuka kran Demokrasi yang sangat bebas. Hal konkret yang di hasilkan dalam Era Bj Habibie ialah UU No 1 tahun 1999 tentang Pers. Pers sebagai pilar dari demokrasi yang merdeka dan tidak boleh ada lagi tangan besi untuk membungkan suara kritis mereka. Reformasi juga membawa konsekuensi tersendiri, misalnya terjadinya perubahan sistem politik dan ketatanegaraan, dulu Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh MPR atau yang seringkita sebut sebagai Presiden Mandataris MPR. MPR dahulu sebagai lembaga tertinggi negara yang berhak memilih dan mengangkat presiden namun sekarang pasca reformasi tidak ada lagi lembaga tertinggi negara.

Dahulu mungkin kata "penghianat" itu ada, mengapa? karena pemilihan Presiden dan Wapres melalui lembaga perwakilan itulah peluang terjadinya lobi - lobi politik dan deal politik diantara mereka terjadi. Sebut saja jika seseorang mencalonkan diri maju sebagai Presiden  dan Wakil Presiden dan menurut rencana didukung oleh beberapa partai pengusung dan sudah komit dari awal agar anggotanya didalam Parlemen untuk satu suara memilih calon tersebut namun akibat lobi – lobi politik dan deal tertentu dalam proses demokrasi dalam sistem perwakilan itu maka ditengah jalan partai C sebagai bagian koalisi dapat membelok ke calon lain karena deal tertentu, ini sangat memungkinkan. Tetapi bagaimana sekarang?

Setelah pemilihan Presiden langsung dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat dimulai sejak tahun 2004 dan terakhir 2014 rakyatlah yang menentukkan. Bukan lagi orang perorang dari partai tertentu yang duduk disinggah sana. Rakyat yang memiliki kedaulatan untuk memilih para wakil rakyat yang duduk di eksekutif dan legislatif. Bagaimana bisa berkhianat jika rakyat sudah berkehendak? Saat ini UU Pemilupun tidak memperbolehkan bagi partai politik menarik dukungan dan pindah selama kontestasi Pilkada atau Pilpres itu masih berlangsung. Disinilah celah untuk berkhianat sangat sulit.

Calon Presidenlah yang sebenarnya menjadi “star” dalam kampanye. Seperti SBY tahun 2004 beliau bukanlah siapa – siapa dan Demokrat partai baru yang belum memiliki basis masa yang besar dan luas. Tetapi SBY membangun gaya dan karakternya tersendiri sebagai seorang yang humanis dan santun, masyarakat Indonesia akhirnya terpana dan jatuh hati.

Kampanye itu soal gaya dan pembawaan calon harus apa dan bagaimana serta bisa membuat narasi yang baik ketika kampanye berlangsung, calonlah yang harus bisa membaca situasi dan keadaan masyarakat Indonesia. Dan hal yang lebih utama, kita wajib belajar dari SBY, beliau selama mengikuti kontestasi Pilpres tidak pernah menjual isu yang sangat sensitif yang berhubungan dengan “SARA”. Saya kira beliau sudah tahu persis mahalnya menjaga persatuan dan kesatuan sebagai sebuah bangsa. Bangsa Indonesia ialah bangsa yang majemuk, sebuah aset yang berharga yang harus kita jaga dan para elit jaga. Janganlah mengoyak kebhinekaan dan persatuan kita hanya untuk kepentingan politik sesaat.

Jadi alangkah sangat menyedihkanya seorang SBY yang tengah menjaga istri tercinta di Singapore dituduh sebagai penghianat. Padahal kita tahu beliau selama Pilpres dan Pileg berlangsung masih dan tetap setia menjaga Ibu Ani istri tercinta di Singapura. Bagaimana hancur dan sedihnya perasaan beliau jika dituduh seperti ini? Teriring doa dari jauh semoga Ibunda Ani Yudhoyono kembali sembuh dan pulih serta dapat kembali ke tanah air. Untuk Pak SBY tetaplah tegar dan sabar menghadapi ujian ini. 

Terkait hasil sengketa Pemilu yang saat ini sedang berada di Mahkamah Konstitusi, kita wajib menunggu proses yang terjadi dan menghormati kelak apapun hasil putusan MK. Jika kita manusia beriman pasti akan percaya bahwa segala sesuatu sudah direncanakan oleh Allah SWT, Tuhan YME. Begitupulalah semua pemimpin di negara tercinta ini sebagai putera – puteri terbaik bangsa dari Soekarno hingga Jokowi, mereka semua pemimpin yang dipilih oleh Tuhan untuk memimpin sesuai dengan masa dan tantanganya. Bukankah setiap Pemimpin ada masanya? Dan setiap masa selalu ada pemimpinya? Pepatah itu benar adanya disitulah campur tangan Tuhan selalu ada.

Pilpres dan pileg telah usai,Semoga bulan suci Ramadhan dan Idul Fitri yang hampir tiba nanti dapat menjadi momentum untuk bangsa ini kembali bersatu ditengah polarisasi yang tengah terjadi.  Bukankah menjalin silaturahmi itu indah? Mari kita lakukan dari hati yang tulus dan suci.**

  • Partai Demokrat

Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.